Generasi Sumbu Kompor yang Overreacting

Sebenernya saya udah berniat nggak mau publish statement apalagi blog post soal hal-hal terkait aksi 411 maupun aksi 212. Kenapa? Karena banyak netizen yang termasuk dalam generasi sumbu kompor. Ada istilah baru di teori generasi? Oh nggak kok, itu istilah spontan saya aja. Abisnya yang saya maksud generasi sumbu kompor ini nggak kenal umur. Bisa dari generasi baby boomers sampe generasi Z. Lalu apa sih yang dimaksud dengan generasi sumbu kompor? Adalah orang-orang yang sumbunya pendek macam sumbu kompor. Gampang disulut api, jadinya overreacting dalam menanggapi sesuatu atau bahkan banyak hal. Jujur, saya lelah ngelus dada, jadi saya beranikan diri aja publish di sini. Continue reading “Generasi Sumbu Kompor yang Overreacting”

Prostitusi di Sekitar Kita

judul-prostitusiKalau mengutip istilah prostitusi dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), artinya:

prostitusi/pros·ti·tu·si/n pertukaran hubungan seksual dengan uang atau hadiah sebagai suatu transaksi perdagangan; pelacuran

Kalau mengacu ke arti prostitusi tersebut, nggak cuma tempat pelacuran atau lokalisasi yang bisa jadi arena prostitusi. Bisa di mana aja sepanjang ada hubungan seksual dan transaksi uang/hadiah. Dan di era canggih seperti sekarang ini, bahkan prostitusi bukan cuma di dunia nyata, tapi juga di dunia maya. Ngeri kan? Itulah kenapa saya bilang kalau prostitusi ada di sekitar kita. Continue reading “Prostitusi di Sekitar Kita”

Toserba dan Minimarket

Sore ini, di sebuah warung toserba (toko serba ada) di Kalimantan Selatan… “Bu, beli tissue..”
“Tissue apa? Tissue makan kah?”
“Bukan… Emm.. Tissue yang ukuran kecil-kecil..” *gagap*
“Oo…tissue wajah.. Coba ambilkan di situ na..” perintahnya kepada pekerja tokonya.
Walaupun sebenernya berharap mendapatkan tissue yang ukuran travel pack, tapi berhubung nampaknya adanya yang kemasan kecil-kecil di toserba itu, ya saya gampangnya menyebut tissue wajah yang ukuran kecil saja. 😀

Pernah juga nggak gagap begitu waktu mau membeli sesuatu di toserba atau warung? Saya sendiri sudah sangat jarang beli-beli barang di toserba. Sejak tinggal jauh dari orang tua, jadi terbiasa beli kebutuhan pribadi di supermarket atau minimarket. Kalau beli dalam jumlah banyak, misal belanja bulanan, pasti ke supermarket. Gampang aksesnya, nyaman belanjanya, pilih-pilih barangnya santai sambil lihat-lihat barang yang tertata di deretan rak-rak, dan yang pasti kita tau betul harga tiap barangnya. Pas, tidak perlu tawar-menawar. Kalau untuk keperluan yang mendesak, tinggal cari minimarket terdekat. Hampir di setiap ruas jalan mudah ditemui minimarket. Fenomena inilah yang sekarang sering saya temui. Dan mungkin banyak orang lainnya juga.

Dulu sebelum menjamurnya minimarket bebagai macam rupa, kalau ada keperluan mendadak yang sifatnya eceran, toserba atau warung masih populer. Tapi seiring bergesernya preferensi orang dalam berbelanja, dan mungkin kebutuhan akan experience yang beda dalam berbelanja, minimarket semakin menjamur menjawab peluang tersebut. Bahkan di satu ruas jalan bisa kita temukan dua minimarket sekaligus. Tidak berjarak, namun berhadapan atau sebelahan. Luar biasa!

Tidak hanya sebagai peritel yang menggeser peran toserba, minimarket sekarang juga bisa jadi tempat tongkrongan. Sebut saja Circle K, 7 Eleven, Lawson, yang menyediakan meja dan kursi bagi pengunjungnya yang akan menyantap makanan siap sajinya atau hanya sekedar cemilan saja. Experience mengunjungi minimarket menjadi berbeda. Layanan dan pilihan makanan siap sajinya bisa dijadikan opsi tempat makan. Bukan sekedar toko tempat kita membeli kebutuhan pribadi. Mungkin malah bisa jadi barometer pergaulan anak-anak jaman sekarang… 😀 #tsaaah

Lalu apa kabar toserba dan warung-warung terdekat rumah? Ya masih ada, tapi ya gitu-gitu aja. Tetap ada juga yang masih membutuhkan keberadaan mereka. Buat orang yang enggan beranjak lebih jauh lagi untuk ke minimarket atau mau yang lebih simple ke warung pake baju tidur nggak perlu sisiran tapi nggak pake malu, ya masih ada juga. Itu kalau toserba atau warungnya deket rumah.. Tapi kalau jauh kok ya nampaknya jarang ya yang bela-belain ke warung. Berarti daya jangkau atau potensi marketsharenya sempit dong?

Apakah hanya sebatas tentang pergeseran selera atau gaya hidup? Nggak juga sih.. Kadang memang barang yang dijajakan juga cukup berbeda. Jangankan antara toserba dan minimarket, antara minimarket satu dan linnya juga bisa berbeda. Tergantung segmentasi dan positioning peritel itu kali ya…

Apakah nantinya peritel lokal a.k.a. Toserba itu akan menggeliat ikut meramaikan persaingan minimarket dengan label minimarket lokal? Hmmm.. Menarik. 🙂 Jadi mau ke toserba atau minimarket?
Ya tergantung kebutuhan aja sih kalau saya… Asal barang yang dicari ada, makin dekat makin bagus. #mager

Regards,

Silva Gustani Fauziah

#31HariMenulis

Berawal dari melihat tweet Awe dan hashtag #31HariMenulis yang berkeliaran di timeline, saya kemudian tertarik untuk “memecut” diri saya sendiri untuk menulis. PECUT AKU PECUT AKU PECUT AKU!! #lospokus

Iya, karena sebenernya saya sudah punya blog sejak jaman kuliah dulu. *eh nggak dulu-dulu banget sih… baru kemaren-kemaren kok ;)* Tapi postingan blog saya itu bisa dihitung pake jari deh… Ibarat pepatah semangat garang tapi daya kurang, begitulah kira-kira. Nah, dengan ikutan #31HariMenulis bersama teman-teman dan alumni Komunikasi UGM lainnya, saya bertekad untuk giad menulis. Karena apa? Karena ada denda Rp 20.000,- setiap bolong nulis sehari. Bayangkan kalau bolong 20 hari : 20 x Rp 20.000,- = Rp 400.000,- bok!

Well, hereby I accept my own challenge! 🙂