Bahagia Tanpa Syarat

bahagia tanpa syarat silvafauziah blog

Akhirnya aku bisa melakukan salah satu bucket list aku dalam motherhood stuffs, nganter dan nungguin anak sekolah/les. Jam menjelang sore itu agak krusial. Pilihannya antara anak tidur siang dulu biar nggak ngantuk pas les, tapi resikonya bakal buru-buru kalau jam bangun meleset. Atau anak nggak pake tidur siang biar lebih gampang mengkondisikan berangkat les, tapi resikonya kalau anak ngantuk di kelas. Aku hampir selalu pilih opsi yang pertama.

Suatu hari aku menemukan kafe mungil yang sederhana namun menarik dan terasa hangat di gedung tempat les anakku. Sejak saat itu, kafe mungil yang berwarna dominan putih itu jadi tempat singgah aku sementara menunggu sesi les anakku selesai. Nggak banyak yang bisa aku lakukan selama kurang lebih satu jam. Matcha latte dan (kadang) carrot cake jadi teman favoritku di sana. Oh, barista dan server-nya juga cekatan dan murah senyum.

Setiap selesai kelas, Aqila selalu minta extra time untuk main-main dulu di mini playroom sebelum pulang. Di sana dia kadang bermain dengan teman sekelasnya atau teman kelas lain yang sedang menunggu masuk kelas. Jadi anak baru di lingkungan yang bahasanya bukan bahasa ibu itu nggak mudah. Tapi dengan kemampuan bahasa yang dia punya, Aqila termasuk percaya diri untuk menyapa, ngajak ngobrol, ngajak main teman lainnya. Kadang gayung bersambut tapi pernah juga cuma dilirik lalu diacuhkan. Nggak kapok, tetep dia senyam senyum mencoba ngajak ngobrol.

“Kalau kamu lagi ngajak ngobrol atau ngajak main teman, tapi terus dicuekin… perasaan kamu gimana?” tanya simbok yang patah hati, sedikit kecewa, dan hampir mimbik-mimbik (susah ini dijelaskan ke bahasa Indonesia yang baku).

“Ya nggak apa-apa.” Jawab anak umur 4 tahun dengan ceria.

Simbok membatin. “Kalau aku kok udah baik-baikin orang tapi dicuekin, jadi pengen diem aja besok-besok lagi.”

“Kamu nggak sedih?” memastikan perasaan si anak.

“Nggak.”

“Yaudah kalau gitu… Gapapa ya, kalau kakaknya cuekin kamu dan sibuk sendiri, mungkin dia lagi pengen main sendiri atau lagi nggak mood ngomong. Memang nggak perlu sedih… kan yang penting kamu happy karena nyapa teman-teman, bukan karena minta respon teman.” Simbok mencoba menata hati dan ngasih wejangan yang sebenarnya untuk dirinya sendiri.

Di lain kesempatan, saat sedang main dandan-dandanan di depan cermin.

“Aqila, kalau ada yang bisa kamu jelek, kamu gimana?” tanyaku penasaran sama responnya.

“Ya Aqila tanya gitu, jeleknya di mana. Apa Aqila sisir rambut lagi biar rapi, biar cantik…” jawabnya penuh senyum.

“Kalau tetep dibilang jelek?” simbok insecure kurang kerjaan.

“Ya nggak apa-apa, Aqila sisiran lagi aja terus…”

Duh… Dadaku menciut. Ternyata simbok masih perlu belajar, kalau:

  • kita berbuat baik karena kita ingin berbuat baik (untuk diri kita sendiri), nggak terpengaruh respon orang lain
  • kita dikritik, respon pertama bukan defensive atau denial, tapi koreksi/evaluasi diri.

Tetap tumbuh jadi anak yang bahagia dan membahagiakan ya, Nduk…

silvafauziah

#WHENMOMMIESTALK : Ibu VS Support System dalam Pengasuhan Anak

pengasuhan anakDalam segmen #WHENMOMMIESTALK kali ini, saya dan Ayu mau ngomongin soal support system kami dalam pengasuhan anak. Berhubung kami berdua bekerja di luar rumah, kami memang sangat membutuhkan bantuan orang lain dalam menjaga dan mengasuh anak sehari-hari. Bedanya, support system Ayu adalah orang tua/mertua, sedangkan saya dibantu oleh pengasuh. Nggak sepenuhnya pengasuh sih, mertua saya juga monitor dan back up karena kami tinggal berdekatan. Cara ibu, kakek/nenek, atau pengasuh yang notabene bukan keluarga adalah wajar kalau ada perbedaan sudut pandang atau cara dalam mengasuh anak. Ini adalah challenge bagi orang tua bagaimana menjaga supaya nilai-nilai pengasuhan anak yang diinginkan bisa diterapkan walaupun ada perbedaan pandangan antara orang tua dengan support system-nya. Continue reading “#WHENMOMMIESTALK : Ibu VS Support System dalam Pengasuhan Anak”

#WHENMOMMIESTALK : Realita Jadi Ibu

realita-jadi-ibu

Pada umumnya, setiap wanita akan mengalami fase menikah, jadi istri, lalu menjadi ibu. Ibu seperti apa sih yang ada di bayangan kalian? Apakah ibu yang di rumah dan mengurus rumah tangga sendiri? Atau ibu yang bekerja di luar rumah? Atau pokoknya pengen seperti┬áseperti ibu kalian? Apapun itu, yang pasti jadi seorang ibu nggak cuma soal punya anak dan mengurus pekerjaan domestik rumah tangga. Lebih dari itu. Nggak percaya? Coba deh tanyakan ke diri sendiri, bagaimana kehidupan kita kalau nggak ada ibu? Continue reading “#WHENMOMMIESTALK : Realita Jadi Ibu”

#WHENMOMMIESTALK : Memilih Mainan Anak

memilih-mainan-anak

Di segmen #WHENMOMMIESTALK kali ini, saya sama Ayu mau ngomongin soal mainan anak. Siapa sih orang tua yang nggak suka beliin mainan buat anaknya? At least, pasti pernah lah yaa beliin anak mainan. Buat saya, mainan anak itu penting banget. Karena anak-anak usia dini belajar dengan cara bermain. Tapi apa berarti kita harus memberikan mainan yang banyak supaya anak bisa eksplorasi dan belajar lebih banyak? Continue reading “#WHENMOMMIESTALK : Memilih Mainan Anak”

#WHENMOMMIESTALK : Mengajari Anak tentang Toleransi

whenmommiestalk-toleransiMumpung lagi anget-angetnya topik toleransi, Ayu ngajakin nulis soal toleransi di segmen #WHENMOMMIESTALK kali ini. Toleransi apa sih yang dimaksud? Kalau mengutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), toleransi adalah suatu sikap toleran yang artinya bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri.

Tepat hari ini Aqila usianya 17 bulan. Hmm, mungkin terdengar terlalu dini ya ngajarin tentang toleransi ke anak 17 bulan? Tapi nggak ada salahnya juga. Walaupun anak belum paham apa itu sebenernya toleransi, paling nggak kita bisa ngajarin mereka lewat cara-cara sederhana yang bisa mereka mengerti dan ikuti. Anak kecil itu pinter kok. Kita sadari atau nggak, mereka menyerap semua informasi yang ada di sekeliling mereka, disimpan, dan diproyeksikan dalam perilakunya ntah sekarang atau nanti. Continue reading “#WHENMOMMIESTALK : Mengajari Anak tentang Toleransi”