Pentingnya Pendidikan

pentingnya pendidikan silvafauziah blog

Selamat hari pendidikan!

Sempat hampir lupa kalau hari ini tanggal 2 Mei, Hari Pendidikan Nasional. Hari gini masih adakah yang beranggapan pendidikan nggak penting? Terlepas dari keadaan yang memaksa pendidikan jadi barang mewah karena prioritas utama adalah bertahan hidup, sepertinya hampir semua setuju kalau pendidikan itu penting. Kalau masih ada orang yang sebenarnya mampu dan diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan tapi memilih nggak sekolah dengan alasan “Ah nggak penting… banyak orang nggak sekolah tinggi juga bisa sukses.” Ya iyaaa… Sekolah sampai pascasarjana dan belum berhasil dibilang sukses juga ada aja. Lagian definisi sukses juga bisa berbeda setiap orang. Tapi yang namanya belajar itu nggak pernah ada ruginya. Percaya deh! *nge-gas*

Kalau ngomongin pendidikan di Indonesia yang berpenduduk lebih dari 260juta ini, memang saat ini belum bisa dibilang kita unggulan di tingkat Asia Tenggara apalagi dunia. Banyak hal yang terkait, mulai dari jumlah dan kapasitas sekolah, kualifikasi guru, serta sarana prasarana lain yang mendukung proses belajar. Selain sarana prasarana, bagaimana partisipasi penduduk untuk bersekolah? Kegiatan belajarnya seperti apa, target hasilnya bagaimana… Semua itu pastinya masih terus diupayakan agar semakin baik oleh pemerintah dan pelaku usaha di bidang pendidikan. yang penting dari kita sebagai penduduk Indonesia, ada kesepakatan dulu kalau pendidikan itu penting dan kita mau belajar, ingin sekolah sampai jenjang tertinggi yang kita mau dan mampu.

Kenapa sih pendidikan itu penting?

  • Pendidikan bisa memperbaiki tingkat ekonomi. Ini kalau dipikir-pikir seperti ayam sama telur. Ibaratnya, gimana mau sekolah untuk memperbaiki tingkat ekonomi ya kalau biaya untuk sekolahnya nggak ada. Harus ada uang dulu dong buat sekolah? Terus kalau misal keadaan ekonomi nggak meningkat sehingga merasa nggak sanggup sekolah, kapan rantai itu akan terputus? Kembali lagi ke YANG PENTING KITA MAU DAN INGIN dulu untuk sekolah. Katanya, if there is a will, there is a way. Udah banyak kisah inspiratif orang yang meraih pendidikan tinggi dengan beasiswa dan kerja keras. Karena untuk dapetin pekerjaan yang menjanjikan juga dituntut pendidikan dengan jenjang tertentu.
  • Pendidikan bisa memperbaiki kualitas diri seseorang. Kualitas bagaimana? Ya jadi lebih berwawasan akan ilmu pengetahuan, kondisi sosial masyarakat, pengembangan karakter, dsb. Sekali lagi, belajar itu nggak pernah ada ruginya.
  • Pendidikan bisa membuat orang lebih mandiri dan cakap dalam mengambil keputusan. Karena dengan banyak pengetahuan dan wawasan, seseorang jadi punya banyak sumber ilmu untuk hidup dan banyak input yang bisa diolah dalam mempertimbangkan sesuatu atau mengambil keputusan.

Jadi buat semua generasi muda dan para orang tua, jangan bosen yuk encourage diri sendiri dan keluarga/lingkungan kita untuk sekolah, belajar… Karena kalau hanya bergantung sama keberuntungan tuh siapa yang tau keberuntungan kita sampai mana? Kan harus ikhtiar dan berdoa dulu atuh sebelum pasrah aja menunggu nasib selanjutnya mau dibawa ke mana. *mendadak sedikit Sunda*

Sekali lagi, selamat hari pendidikan! 🙂

silvafauziah

Kembalinya #31HariMenulis

Pink and Gold Artistic Fashion Influencer Youtube Thumbnail Set

Setelah 8 tahun berlalu, #31HariMenulis datang lagi. Eh, atau aku aja yang baru ikut lagi sejak 8 tahun itu? Sempat kaget sekaligus antusias tiba-tiba Bang Wiro muncul lagi di tahun 2020. Jadi Bang Wiro, icon penggagas #31HariMenulis, ini mengajak orang-orang untuk menulis blog setiap harinya selama bulan Mei ini. Sebelumnya di Mei 2012 aku sudah pernah ikutan. Tercapai 20 tulisan dari 31 hari, berarti aku absen 11 hari menulis. Tahun ini? Let’s see… Soalnya blogger yang satu ini jangankan menulis satu tulisan per hari. Satu tulisan per minggu bahkan per bulan juga nggak keturutan. *cry*

