Takut Binatang

Rencana malam ini untuk pulang cepat gagal. Apalagi wacana nge-gym di kantor trus lanjut #LemburUnite. Ini semua gara-gara yang hobby olahraga lagi nggak masuk a.k.a cuti! πŸ˜€ *malah nyalahin orang lain*

Di tengah kekusutan malam, badan ini semacam mengeluarkan energi cadangan untuk berteriak ketika melihat seekor kecoa di kamar mandi. Aaaaaakkkkkk!! Mana kecoanya gesit banget…:| Saya sempet bingung mau gimana. Kecoanya harus dimatiin dulu, diambil pake tissue, atau apa saya sempat blank seketika. *atur napas* Karena nggak sanggup menghadapi kelincahan kecoa, dan nggak mau kalau kecoanya sampe keluar pintu kamar mandi yang mana artinya masuk kamar, akhirnya saya mengumpulkan keberanian buat matiin si kecoa lalu membuangnya ke closet. Hwaaaa… Lega maksimal deh abis itu. \(Β΄β–½`)/

Apakah saya tegolong phobia kecoa? Entahlah… Pada dasarnya saya tidak begitu menyukai binatang, khususnya untuk dipelihara. Mungkin kalau hanya dilihat saja saya masih bisa menikmati. Jadi lebih tepatnya saya takut hampir ke semua binatang. Tapi nggak sampe Zoophobia sih.. Kalaupun disuruh melihara ikan, saya masih mau. Pokoknya asal hewan tersebut nggak bakal nerkam saya atau memiliki jangkauan gerak yang terbatas. Misal, kalau ikan udah pasti di dalam aquarium. Nggak mungkin juga ya kalau ikannya lagi lasak terus jadi bisa pindah aquariumnya. #horor

Ketakutan saya terhadap binatang tidak berhenti pada kecoa. Saya juga sangat takut sekali hewan berbulu dan bertaring seperti anjing. Jangankan anjing lari, anjing menggonggong aja udah bisa bikin saya lari tunggang langgang. Pernah suatu ketika, awal-awal saya kuliah di Jogja… Dekat rumah kost saya banyak anjing. Kebetulan mungkin tetangga kost suka banget melihara anjing. Tetooott… *merasa terjebak*

Sampai pada suatu saat saya dan teman saya berencana membeli air mineral dengan mengendarai sepeda motor. Pada saat keluar gang, sang anjing yang melihat kami lewat langsung menggonggong keras. Bukan satu, tapi dua! Eh, atau tiga ya.. Pokoknya lebih dari satu. Kami panik tapi tetap melaju. Namun justru anjingnya mengejar kami daaan… Kami menabrak tumpukan balok batu di ujung gang. Akibat kejadian itu kaki kanan saya punya kenangan lima jahitan. Bukan karena digigit anjing tapi karena menabrak tumpukan balok batu itu… Masih ada bekas jahitannya sampai sekarang. Tapi tenang, nggak berencana saya upload fotonya di sini. :p

Pengalaman lain soal ketakutan saya terhadap binatang… Waktu saya Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Bantul, Yogyakarta. Kebetulan rumah penduduk yang saya tinggali memiliki kolam ikan. Ada ikan lele, nila, bawal, enak deh.. Bisa sering-sering santap ikan dan makan enak. Suatu sore saya diajak ikut mancing bersama si ibu ‘pondokan’. Tidak ada yang aneh sampai saat umpan saya dimakan ikan. Hwaaa…pancing saya berasa ditarik-tarik. Nampak ada ikan nila memakan umpan saya. Lalu sayapun menaikkan kailnya, ikan nampak tergelepak, tergantung di pancing yang sudah saya angkat dari air. Mendadak terjadi keheningan… Ini gimana saya ngelepasin ikannyaaa? Saya takut megang ikan hidup! Saking paniknya dan nggak nemu ide harus diapain ikannya, akhirnya saya kembalikan lagi saja ikannya ke kolam, bersamaan dengan pancingnya. #lhaaaah *tepok jidat | jidat ibu ‘pondokan’* #eh

Ya ya ya… Cukup sudah. Jangan beri saya binatang hidup. Saya tidak benci binatang dan bukan berarti tidak sayang binatang. Tapi demi kemaslahatan saya dan binatang-binatang itu, nampaknya kami memang harus jaga jarak. πŸ˜€

