29 Detik

cerpen blog silvafauziah

Part #1

Hari masih gelap tapi sorotan lampu dari mobil-mobil yang melintas sudah meramaikan jalanan aspal.

“Pagi… Terminal 3 ya Pak.”

*menghela nafas* Aku menatap jendela kaca, namun pikiranku jauh melayang ke kuah soto bening yang gurih, dengan suwiran ayam, tempe garit yang garing banget, sate telur puyuh… Panas, pedas, mantap. Sluuuurrrppp!

“Belum jam 5 tapi udah lumayan rame ya jalanan,” celetukku setelah khayalan soto di balik kaca buyar.

“Iya Mbak, soalnya hari Senin.” Sahut pengemudi taksi singkat sambil diselingi senyum ramah yang tersirat di raut mukanya, sisi kiri.

Aku meraih make up pouch yang ada di dalam tas, dan mulai berdandan. By the way, skill berdandan di jalan (maksudku di dalam kendaraan) nggak dimiliki semua wanita loh… Aku termasuk wanita terpilih yang bisa dandan lumayan rapi di dalam mobil bergerak dengan sedikit penerangan dari senter ponsel. Oh, tentunya tanpa pakai eyeliner. Jangankan di dalam mobil remang-remang, di depan meja rias pun aku nggak bisa pakai eyeliner rapi.

Sampai di Terminal 3 Ultimate Soekarno Hatta.

“Terima kasih ya Pak,” seraya menyodorkan uang ke pengemudi taksi.

Walaupun sudah dipulas make up supaya nampak segar, mataku masih terasa berat meski sudah tidur 5 jam. Pandanganku berkelana. Ada wanita paruh baya yang melintas, wangi dan rambutnya sudah tegak disasak. Bangun jam berapa ya kira-kira? Seorang bapak muda dengan sigap menggendong anaknya yang masih tidur, sementara istrinya melapor kepada petugas check in. Koper berwarna silver melintas, didorong seorang pemuda berbadan kurus, tinggi, pakai beanie hat…kuning? Banyak tempelan barcode penerbangan yang belum dilepas. Sampai bertumpuk-tumpuk, hampir memenuhi sisi koper. Pasti suka traveling!

Aku pandangi papan menu di sebuah coffee shop yang sebenarnya aku sudah berulang kali baca. Pun aku sudah tau pesananku tidak tertulis di papan menu itu.

“Silahkan pesanannya Kak,” sapa Mbak barista mungil yang sungguh cheerful.

Americano on the rock, pakai liquid cream 1 shot, simple syrup 2 pump ya.”

Aku mencari tempat duduk terdekat dan meletakkan 1 tote bag yang aku bawa ke salah satu kursi. Oh, dari tadi aku belum ngecek Whatsapp. Aku raih ponsel dalam handbag.

“Kak Jingga, americano on the rock!”

Sembari membaca sekilas rentetan chats di Whatsapp Group, aku berjalan menghampiri kopi pesananku. Langkahku terhenti, sepatuku bertemu kembarannya. Kenapa kalau ketemu orang pakai baju yang sama jadi keki tapi kalau ketemu orang pakai sneakers yang sama malah happy ya?

Kali ini bukan cuma langkahku yang terhenti. Jantungku juga terasa terhenti sesaat, disusul debaran yang begitu kencang. Lebih kencang dibanding saat melihat kakak kelas idola dribbling bola ke arahku (dan penonton lain di salah satu sisi lapangan), ataupun saat nggak sengaja ketemu mata pas lagi jalan ke ruang OSIS, 7 tahun lalu.

“Jingga?” sapa pria beralis tebal di hadapanku dengan tatapan mata yang familiar.

“Eh, Kak Rama… Mau ke mana?” Perlahan nafasku sudah mulai teratur walaupun pikiranku nggak.

“Mau ke Surabaya. Kamu?”

“Kayaknya kita bakalan satu pesawat.” Mencoba senyum biasa. “Aku ambil pesenanku dulu ya…”

“Okay, kalau gitu aku ke boarding room duluan ya.”

Berlalu gitu aja. Jingga, seriously? Jinggaaaaa!!! Suara hati ini menjerit, meratapi kesempatan emas yang sia-sia.

