Nasi Goreng Yang Chow

nasi goreng yang chow silvafauziah blog

Siapa yang nggak pernah makan nasi goreng? Salah satu World’s Best Foods dari Indonesia, barengan sama rendang dan sate. Selain mie instant dan telur dadar/ceplok, nasi goreng ini juga nampaknya makanan yang paling sering dimakan dengan alasan kepraktisan. Di Indonesia sendiri, ragam olahan nasi goreng bisa jadi ada puluhan… Atau seratus lebih?

Perihal nasi goreng, aku pribadi lebih suka yang diolah tanpa kecap manis. Kalau kata Sol***a dan beberapa resto menyebutnya Nasi Goreng Singapura. Tapi setelah ditelaah dan dirasa-rasa, yang jadi favorit lidahku itu Nasi Goreng Yang Chow. Kalau Nasi Goreng Singapura itu versi agak pedesnya atau kadang ada sedikit bumbu karinya. CMIIW. Nasi Goreng Yang Chow ini gurih, bukan pedas manis seperti Nasi Goreng Kampung/Jawa favorit suamiku. Nah, berhubung kemarin masakin nasi goreng buat anakku, aku bisa explore resep masakan sekaligus doktrin nasi goreng tanpa kecap manis. 😀

Ini resep Nasi Goreng Yang Chow ala Silva:

Bahan-bahan:

  • 1 porsi nasi putih (ukuran sepiring orang dewasa)
  • 3 siung bawang putih, cincang halus
  • 1/2 bawang bombay (ragu nih, ukurannya siung apa buah/butir?)
  • wortel potong dadu kecil
  • jagung pipil
  • sosis potong kecil-kecil
  • telur, masak orak arik terlebih dahulu (kalau aku dipisah, bukan dimasukkin pas bareng nasi)
  • sedikit garam, kaldu jamur (Totole is the best)
  • bumbu cair yang dicampur: saus tiram, kecap Inggris, kecap asin, masing-masing 1/2 sdt

Cara memasak:

  • Tumis bawang bombay dengan margarin/minyak, disusul bawang putih. Lalu masukkan sosis, tumis sampai sosis matang.
  • Tambahkan sedikit garam, kaldu jamur, dan bumbu cair yang sudah dicampur.
  • Masukkan sayuran yang sebelumnya sudah direbus terpisah, nasi, dan telur yang sudah diorak arik.
  • Aduk-aduk sampai agak kering, siap disajikan.
tenor
diambil dari tenor.com

silvafauziah

 

 

 

29 Detik

cerpen blog silvafauziah

Part #1

Hari masih gelap tapi sorotan lampu dari mobil-mobil yang melintas sudah meramaikan jalanan aspal.

“Pagi… Terminal 3 ya Pak.”

*menghela nafas* Aku menatap jendela kaca, namun pikiranku jauh melayang ke kuah soto bening yang gurih, dengan suwiran ayam, tempe garit yang garing banget, sate telur puyuh… Panas, pedas, mantap. Sluuuurrrppp!

“Belum jam 5 tapi udah lumayan rame ya jalanan,” celetukku setelah khayalan soto di balik kaca buyar.

“Iya Mbak, soalnya hari Senin.” Sahut pengemudi taksi singkat sambil diselingi senyum ramah yang tersirat di raut mukanya, sisi kiri.

Aku meraih make up pouch yang ada di dalam tas, dan mulai berdandan. By the way, skill berdandan di jalan (maksudku di dalam kendaraan) nggak dimiliki semua wanita loh… Aku termasuk wanita terpilih yang bisa dandan lumayan rapi di dalam mobil bergerak dengan sedikit penerangan dari senter ponsel. Oh, tentunya tanpa pakai eyeliner. Jangankan di dalam mobil remang-remang, di depan meja rias pun aku nggak bisa pakai eyeliner rapi.

Sampai di Terminal 3 Ultimate Soekarno Hatta.

“Terima kasih ya Pak,” seraya menyodorkan uang ke pengemudi taksi.

Walaupun sudah dipulas make up supaya nampak segar, mataku masih terasa berat meski sudah tidur 5 jam. Pandanganku berkelana. Ada wanita paruh baya yang melintas, wangi dan rambutnya sudah tegak disasak. Bangun jam berapa ya kira-kira? Seorang bapak muda dengan sigap menggendong anaknya yang masih tidur, sementara istrinya melapor kepada petugas check in. Koper berwarna silver melintas, didorong seorang pemuda berbadan kurus, tinggi, pakai beanie hat…kuning? Banyak tempelan barcode penerbangan yang belum dilepas. Sampai bertumpuk-tumpuk, hampir memenuhi sisi koper. Pasti suka traveling!

Aku pandangi papan menu di sebuah coffee shop yang sebenarnya aku sudah berulang kali baca. Pun aku sudah tau pesananku tidak tertulis di papan menu itu.

“Silahkan pesanannya Kak,” sapa Mbak barista mungil yang sungguh cheerful.

Americano on the rock, pakai liquid cream 1 shot, simple syrup 2 pump ya.”

Aku mencari tempat duduk terdekat dan meletakkan 1 tote bag yang aku bawa ke salah satu kursi. Oh, dari tadi aku belum ngecek Whatsapp. Aku raih ponsel dalam handbag.