Uji Ketahanan Emosi

Belakangan saya disibukkan dengan project di kantor yang cukup menguras tenaga, pikiran, dan yang paling penting adalah emosi. Kenapa? Ya namanya juga bekerja di industri jasa yang sifatnya melayani kebutuhan transaksional khalayak ramai, harus berhadapan juga dengan beragam kebutuhan dan karakteristik banyak orang. Kebetulan untuk project ini saya ter-expose langsung. Semacam jadi contact person-nya contact center. Nah lho… #kusut

Sebagai contact person-nya contact center, tidak cuma berhubungan langsung dengan orang per orang (user) yang terlibat langsung dengan project ini, namun juga call center atau contact center lainnya pun mengeskalasikan hal-hal yang sudah tidak bisa ditangani oleh mereka. Bayangkan saja saya hampir tidak pernah berhenti menerima telepon, membalas pesan, email, bahkan hanya untuk 5 menit pun. Kecuali waktu saya sengajakan untuk ditinggal makan. Istirahat dulu lah.. Saya juga manusia biasa. :p

Menghadapi pertanyaan yang bertubi-tubi saja sudah melatih kesabaran, apalagi jika harus melayani keluhan ataupun user yang kita jelaskan susah paham apa yang kita jelaskan. Sayangnya mental saya tidak dipersiapkan untuk menjadi call center agent, karena sebenarnya bukan itu job description saya. Alhasil, kadang emosi saya juga muncul dan kesan galaknya pun muncul. Ya, memang basic-nya saya bukan orang yang kalau istilah Jawa-nya “dowo ususe” alias penyabar.

Sadar seberapapun tidak sabarnya saya tapi tetap harus ramah dan mencoba menyelesaikan setiap permasalahan, saya pun harus pandai-pandai menyiasati diri untuk mengendalikan emosi. Mungkin kadar dan cara mengendalikan emosi seseorang berbeda dengan yang lainnya, namun saya akan sedikit share bagaimana saya mengendalikan emosi saya sehingga saya tidak berubah menjadi Hulk. :p
1. Pastikan mood kita tetap terjaga. Kalau udah ngomongin soal mood, ya emang personal banget. Mood yang kita bawa dari rumah dan suasana di kantor sangat berpengaruh. Jadi pastikan mood kita baik dulu. Caranya? Ya setiap orang pasti memiliki cara masing-masing. Yang umum adalah berpikir positif atau memikirkan hal-hal yang menyenangkan.
2. Sediakan sesajen, terutama air putih. Jika mood kita sedang kacau, daripada pikiran terkonsentrasi pada email terakhir yang tidak enak dibaca apalagi dibalas, alihkan konsentrasi kita sebagian pada makanan dan minuman. Setidaknya kita akan sedikit disibukkan dengan hal lain. Hehe.. Tapi tetap produktif dan solutif dong ya pastinya.. Yang perlu diwaspadai adalah makan sesajen yang tidak disadari ini akan berpotensi mengurangi pesona kita, kalau terus kita jadi makin gendut. :p
3. Sesekali tarik napas panjang dan merilekskan badan. Boleh lah kalau sudah sangat penat jangan angkat telepon atau balas email dulu. Kasihan gagang teleponnya kalau sampe kemakan atau mungkin HPnya jadi ketelen gara-gara saking tidak bisanya menahan emosi. Bersandar di kursi, peluk bantal (kebetulan memang saya punya 2 bantal duduk), tarik napas panjang, dan buang.. Buang napas ya bukan bantalnya yang dibuang. Kalau perlu sambil memejamkan mata tapi jangan sampai ketiduran.
4. Selingi dengan hal-hal yang menyenangkan. Misal sesekali buka 9gag, bbm, twitter, atau hal lain yang bisa merefresh mood kita. Kalau mengerjai teman sebelah itu menyenangkan buat kita, lakukanlah. #loh
5. Buat yang muslim, bisa sih break dulu di waktu sholat. Ambil wudlu dan sholat biar emosi mereda. Agak dilamain sholatnya juga boleh, itung-itung biar menjauh dulu sama alat komunikasi yang tega membombardir kita seharian.
6. Rasa optimisme bahwa project akan segera berakhir lumayan membantu juga agar kita tidak cepat drop semangatnya. Ya setidaknya ada harapan lah kalau habis gelap terbitlah terang. πŸ˜€