Masuk ke boarding room, aku tak menemukan sepatu itu lagi. Apa mungkin kebetulan akan berlanjut dengan ternyata kita bisa duduk bersebelahan? Ah, too good to be true… Kenyataannya aku tetap duduk di sisi jendela (as always), di sebelahku ada wanita berkemeja putih dengan outer rajut berwarna navy. Don’t even care about the world, dia langsung memejamkan mata setelah memakai sabuk pengamannya.

29 detik pertemuan singkat dua pasang sneakers putih.

silvafauziah

Relationship: Secrecy or Privacy?

secrecy privacy relationship silvafauziah blog

“Kok nggak pernah post foto pacar sih? Biar keliatan jomblo ya?”

“Nggak lah… pengen jaga privacy.”

Hmmm… yakin nih?

Ada yang relate atau pernah menyaksikan fenomena gitu nggak? Dari dulu udah paham sih yang namanya privacy, khususnya dalam hal relationship. Aku juga bukan tipe yang semuanya diumbar di social media, untuk hal apapun nggak cuma soal relationship. Tapi waktu baca instastory @catwomanizer tentang secrecy dan privacy ini, jadi mikir… Iya juga ya, ada beda yang signifikan walaupun output-nya nampak sama.

Mari kita lihat bedanya.

Screen Shot 2020-05-05 at 05.54.01

Kenapa harus dirahasiakan? Apa biar keliatan jomblo dan masih open buat yang lain? Kali aja ya kan… Siapa tau ada yang lebih oke? Nggak mau dilihat seseorang karena masih ngarep? Atau nggak direstui orang tua? Bisa aja karena masih terikat kontrak sama artist management nggak boleh pacaran? Pacarnya kriminal atau buron? Eh, atau pacarnya juga pasangan orang lain?

Screen Shot 2020-05-05 at 05.54.39

Yaa… once in while post something to tell others about the status is okay lah… Tapi nggak mau nge-share moment PDKT, bareng, berantem, patah hati, atau keseharian buat konsumsi orang-orang yang kepo? Nggak suka atau nggak siap dapat komentar dari orang-orang yang nggak perlu? Malas di-judge ini itu?

Jadi? Hehe… Think about it and tell yourself. 😉

silvafauziah

Kembalinya #31HariMenulis

Pink and Gold Artistic Fashion Influencer Youtube Thumbnail Set

Setelah 8 tahun berlalu, #31HariMenulis datang lagi. Eh, atau aku aja yang baru ikut lagi sejak 8 tahun itu? Sempat kaget sekaligus antusias tiba-tiba Bang Wiro muncul lagi di tahun 2020. Jadi Bang Wiro, icon penggagas #31HariMenulis, ini mengajak orang-orang untuk menulis blog setiap harinya selama bulan Mei ini. Sebelumnya di Mei 2012 aku sudah pernah ikutan. Tercapai 20 tulisan dari 31 hari, berarti aku absen 11 hari menulis. Tahun ini? Let’s see… Soalnya blogger yang satu ini jangankan menulis satu tulisan per hari. Satu tulisan per minggu bahkan per bulan juga nggak keturutan. *cry*

Kenapa sih konsisten menulis itu sulit (buat aku)? Padahal setiap hari banyak banget yang seliweran di kepala. Monolog sama diri sendiri juga sering banget. Jadi kalau salah satu fragmen aja dituangkan di tulisan, udah bisa jadi 500 kata paling nggak. Tapi justru karena kebanyakan mikir, I tend to hold back everytime. Aku belum pernah bisa benar-benar terbuka ke siapapun, even the closest ones. Tapi bukan juga berbohong ya… I hate lies, cheats, dan teman-temannya. Nah, dengan dituntut share tulisan tiap hari, mungkin jadi nggak ada banyak waktu untuk overthinking and holding back?

Kembali mengingat tahun 2012… Kalau bisa mengirim pesan untuk aku di tahun 2012, aku akan bilang: “Cherish every moments, either sweet or sorrow. You don’t really need many things. Focus on what makes you feel good, and go all out.”

Well, tulisan pertama di #31HariMenulis cuma bernada curhat. Gapapa ya sesekali? Dan kalau tiba-tiba nanti aku sendu berpuisi, jangan baper atau diketawain. :p

silvafauziah