Kenapa sih konsisten menulis itu sulit (buat aku)? Padahal setiap hari banyak banget yang seliweran di kepala. Monolog sama diri sendiri juga sering banget. Jadi kalau salah satu fragmen aja dituangkan di tulisan, udah bisa jadi 500 kata paling nggak. Tapi justru karena kebanyakan mikir, I tend to hold back everytime. Aku belum pernah bisa benar-benar terbuka ke siapapun, even the closest ones. Tapi bukan juga berbohong ya… I hate lies, cheats, dan teman-temannya. Nah, dengan dituntut share tulisan tiap hari, mungkin jadi nggak ada banyak waktu untuk overthinking and holding back?

Kembali mengingat tahun 2012… Kalau bisa mengirim pesan untuk aku di tahun 2012, aku akan bilang: “Cherish every moments, either sweet or sorrow. You don’t really need many things. Focus on what makes you feel good, and go all out.”

Well, tulisan pertama di #31HariMenulis cuma bernada curhat. Gapapa ya sesekali? Dan kalau tiba-tiba nanti aku sendu berpuisi, jangan baper atau diketawain. :p

silvafauziah

Kenangan Serambi Mekkah

Tak terasa ya ini sudah hari ke-31 kegiatan #31HariMenulis. Pastinya akan merindukan masa-masa rush menjelang pukul 24:00 WIB dan kekecewaan melihat tab mention di twitter dari Bang Wiro @31HariMenulis kalau kita kena denda absen menulis. :))

Berakhirnya project yang sebulan ini menguras waktu dan energi saya lumayan meninggalkan kelegaan. Sejenak merilekskan badan dan tiba-tiba teringat kenangan di serambi Mekkah, Aceh. 🙂

Tahun lalu saya berkesempatan mengunjungi Aceh. Saya tidak tau bagaimana kondisi sebelum tsunami. Namun masih terasa sekali waktu itu sisa-sisa yang ditinggalkan tsunami. Pertama yang saya kunjungi adalah Masjid Raya Baiturrahman, di mana saya pernah ditegur oleh Polisi Syari’at. Kenapa? Padahal saya pakai baju sopan dan berjilbab lho… Nggak percaya? Nih buktinya…

dari kiri ke kanan : saya, Bu Dewi, Mba Ridha

Ternyata saya ditegur karena pakai skinny pant. Hehe… Berjilbab tapi kalau celanannya ketat juga nggak boleh di Masjid Raya Baiturrahman ini. Kalau siang sampai sore masjid ini ramai dikunjungi banyak orang. Di sekitaran masjid juga banyak yang berjualan makanan. Dan nggak jauh dari masjid juga ada pasar tradisional yang menjual berbagai perlengkapan baju muslim, kerudung dan sebagainya. Rata-rata penjual di pasar tradisional ini mengambil barang dari Jakarta. Jadi buat pengunjung yang dari Jakarta sih mending belanja di Pasar Tanah Abang ya… :p Beranjak malam pun masjid ini masih cukup ramai. Lampu-lampunya bagus di foto. Megah deh…

Bukan hanya Masjid Raya Baiturrahman, ada Masjid Baiturrohim yang juga istimewa. Masjid ini berada di dekat pantai Ulee Leuhe, dan menjadi satu-satunya bangunan yang masih utuh pasca tsunami. CMIIW. Sedangkan kawasan pemukiman di sekitar Ulee Leuhe runtuh semua, rata dengan tanah. 😦

Masjid Baiturrohim, Aceh
bekas pemukiman di pinggir pantai Ulee Leuhe yang luluh lantah karena tsunami

Kerusakan tidak hanya dialami daerah yang di dekat bibir pantai. Bahkan perahu-perahu pun kandas ke pemukiman penduduk yang jarangnya agak jauh dari pantai. Sedih sekali rasanya melihat apa yang ada di depan pandangan mata saya waktu itu. Tak terbayangkan bagaimana keadaannya pada saat tsunami terjadi.