Ya begitulah kira-kira beberapa yang telah saya lakukan demi menjaga kestabilan emosi dalam rangka menghadapi hajat hidup orang banyak. Kalau call center agent beneran sih biasanya punya nama ‘siar’ nya ya.. Bukan menggunakan nama asli. Sedangkan saya bertindak atas nama saya sendiri, jadi harus jaga reputasi pribadi juga selain reputasi instansi. Jadi ya…make it fun. Kalau perlu yang nelpon dibecandain aja sekali-sekali. Apalagi kalau lawan bicara ramah dan suaranya enak didengar. Hehe… Tapi jangan tertipu suara ya.. Walapun terdengar suaranya berat/nge-bass nan seksi, bisa jadi ternyata dia perempuan. Soalnya saya pernah diprotes juga manggil “pak” ke seorang ibu-ibu. Waspadalah! πŸ˜€

Mitos Mangga dan Jerawat

Jerawat mungkin sudah menjadi masalah kulit bagi banyak orang, terutama bagi yang memiliki wajah cenderung berminyak dan tidak rajin membersihkan muka (baca : seperti saya). :p

Hal-hal terkait penyebab jerawat bisa jadi sudah seperti pengetahuan umum yang diketahui banyak orang. Banyak orang sudah tau bahwa sekresi minyak yang belebih, kotoran yang tersumbat di pori-pori, paparan sinar matahari dan infeksi kondisi lingkungan sekitar, serta faktor hormonal dapat memicu timbulnya jerawat. Bagi wanita, kosmetik yang dipakai juga bisa menjadi salah satu pemicu jerawat paling krusial. Cara pencegahannya pun sudah banyak orang tau. Rajin membersihkan wajah, kurangi makanan berminyak dan berlemak, kurangi stress, serta tentunya memakai obat jerawat yang sesuai dengan kondisi kulit masing-masing.

Dari sekian cerita-cerita mengenai jerawat, pernah denger nggak kalau buah mangga bisa memicu atau memperburuk kondisi jerawat? Kalau saya, sudah pernah. Pada saat saya duduk di bangku kuliah, saya sempat berobat ke dokter kecantikan (bukan dokter spesialis kulit namun dokter umum yang mengambil kelas kecantikan) dikarenakan wajah saya yang berjerawat. Satu hal yang paling saya ingat waktu itu adalah ucapan dokter tersebut “kurangi makan mangga ya… soalnya mangga bisa memicu jerawat” Nah lho…. padahal saya suka mangga. Apalagi mangga yang manis. Senyuman manis dari orang yang manis juga suka. #eh #lospokus

Gara-gara pernyataan dokter itulah, saya sempat selama setahun lebih sama sekali tidak makan mangga. Baik itu buah mangga atau olahan apapun yang rasa mangga, bahkan permen rasa mangga pun tidak. Setengah mati nahan biar nggak makan mangga saking pengennya muka bersih dari jerawat. Suatu ketika saya juga sempat minta pendapat dari salah satu teman dekat saya, bahwa katanya memang pernyataan dokter itu ada benarnya… Bahkan teman saya itu menambahkan bahwa mangga membuat bekas jerawat susah hilang. Resmi sudahlah waktu itu saya pantang makan mangga.

Sampai pada suatu saat saya merasa “bodo’ ah nggak makan mangga juga tetep jerawatan” hahahaha TARAAAA… Saya mulai makan mangga lagi. Buah mangga, juice mangga, puding mangga, semuanya. Nggak ada lagi pantang-pantang makan mangga. Soal jerawat saya sudah berserah diri pada Yang Kuasa saja. #drama Apakah setelah itu jerawat saya makin parah? ternyata tidak makin parah, tapi justru….. sama aja sih nggak ada beda. #antiklimaks Jadi yaudah lah ya makan mangga aja kalau begitu. :p

Waktu demi waktu saya lewati, akhirnya sampai juga pada masa-masa saya memiliki muka bersih dari jerawat berkat dukungan dokter spesialis kulit terpercaya meski tanpa mengubah pola makan saya yang amburadul. Hanya lebih rajin bersihin muka aja.

