Telling The Unspoken

Malem-malem sepulang dari kantor, seperti halnya 18 hari terakhir saya pulang larut kantor, ganti baju dan langsung terduduk di tempat tidur sebelum sempet melakukan hal lain sebelum tidur.
Tiba-tiba handphone berdering dan ada BBM masuk dari salah seorang teman terdekat di Jogja :
“#Virgo’s have no desire to tell the world who or what they love because they simply think it’s no-one’s business. Aku tau kok kalo adek sayang aku. Makasih yaaa.. Gak perlu bilang. :))”
Aaaakkk.. “I do.. I do love you since no need words to make you know what I really feel when telling you a story” :))
Ya, wanita berjilbab itu sungguh menyebalkan. Saya susah sekali menyembunyikan sesuatu darinya. Bahkan terkadang saya merasa dia terlalu cepat menyimpulkan sebelum saya selesai bercerita. ๐Ÿ˜€

Pernah nggak ngerasa nyaman banget cerita semuanya yang kamu pikirkan dan rasakan sampe nggak bisa nggak cerita hal sekecil apapun yang menyelinap pikiran kamu? Atau mungkin seseorang, yang tanpa kita harus cerita panjang lebar tapi sudah bisa mengetahui atau menebak dengan benar apa yg berubah dari kita, apa yang kita pikirankan atau rasakan? Ya mungkin kalau saya, paling nggak bisa mengelak sama yang namanya Kinanti. Malam ini, setelah lama tak bertemu dan bertelepon, saya sengaja menelepon dia. Laamaaa… Biarin aja dia yang biasa pelor (nempel molor) saya gangguin jam tidurnya. :p

Nah, seperti yang disebutkan di atas soal Virgo, saya orangnya kurang ekspresif. Jadi kalau diminta menjelaskan sesuatu tentang apa yang dirasakan suka bingung. Enaknya kalau ngomong sama Kinanti, ya dalam wujud kebingungan itupun dia bisa menterjemahkan. Hehe… Bukan cenayang, saya juga ragu apakah itu semataimata karena dia mahasiswa psikologi. Tapi yang jelas, karena dia mengenal saya. ๐Ÿ™‚

#PhotowalkMonas

Malem Minggu. Tak berhasrat keluar malam seperti biasanya. Kayaknya kasur kesepian dari pagi udah ditinggal. Biasanya weekend jadi quality time buat saya dan kasur. Kalau weekdays cuma barengan nggak lebih dari 6-7 jam, jadi weekend saatnya bales dendam. Bisa 12 jam atau mungkin lebih.

Setelah beberapa kali absen photowalk bareng @LevitasiHore, akhirnya pagi ini saya bisa ikutan. Kebetulan sedang tidak ada agenda keluar kota ataupun tugas kantor. Hari ini photowalk-nya berlokasi di Monas. Iya, sekitaran tugu Monas yang jadi icon-nya Jakarta tapi sampai saat ini saya belum pernah masuk apalagi naik sampai lantai tertinggi. Tadi pun tidak. :p

Hari ini saya banyakan peran jadi model levitasi daripada yang motret. Absen ikutan photowalk membuat badan ini jadi kaku lagi rasanya. Acara photowalk sebelumnya (yang saya ikuti) juga saya memang sengaja datang untuk motret, bukan jadi model levitasi. Alhasil, walaupun photowalk nggak begitu lama, hanya sekitar 2 jam, malam ini badan saya pegel-pegel. Apalagi kaki. Makin ditekuk makin aduhai pegelnya. Apakah semudah ini menua?

Tapi nampaknya tidak hanya sampai di sini. Pegel-pegel ini masih akan berlanjut sampai besok. Foto-foto levitasi lagi, pegel lagi deh… Untungnya bukan acara photowalk, hanya semacam mempraktekkan cara berfoto levitasi secara langsung di acara televisi. Jadi saya menabung pegel dan akan saya rapel besok refleksinya. Refleksi hore di sebelah kost, 90 menit head to toe 45ribu saja. *malah promosi*

Biar besok saya masih bisa loncat, jadi mungkin ngelurusin kaki (baca: tidur) dulu kali ya… Yang penting saya sudah potong rambut jadi agak berponi. Jadi biar keliatan lebih muda, ya relevan sama acara yang bakal tampil besok. ๐Ÿ˜€

