REVIEW: Catering Harian Kulina

kulina boxIde menu makan siang selalu jadi persoalan buat para pekerja kantoran di ibukota. Eh, atau cuma saya ya? Pokoknya tiap mau makan siang selalu galau, bingung mau makan apa. Padahal saya berkantor di daerah Sabang (Jakarta Pusat) yang kata orang markasnya kuliner. Memang banyak banget yang jualan makan sih… Tapi tetep aja bingung mau makan apa. That’s why saya kepikiran untuk coba catering harian buat makan siang di kantor. Selama seminggu kemarin saya berlangganan Kulina untuk menu makan siang saya. Continue reading “REVIEW: Catering Harian Kulina”

Cara Klasik Menikmati Kue Keranjang

kue keranjang imlekKetika Imlek atau tahun baru China datang, saya suka dapet kue keranjang, sajian khas Imlek dari teman saya yang merayakan. Saya suka banget kue keranjang ini. Kalau di Jawa, olahan seperti ini mungkin lebih dikenal dengan jenang atau semacam dodol. Meskipun banyak resep olahan atau cara penyajian kue keranjang, buat saya cara penyajian yang klasik masih lebih nikmat. Gimana sih cara klasik menikmati kue keranjang? Continue reading “Cara Klasik Menikmati Kue Keranjang”

#OneDayTrip ke Taman Safari

Setuju nggak kalau tinggal dan atau bekerja di Jakarta itu stressful? Setidaknya butuh sesekali weekend getaway atau one day trip ke manaaa gitu buat refresh jiwa raga. Nggak perlu jauh, yang penting kita bisa menikmati suasana yang berbeda dan sejenak lepas dari rutinitas bekerja atau pekerjaan rumah. Minggu lalu, saya ambil cuti sehari di hari Kamis buat one day trip ke Taman Safari bersama keluarga. Yeay!

family-pic Continue reading “#OneDayTrip ke Taman Safari”

Kenangan Serambi Mekkah

Tak terasa ya ini sudah hari ke-31 kegiatan #31HariMenulis. Pastinya akan merindukan masa-masa rush menjelang pukul 24:00 WIB dan kekecewaan melihat tab mention di twitter dari Bang Wiro @31HariMenulis kalau kita kena denda absen menulis. :))

Berakhirnya project yang sebulan ini menguras waktu dan energi saya lumayan meninggalkan kelegaan. Sejenak merilekskan badan dan tiba-tiba teringat kenangan di serambi Mekkah, Aceh. 🙂

Tahun lalu saya berkesempatan mengunjungi Aceh. Saya tidak tau bagaimana kondisi sebelum tsunami. Namun masih terasa sekali waktu itu sisa-sisa yang ditinggalkan tsunami. Pertama yang saya kunjungi adalah Masjid Raya Baiturrahman, di mana saya pernah ditegur oleh Polisi Syari’at. Kenapa? Padahal saya pakai baju sopan dan berjilbab lho… Nggak percaya? Nih buktinya…

dari kiri ke kanan : saya, Bu Dewi, Mba Ridha

Ternyata saya ditegur karena pakai skinny pant. Hehe… Berjilbab tapi kalau celanannya ketat juga nggak boleh di Masjid Raya Baiturrahman ini. Kalau siang sampai sore masjid ini ramai dikunjungi banyak orang. Di sekitaran masjid juga banyak yang berjualan makanan. Dan nggak jauh dari masjid juga ada pasar tradisional yang menjual berbagai perlengkapan baju muslim, kerudung dan sebagainya. Rata-rata penjual di pasar tradisional ini mengambil barang dari Jakarta. Jadi buat pengunjung yang dari Jakarta sih mending belanja di Pasar Tanah Abang ya… :p Beranjak malam pun masjid ini masih cukup ramai. Lampu-lampunya bagus di foto. Megah deh…

Bukan hanya Masjid Raya Baiturrahman, ada Masjid Baiturrohim yang juga istimewa. Masjid ini berada di dekat pantai Ulee Leuhe, dan menjadi satu-satunya bangunan yang masih utuh pasca tsunami. CMIIW. Sedangkan kawasan pemukiman di sekitar Ulee Leuhe runtuh semua, rata dengan tanah. 😦

Masjid Baiturrohim, Aceh
bekas pemukiman di pinggir pantai Ulee Leuhe yang luluh lantah karena tsunami

Kerusakan tidak hanya dialami daerah yang di dekat bibir pantai. Bahkan perahu-perahu pun kandas ke pemukiman penduduk yang jarangnya agak jauh dari pantai. Sedih sekali rasanya melihat apa yang ada di depan pandangan mata saya waktu itu. Tak terbayangkan bagaimana keadaannya pada saat tsunami terjadi.