saya yang tengah; saat di Jeeva Klui hotel Senggigi, Lombok

Nampak lumayan bersih kan muka saya di foto itu? Kan kan kan?? *ngancem* Nah saat ini mulai lagi deh karena nggak konsisten ngerawat mukanya dan penyakit males bersihin mukanya akut, jadilah sekarang saya berjerawat lagi. Jerawat-jerawat ini mengingatkan saya soal mitos mangga yang sempat saya percaya waktu kuliah dulu. Namun ternyata dari hasil browsing sana-sini soal mangga dan jerawat, justru saya menemukan dua penyataan yang kontradiktif. Memang ada sumber yang menyatakan bahwa mangga menjadi salah satu buah yang memicu timbulnya jerawat. Tapi justru banyak di sumber lainnya yang menyatakan sebaliknya, bahwa mangga dapat mencegah jerawat karena mengandung beta-karoten danΒ anthocyanidin yang dapat membantu memperlancar peredaran darah serta mengurangi darah kotor penyebab timbulnya jerawat. Zat apa itu saya juga nggak paham juga sih sebenernya. Makin bingung deh jadinya… Mungkin di pertemuan berikutnya dengan dokter spesialis kulit, saya akan bertanya mengenai pernyataan mana yang benar.

Jadi mengenai mitos bahwa mangga bisa memicu jerawat, saya sudah nggak parno lagi. Yang penting disiplin dan teratur membersihkan muka aja deh… Sama saya juga (bercita-cita) menggalakkan banyak minum air putih untuk detoksifikasi dan olahraga rutin biar lebih bugar plus mengurangi stress. Lesson learned : jangan sampai kecantikan mengganggu makanan favoritmu. Yay! Tetap makan dan tetap bersinar! πŸ˜€

 

Balik Kampung

Balik kampung ini bukan di balik sebuah kampung tapi kembali lagi jadi orang kampung ya.. Not to mention orang kampung baik atau buruk, tapi topik pulang kampung masih anget-angetnya gara-gara long weekend. Balik kampung tentunya adalah versi pulang kampungnya bahasa Jawa, terutama kampung saya berasal. Tanpa harus dirunut dari tempat saya dilahirkan sampai dibesarkan, mari kita sepakati bersama bahwa saya orang Jawa dan kampung saya di Kebumen. #loh #NgapakUnite

Suatu hari, eh lumayan sering sih, teman saya (baca : banyak teman saya) berkomentar “Kamu kok medhok (istilah untuk aksen Jawa yang kental-red) banget sih? :)) ”
Perasaan saya sudah tinggal di Jakarta lebih dari 2 tahun. Tapi ternyata nature-nya medhok/ngapak ya tetep aja keliatan. Ditambah lagi teman-teman kantor di group saya banyak yang dari Jawa juga ntah Jawa Tengah ataupun Jawa Timur. Jadilah ngantor di Jakarta ini serasa kerja di kantor kabupaten Kebumen. Ya gimana medhok-ku bakal ilang cobaaaa… Π©(ΒΊΠ”ΒΊΡ‰)

Hari ini, untuk meluapkan kepenatan kerjaan yang bikin meja kantor acak-acakan, saya dan mba Ressa si teman satu kubikel yang asli Jogja mengalihkan pilihan bahasa ke bahasa Jawa “ngapak”.

Ibarat diskusi mengenai kontroversi konser Lady Gaga di televisi sore ini, mungkin akan jadi seperti ini… Presenter : “Menurutmu kepriwe nek Lady Gaga ora sida konser nang Jakarta?”
Kontra Lady Gaga : “Ya Lady Gaga pancene ora patut ditonton lah.. Lha wong ndeleng video klip-pe be wis kaya’ kuwe.. Getih-getihan, klambine ora nggenah mbarang pating pecotot nganah ngeneh. Nek cah saiki pada nontone penyanyi luar kabeh ya melas penyanyi lokal. Mengko lha sinden pada ora bisa mentas nyanyi maning”
Pro Lady Gaga : “Ya nangapa wingi konser Katy Perry ulih deneng saiki Lady Gaga ora ulih? Nek masalah ngregani karya lokal ya mesti ngregani lah.. Tapi kan ora terus ora ulih nonton konser penyanyi luar. Nek klambine pating pecotot sih penyanyi lokal be akeh.. Janjane mesti ana alasan liyane lah kenapa ora ulih. Paling ya ana politik-politike mesti.”