Beberapa hasil foto levitasi tadi, jepretannya mas @pramince. ๐Ÿ™‚

Cara Jitu Kobarkan Semangat Olahraga

Di tengah siang yang mengantuk sehabis makan, salah satu temen kantor -sebut saja Bunga- muncul dari balik kubikel dan dengan cerianya menyodorkan sehelai kertas ke saya, “Tips Mepertahankan Semangat Olahraga”. Yak, artikel itu juga dibuat oleh salah satu temen kantor lainnya, yang saya nggak kenal, dikirimkan kepada Bunga dan beberapa orang yang tegabung dalam keanggotaan fitness di kantor. Huwow! Ada apa gerangan yang Bunga perbuat? Kenapa harus saya? Apakah saya nampak males-malesan untuk berolahraga? Tentu saja jawabannya sudah pasti iya. Jangankan temen kantor. Saya aja lupa kapan terakhir kali mampir fitness center di kantor. Oh, oke.. Belum lama sih.. Beberapa bulan lalu, saat-saat latihan nari untuk acara tahunan di kantor.

Bunga mencetak artikel “Tips Mepertahankan Semangat Olahraga” itu dan menyuruh saya menempelkannya di kubikel. Katanya sih biar setiap hari saya bisa lihat dan (semoga) termotivasi. Tapi memang saya sudah berniat untuk menggalakkan olahraga sih.. Walaupun belum terealisasi sejak tulisan saya terakhir tentang wacana olahraga, setidaknya sudah ada niat baik dalam diri saya, dengan meninggalkan sepatu olah raga beserta baju olehraga di kantor. Yay! *semoga tidak menjamur di kantor*

Kalau Bunga punya tips memacunya giat olahraga, saya juga punya cara jitu kobarkan (cita-cita) semangat olahraga yang mirip namun dengan sedikit improvisasi.

1. Tentukan dulu tujuan dari program olahraga kita dulu. Apakah ingin kurus, gemuk, atau hanya ingin bugar dll. Namun beberapa orang juga memiliki alasan lain di luar alasan kesehatan fisik. Kesehatan hati dan pikiran. Menghilangkan stress, melampiaskan emosi, atau cari jodoh? #eh #lospokus

2. Tidak hanya tujuan, kita juga harus punya target. Tentunya targetnya sejalan dengan tujuan kita. Target naik atau turun berapa kilogram dalam berapa bulan atau semacamnya. Set the number and time frame. Khusus yang tujuannya cari jodoh, mungkin time frame ini akan sangat bervariasi, tergantung usaha dan nasib.

3. Susun jadwal. Jadwal ini penting agar kita terlatih untuk olahraga teratur. Dari jadwal itu juga kita bisa atur mau olahraga yang seperti apa kapan, dsb. Lebih terprogram dan melatih kita untuk disiplin diri.

4. Have a buddy. Yak, temen atau partner berolahraga juga penting untuk menjaga semangat kita tetap berkobar, serta saling mengingatkan juga tentunya. Temen ini terbukti berpengaruh signifikan pada semangat olahraga kita, eh saya. Terbukti sudah seminggu ini baju olahraga yang saya tinggal di kantor tetep tersimpan rapi di meja, nggak ada bau keringet alias belum dipake karena temen-temen kantor lagi pada sibuk. Nggak berhasil ngajak temen, saya pun urung turun ke fitness center. Lanjut kerja. ๐Ÿ˜

5. Buat diri kita merasa nyaman. Nyaman di sini bisa secara fisik maupun non fisik. Ya bisa bajunya yang nyaman, sepatunya, atau playlist lagu andalan saat berolahraga. Dalam hal ini fitness ya… Nggak kebayang juga sih maen basket sambil ndengerin ipod, apalagi renang. Kan susah ya… #yakali

6. Cari motivasi lain di luar tujuan utama kita berolahraga. Misal trainer-nya ganteng/cantik maksimal, ada temen fitness yang artis, yang punya fitness center orang tuanya gebetan, atau karena biar punya alasan buat pulang kantor cepat di hari-hari yangmana telah kita jadwalkan untuk fitness.

7. In the end, kita tetep harus fleksibel. Bukan berarti nggak disiplin dengan jadwal yang sudah kita buat, tapi kita sendiri lah yang tau kondisi badab kita. Kalau sekiranya nggak kuat ya nggak usah dipaksain. Nggak ada istilahnya istirahat dulu. Hehehe… *such an excuse* :p

Aaaakkk.. Nggak mau cuma jadi cita-cita. Harus terlaksana! Keep my words ya.. Tunggu laporan saya! ;D

Takut Binatang

Rencana malam ini untuk pulang cepat gagal. Apalagi wacana nge-gym di kantor trus lanjut #LemburUnite. Ini semua gara-gara yang hobby olahraga lagi nggak masuk a.k.a cuti! ๐Ÿ˜€ *malah nyalahin orang lain*