 

Namun apakah di Aceh hanya dapat ditemukan peninggalan atau sisa tsunami yang menarik untuk dikunjungi? Tentu saja tidak. Kuliner di Aceh juga cukup lezat. Jika ke Aceh berkunjunglah ke Warung Nasi Hasan Lamnyong. Di sana kita bisa menemukan beragam makan khas Aceh seperti ayam tangkap yang khas dengan daun pandan dan tumuruy (konon daun tumuruy ini hanya bisa ditemukan di Aceh, menurut cerita guide saya, CMIIW) serta ikan kayu masak kemamah (ikan kayu adalah ikan tongkol yang telah difermentasi, jadi tahan untuk bertahun-tahun). Jangan berharap akan menemukan pramusaji wanita di sini. Semuanya pria. 🙂

Last but not least, belum ke Aceh kalau belum mencicipi kopinya. Sebenarnya saya bukan penggemar kopi. Tapi selama di Aceh, dalam sehari saya bisa ngopi lebih dari sekali. Nikmat kopinya nggak bo’ong! Ya memang saya tidak memesan kopi hitam. Bagi yang tidak kuat minum kopi hitam ada dua pilihan kopi yang bisa dinikmati, yaitu kopi susu dan sangar. Sekilas tidak terlalu nampak berbeda, sama-sama kopi ditambah dengan susu. Tapi kandungan susu di kopi susu lebih banyak dibanding sangar. Saya paling suka sih sangar. 😀 Ditanam di bumi yang sama tapi rasa kopi bisa beda-beda ya… Beda di kaos ‘kaki ini’ mungkin ya…:p

abang kupi sedang beraksi dengan ‘kaos kaki’nya 😀

Di lain kesempatan saya akan kembali lagi dan meluncur ke Sabang, 0 (nol) kilometer Indonesia. 🙂

 

Ayam Lengkuas si Penyelamat

Judul post ini bukan sengaja didramatisasi, namun memang merupakan makna denotasi untuk si ayam lengkuas, menurut saya. Buat saya yang hampir setiap hari pulang hari kantor malam alias #LemburUnite dan malas bertualang jauh-jauh untuk makan sesampainya di kost, tempat makan dengan radius kurang dari 500 meter masuk jadi kategori tempat makan malam favorit. Dan yang paling saya suka adalah ayam lengkuas. 🙂

Sesuai dengan namanya, ayam lengkuas ini ya mengandung lengkuas. #yaiyalah Ada dua pilihan olahan, ayam bakar dan ayam goreng. Dua-duanya enak kalau menurut saya. Tapi kalau menurut tips di foursquare, banyak yang lebih suka ayam bakarnya. Memang ayam bakarnya selalu habis lebih dulu sih… Ngomong-ngomong soal foursquare, karena saking seringnya saya makan di ayam lengkuas dan check in di venue Ayam Lengkuas Setiabudi, saya berhasil menyabet mayorship menyingkirkan mayor sebelumnya. Yay! #dinner2.0

Selain ayam bakar dan ayam goreng, menunya juga dilengkapi dengan gorengan semacam tahu, tempe, bakwan jagung, serta sambelnya yang lumayan pedes. Pastinya juga ada nasi ya kalau menu lauknya begitu. Saya selalu suka nasi di sini. Kenapa? Karena nasinya relatif agak lembek, sesuai dengan selera saya. 😀 Untuk menyantap nasi+ayam+gorengan+air mineral gelas cukup merogoh kocek Rp 16.000,- saja. Sudah kenyang maksimal dan bisa tidur nyenyak habis itu. Those really can save your hunger before your bedtime. 😉

Ayam lengkuas ini berjualan di depan halaman kios kecil, di dekat pertigaan SMA 3 Jakarta. Mungkin agak susah mencari di mana letak ayam lengkuas ini. Karena memang tidak ada spanduk atau papan nama, melainkan hanya coretan saja di lemari kaca kecil di depan kios. Dan tempatnya pun sempit, ditambah lagi selalu ramai pengunjung setiap harinya rata-rata #LemburUnite yang kost di daerah Setiabudi. Nah kan, bisa sekalian cari jodoh tuh… Tapi tapi tapi sejauh ini banyakan ketemu cewe’ sih daripada cowo’. #eh #lospokus

Yak, makannya sudah selesai. Sudah hampir tengah malam, dan ayam lengkuas siap ditimbun menjadi lemak-lemak yang merajalela dalam tubuh. Selamat malam :p *elus-elus perut | perutnya Rio Dewanto* #yakali