“Kak Jingga, americano on the rock!”

Sembari membaca sekilas rentetan chats di Whatsapp Group, aku berjalan menghampiri kopi pesananku. Langkahku terhenti, sepatuku bertemu kembarannya. Kenapa kalau ketemu orang pakai baju yang sama jadi keki tapi kalau ketemu orang pakai sneakers yang sama malah happy ya?

Kali ini bukan cuma langkahku yang terhenti. Jantungku juga terasa terhenti sesaat, disusul debaran yang begitu kencang. Lebih kencang dibanding saat melihat kakak kelas idola dribbling bola ke arahku (dan penonton lain di salah satu sisi lapangan), ataupun saat nggak sengaja ketemu mata pas lagi jalan ke ruang OSIS, 7 tahun lalu.

“Jingga?” sapa pria beralis tebal di hadapanku dengan tatapan mata yang familiar.

“Eh, Kak Rama… Mau ke mana?” Perlahan nafasku sudah mulai teratur walaupun pikiranku nggak.

“Mau ke Surabaya. Kamu?”

“Kayaknya kita bakalan satu pesawat.” Mencoba senyum biasa. “Aku ambil pesenanku dulu ya…”

“Okay, kalau gitu aku ke boarding room duluan ya.”

Berlalu gitu aja. Jingga, seriously? Jinggaaaaa!!! Suara hati ini menjerit, meratapi kesempatan emas yang sia-sia.

Masuk ke boarding room, aku tak menemukan sepatu itu lagi. Apa mungkin kebetulan akan berlanjut dengan ternyata kita bisa duduk bersebelahan? Ah, too good to be true… Kenyataannya aku tetap duduk di sisi jendela (as always), di sebelahku ada wanita berkemeja putih dengan outer rajut berwarna navy. Don’t even care about the world, dia langsung memejamkan mata setelah memakai sabuk pengamannya.

29 detik pertemuan singkat dua pasang sneakers putih.

silvafauziah

#WHENMOMMIESTALK : Body Shaming yang Udah Lumrah

body shaming

Pernah nggak suatu ketika ketemu temen yang udah lama nggak ketemu terus sekalinya ketemu kalimat pertamanya setelah nama kita adalah “kok gendut banget sih sekarang?” atau “ya ampun kurus banget sih… stress ya?”. Pengen mendadak amnesia terus bilang “maaf, kamu siapa ya?” nggak sih? Nah, perilaku mengkritisi atau mengomentari seputar ukuran atau berat badan seseorang yang berpotensi “menyakiti” atau menyinggung perasaan seperti itu disebut body shaming. Apakah seputar gendut sama kurus aja? Nggak juga, komentar pedih soal tinggi atau pendek juga masuk kategori body shaming. Tapi perilaku kayak gitu masih sering banget saya alami, dengar, atau baca. Makanya sampe saya bilang lumrah (bahasa Jawa) atau jadi sesuatu yang biasa terjadi, so pada nggak merasa bersalah. Wajar aja gitu… Continue reading “#WHENMOMMIESTALK : Body Shaming yang Udah Lumrah”

#WHENMOMMIESTALK : Ibu Juga Manusia Biasa

mom's life

Peran ganda yang saya jalani bikin saya harus punya energi yang berlipat-lipat. Jauh dari suami membuat saya harus handle urusan rumah sendiri. Juga dalam hal mengurus anak, walaupun tetep dibantu asisten. Belum lagi saya juga bekerja. Pekerjaan saya? Buanyaaak… Perjalanan ke kantor pun yang sangat melelahkan dan menguras emosi. Sampe dua temen kantor satu tim udah kena tipes dan ada yang tumbang sakit juga. Tinggal saya aja ni yang (alhamdulillah) belum tumbang sampe masuk rumah sakit. Semoga sih jangan ya… Soalnya kan jadi ibu itu nggak boleh sakit! Sering denger nggak kalimat itu? Tapi memang kalau ibu sakit, udah nggak asik deh… Saya ngalamin pas masih tinggal sama orang tua, kalau pas ibu sakit rasanya nggak enak banget. Makan terlantar, nggak ada yang ingetin ini itu, dll. Tapi yang namanya ibu kan juga manusia biasa kayak yang lainnya. *curhat alert* hehe Continue reading “#WHENMOMMIESTALK : Ibu Juga Manusia Biasa”

#WHENMOMMIESTALK : Perayaan Ulang Tahun

#whenmommiestalk perayaan ulang tahunSiapa yang di sini rutin merayakan ulang tahun anak maupun ulang tahun sendiri? Atau justru nggak pernah ngerayain yang namanya ulang tahun? Pasti ada di antara kita yang menganggap hari ulang tahun adalah moment yang sangat penting dan spesial. Ada juga yang cukup inget aja hari ulang tahun seseorang, lalu mengucapkan selamat dan memanjatkan doa, selesai. Atau bahkan ada juga yang nggak inget hari ulang tahunnya, terus berlalu gitu aja. Sebenernya mau kita tipe yang mana, sah-sah aja… Akan beda ceritanya kalau kita berbeda pandangan soal ulang tahun ini sama pasangan. Nah lho… Jadinya di keluarga bakal ada perayaan ulang tahun nggak? Continue reading “#WHENMOMMIESTALK : Perayaan Ulang Tahun”