Di tengah kekusutan malam, badan ini semacam mengeluarkan energi cadangan untuk berteriak ketika melihat seekor kecoa di kamar mandi. Aaaaaakkkkkk!! Mana kecoanya gesit banget…:| Saya sempet bingung mau gimana. Kecoanya harus dimatiin dulu, diambil pake tissue, atau apa saya sempat blank seketika. *atur napas* Karena nggak sanggup menghadapi kelincahan kecoa, dan nggak mau kalau kecoanya sampe keluar pintu kamar mandi yang mana artinya masuk kamar, akhirnya saya mengumpulkan keberanian buat matiin si kecoa lalu membuangnya ke closet. Hwaaaa… Lega maksimal deh abis itu. \(ยดโ–ฝ`)/

Apakah saya tegolong phobia kecoa? Entahlah… Pada dasarnya saya tidak begitu menyukai binatang, khususnya untuk dipelihara. Mungkin kalau hanya dilihat saja saya masih bisa menikmati. Jadi lebih tepatnya saya takut hampir ke semua binatang. Tapi nggak sampe Zoophobia sih.. Kalaupun disuruh melihara ikan, saya masih mau. Pokoknya asal hewan tersebut nggak bakal nerkam saya atau memiliki jangkauan gerak yang terbatas. Misal, kalau ikan udah pasti di dalam aquarium. Nggak mungkin juga ya kalau ikannya lagi lasak terus jadi bisa pindah aquariumnya. #horor

Ketakutan saya terhadap binatang tidak berhenti pada kecoa. Saya juga sangat takut sekali hewan berbulu dan bertaring seperti anjing. Jangankan anjing lari, anjing menggonggong aja udah bisa bikin saya lari tunggang langgang. Pernah suatu ketika, awal-awal saya kuliah di Jogja… Dekat rumah kost saya banyak anjing. Kebetulan mungkin tetangga kost suka banget melihara anjing. Tetooott… *merasa terjebak*

Sampai pada suatu saat saya dan teman saya berencana membeli air mineral dengan mengendarai sepeda motor. Pada saat keluar gang, sang anjing yang melihat kami lewat langsung menggonggong keras. Bukan satu, tapi dua! Eh, atau tiga ya.. Pokoknya lebih dari satu. Kami panik tapi tetap melaju. Namun justru anjingnya mengejar kami daaan… Kami menabrak tumpukan balok batu di ujung gang. Akibat kejadian itu kaki kanan saya punya kenangan lima jahitan. Bukan karena digigit anjing tapi karena menabrak tumpukan balok batu itu… Masih ada bekas jahitannya sampai sekarang. Tapi tenang, nggak berencana saya upload fotonya di sini. :p

Pengalaman lain soal ketakutan saya terhadap binatang… Waktu saya Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Bantul, Yogyakarta. Kebetulan rumah penduduk yang saya tinggali memiliki kolam ikan. Ada ikan lele, nila, bawal, enak deh.. Bisa sering-sering santap ikan dan makan enak. Suatu sore saya diajak ikut mancing bersama si ibu ‘pondokan’. Tidak ada yang aneh sampai saat umpan saya dimakan ikan. Hwaaa…pancing saya berasa ditarik-tarik. Nampak ada ikan nila memakan umpan saya. Lalu sayapun menaikkan kailnya, ikan nampak tergelepak, tergantung di pancing yang sudah saya angkat dari air. Mendadak terjadi keheningan… Ini gimana saya ngelepasin ikannyaaa? Saya takut megang ikan hidup! Saking paniknya dan nggak nemu ide harus diapain ikannya, akhirnya saya kembalikan lagi saja ikannya ke kolam, bersamaan dengan pancingnya. #lhaaaah *tepok jidat | jidat ibu ‘pondokan’* #eh

Ya ya ya… Cukup sudah. Jangan beri saya binatang hidup. Saya tidak benci binatang dan bukan berarti tidak sayang binatang. Tapi demi kemaslahatan saya dan binatang-binatang itu, nampaknya kami memang harus jaga jarak. ๐Ÿ˜€

Uji Ketahanan Emosi

Belakangan saya disibukkan dengan project di kantor yang cukup menguras tenaga, pikiran, dan yang paling penting adalah emosi. Kenapa? Ya namanya juga bekerja di industri jasa yang sifatnya melayani kebutuhan transaksional khalayak ramai, harus berhadapan juga dengan beragam kebutuhan dan karakteristik banyak orang. Kebetulan untuk project ini saya ter-expose langsung. Semacam jadi contact person-nya contact center. Nah lho… #kusut