*nahan supaya masih sanggup nerusin*

Ya begitulah kira-kira yang dimaksud Jawa “ngapak”. Lebih mutakhir kalau mendengar sih daripada menulis :))
Buat yang bukan orang Jawa, mungkin mengenal bahasa “ngapak” ini dari film jaman dulu, salah satu tokoh di film Tuyul & Mba Yul..”Gagal maning gagal maning Son..”
Kalimat yang selelu muncul di penghujung episode, tiap kali duo tuyul gagal menangkap si Unyil. :))

Karena mungkin terdengar lucu bagi yang awam, bahasa Jawa “ngapak” ini sering dijadikan lelucon pada acara komedi. Bahkan seringkali sengaja disisipkan salah satu tokoh dengan aksen “ngapak” yang kuat pada tayangan/sketsa komedi. Iparto Gombong salah satu komedian yang populer dengan identitas ngapaknya itu. Ya Gombong itu bagian dari Kebumen juga. πŸ˜€
Kalau buat saya dan beberapa teman saya, bicara dengan bahasa Jawa “ngapak” cukup efektif untuk melampiaskan emosi. Lebih maksimal gitu.. Dan habis itu ketawa-ketawa bareng, geli dengernya sendiri. Haha… Cobalah! πŸ˜€

Menua di Usia Muda

Umur berapa sih yang bisa dikategorikan udah tua? 30? 40? 50? 60?
Ya ya ya… Umur saya masih jauh dari angka-angka itu sih.. Tapi kenapa oh kenapa saya merasa sangat menua belakangan ini. Kerjaan saya membuat saya banyak duduk di ruangan ber-AC. Efeknya jarang keringetan, jarang haus, jarang minum, padahal justru kebutuhan akan air makin tinggi. Botol minum ukuran 600ml yang penuh pagi hari, sorenya belum tentu habis. Parah.

Tidak berhenti di air minum. Makanan yang masuk di tubuh saya juga membahayakan. Hidup sebagai anak kost membuat nutrisi makanan acak-acakan. Minim sayur, jarang buah, makan tidak teratur, dan karnivora sejati. Kolesterol di mana-mana. Lemak memang enak. Makanan berbahaya memang menggoda. Aaaaakkkkkk *tutup mata* Ini yang membuat saya menunda-nunda cek darah. Teman makan siang saya yang seumuran dan kurus sudah terdeteksi kolesterol tinggi, di atas 200. Siapa bilang kurus tidak berpotensi kolesterol? Doh… *tepok jidat*

Daaaannn.. Olahraga. Satu hal yang saya jarang sekali lakukan. Padahal di kantor ada fitness center, sudah member juga, bahkan ninggal sepatu+kaos di kantor, tetep aja nggak membuat saya rajin fitness. Kemarin sempet nyoba berpaling dari lift kantor ke tangga darurat untuk naik ke lantai 7. Itu saja saya sudah ngos-ngosan saudara saudara! Ampun deh…

Beberapa waktu yang lalu mendengar kabar ada teman kantor yang meninggal di usia muda karena stroke, serangan jantung.. Sedihnya… 😦
Sepertinya sudah saatnya saya aware dengan kesehatan saya demi bisa makan kambing sampai 50 tahun seperti direktur saya. *iket kepala*
Mulai sekarang saya akan mencanangkan program hidup sehat. Ya, klise… Sudah kalimat ke berapa tentang program hidup sehat yang tidak pernah terealisasi. Tapi kali ini saya serius. Sejak persendian pinggul saya pernah sakit ketika habis duduk lama dengan kaki dilipat, saya HARUS.

Dan program ini akan dimulai dengan sepedaan besok pagi! Kebetulan ada acara dengan Kemdikbud. Yay! Dan selanjutnya sepatu di kantor akan saya bersihkan dari jaring laba-laba, kaosnya nggak akan jamuran, dan minum di kantor minimal 2 botol. Semangat Cilpah? *pecut diri sendiri*
Kita lihat saja nanti ya bagaimana… Pada saatnya nanti pasti saya akan cek darah dan saya publish hasilnya *kalau sudah percaya diri* nyiahahahaha..

Salam kolesterol, eh hidup sehat! πŸ˜€