Sebagai contact person-nya contact center, tidak cuma berhubungan langsung dengan orang per orang (user) yang terlibat langsung dengan project ini, namun juga call center atau contact center lainnya pun mengeskalasikan hal-hal yang sudah tidak bisa ditangani oleh mereka. Bayangkan saja saya hampir tidak pernah berhenti menerima telepon, membalas pesan, email, bahkan hanya untuk 5 menit pun. Kecuali waktu saya sengajakan untuk ditinggal makan. Istirahat dulu lah.. Saya juga manusia biasa. :p

Menghadapi pertanyaan yang bertubi-tubi saja sudah melatih kesabaran, apalagi jika harus melayani keluhan ataupun user yang kita jelaskan susah paham apa yang kita jelaskan. Sayangnya mental saya tidak dipersiapkan untuk menjadi call center agent, karena sebenarnya bukan itu job description saya. Alhasil, kadang emosi saya juga muncul dan kesan galaknya pun muncul. Ya, memang basic-nya saya bukan orang yang kalau istilah Jawa-nya “dowo ususe” alias penyabar.

Sadar seberapapun tidak sabarnya saya tapi tetap harus ramah dan mencoba menyelesaikan setiap permasalahan, saya pun harus pandai-pandai menyiasati diri untuk mengendalikan emosi. Mungkin kadar dan cara mengendalikan emosi seseorang berbeda dengan yang lainnya, namun saya akan sedikit share bagaimana saya mengendalikan emosi saya sehingga saya tidak berubah menjadi Hulk. :p
1. Pastikan mood kita tetap terjaga. Kalau udah ngomongin soal mood, ya emang personal banget. Mood yang kita bawa dari rumah dan suasana di kantor sangat berpengaruh. Jadi pastikan mood kita baik dulu. Caranya? Ya setiap orang pasti memiliki cara masing-masing. Yang umum adalah berpikir positif atau memikirkan hal-hal yang menyenangkan.
2. Sediakan sesajen, terutama air putih. Jika mood kita sedang kacau, daripada pikiran terkonsentrasi pada email terakhir yang tidak enak dibaca apalagi dibalas, alihkan konsentrasi kita sebagian pada makanan dan minuman. Setidaknya kita akan sedikit disibukkan dengan hal lain. Hehe.. Tapi tetap produktif dan solutif dong ya pastinya.. Yang perlu diwaspadai adalah makan sesajen yang tidak disadari ini akan berpotensi mengurangi pesona kita, kalau terus kita jadi makin gendut. :p
3. Sesekali tarik napas panjang dan merilekskan badan. Boleh lah kalau sudah sangat penat jangan angkat telepon atau balas email dulu. Kasihan gagang teleponnya kalau sampe kemakan atau mungkin HPnya jadi ketelen gara-gara saking tidak bisanya menahan emosi. Bersandar di kursi, peluk bantal (kebetulan memang saya punya 2 bantal duduk), tarik napas panjang, dan buang.. Buang napas ya bukan bantalnya yang dibuang. Kalau perlu sambil memejamkan mata tapi jangan sampai ketiduran.
4. Selingi dengan hal-hal yang menyenangkan. Misal sesekali buka 9gag, bbm, twitter, atau hal lain yang bisa merefresh mood kita. Kalau mengerjai teman sebelah itu menyenangkan buat kita, lakukanlah. #loh
5. Buat yang muslim, bisa sih break dulu di waktu sholat. Ambil wudlu dan sholat biar emosi mereda. Agak dilamain sholatnya juga boleh, itung-itung biar menjauh dulu sama alat komunikasi yang tega membombardir kita seharian.
6. Rasa optimisme bahwa project akan segera berakhir lumayan membantu juga agar kita tidak cepat drop semangatnya. Ya setidaknya ada harapan lah kalau habis gelap terbitlah terang. ๐Ÿ˜€

Ya begitulah kira-kira beberapa yang telah saya lakukan demi menjaga kestabilan emosi dalam rangka menghadapi hajat hidup orang banyak. Kalau call center agent beneran sih biasanya punya nama ‘siar’ nya ya.. Bukan menggunakan nama asli. Sedangkan saya bertindak atas nama saya sendiri, jadi harus jaga reputasi pribadi juga selain reputasi instansi. Jadi ya…make it fun. Kalau perlu yang nelpon dibecandain aja sekali-sekali. Apalagi kalau lawan bicara ramah dan suaranya enak didengar. Hehe… Tapi jangan tertipu suara ya.. Walapun terdengar suaranya berat/nge-bass nan seksi, bisa jadi ternyata dia perempuan. Soalnya saya pernah diprotes juga manggil “pak” ke seorang ibu-ibu. Waspadalah! ๐Ÿ˜€