 

Namun apakah di Aceh hanya dapat ditemukan peninggalan atau sisa tsunami yang menarik untuk dikunjungi? Tentu saja tidak. Kuliner di Aceh juga cukup lezat. Jika ke Aceh berkunjunglah ke Warung Nasi Hasan Lamnyong. Di sana kita bisa menemukan beragam makan khas Aceh seperti ayam tangkap yang khas dengan daun pandan dan tumuruy (konon daun tumuruy ini hanya bisa ditemukan di Aceh, menurut cerita guide saya, CMIIW) serta ikan kayu masak kemamah (ikan kayu adalah ikan tongkol yang telah difermentasi, jadi tahan untuk bertahun-tahun). Jangan berharap akan menemukan pramusaji wanita di sini. Semuanya pria. 🙂

Last but not least, belum ke Aceh kalau belum mencicipi kopinya. Sebenarnya saya bukan penggemar kopi. Tapi selama di Aceh, dalam sehari saya bisa ngopi lebih dari sekali. Nikmat kopinya nggak bo’ong! Ya memang saya tidak memesan kopi hitam. Bagi yang tidak kuat minum kopi hitam ada dua pilihan kopi yang bisa dinikmati, yaitu kopi susu dan sangar. Sekilas tidak terlalu nampak berbeda, sama-sama kopi ditambah dengan susu. Tapi kandungan susu di kopi susu lebih banyak dibanding sangar. Saya paling suka sih sangar. 😀 Ditanam di bumi yang sama tapi rasa kopi bisa beda-beda ya… Beda di kaos ‘kaki ini’ mungkin ya…:p

abang kupi sedang beraksi dengan ‘kaos kaki’nya 😀

Di lain kesempatan saya akan kembali lagi dan meluncur ke Sabang, 0 (nol) kilometer Indonesia. 🙂

 

Aku Anak Komunikasi!

Saya adalah satu dari (mungkin) banyak lulusan Ilmu Komunikasi ataupun ilmu lainnya yang saat ini bekerja di bank. Segala macam latar belakang pendidikan bisa kerja di bank. Mulai dari ekonomi, matematika, teknik, bahkan kedokteran gigi. Salah satu pimpinan selevel Senior Vice President di kantor saya adalah seorang dokter gigi. Rekan kerja lainnya, ada yang lulusan Meteorologi & Geofisika. Bukan untuk meramal cuaca pasar di industri perbankan, apalagi cuaca hari ini mau ujan apa nggak. Lalu? Salah satu (mantan) direksi hebat di kantor saya, lulusan teknologi penerbangan universitas beken banget seantero bumi. So, nggak nyasar namanya kalo’ ramean gini kan? :p

Waktu saya masih SMA, belum kepikiran saya bakal ngambil jurusan Ilmu Komunikasi buat kuliah saya. Saya nggak suka pelajaran IPS. Susah buat saya menghapalkan materi pelajaran IPS. Makanya saya memilih IPA waktu SMA. Berhubung udah masuk IPA, ya wacananya jadi mau ambil kuliah yang berbau teknik atau kedokteran. #klasik Tapi waktu itu yang terpikirkan oleh saya teknik industri sih.. Nampaknya menyenangkan. Selain belajar teknik, juga belajar tentang manajemen. Sampai penghujung kelas tiga, nampaknya pilihan saja sudah mantep mau di teknik industri.

Penerimaan mahasiswa baru. Waktu itu saya mencoba peruntungan di Ujian Masuk (UM) UGM. Pilihannya? Entah kenapa pilihan satu jadi jatuh kepada teknik kimia. Padahal nilai kimia saya masih di bawah nilai fisika dan matematika. Mungkin waktu itu saya merasa kalau teknik kimia keren. Lalu pilihan kedua? Sampai sebelum hari H saya mendaftar, pilihan kedua masih jatuh kepada hubungan internasional. Tapi setelah membaca kurikulum setiap jurusan di Fakultas Ilmu Sosial & Politik, oke saya pilih Ilmu Komunikasi!

Tahun pertama saya mengikuti perkuliahan, tidak semenyenangkan seperti saat melihat kurikulum perkuliahan Ilmu Komunikasi. Lha ini mana katanya ada fotografi, iklan, jurnalistik, public relation? Oh, ternyata menu-menu itu baru bisa dicicipi mulai tahun kedua. Tahun pertama penuh diisi teori ilmu non eksakta yangmana saya nggak suka. Sampai pada saatnyalah masuk tahun kedua dan seterusnya.. Yay! Ternyata Ilmu Komunikasi semenyenangkan yang saya bayangkan diulu.

Banyak di kampus bukan berarti banyak kuliah di kelas. Salah satu tempat ‘kuliah’ favorit kami adalah di Kepel, salah satu sudut paling hits di Fisipol UGM khususnya Ilmu Komunikasi. Kenapa dinamai Kepel, ya simply karena lokasinya di bawah pohon Kepel. Sebelum dan sesudah kuliah, sempet aja selalu mampir Kepel. Satu tempat pertemuan segala hal. Janji, asa, tawa, cita, cinta, semuanya. Sayang sekali karena renovasi bangunan kampus, tempat kramat buat anak Komunikasi ini sudah nggak ada.

Buat Ilmu Komunikasi Fisipol UGM, Jogja dan isinya… Terima kasih atas empat tahun penuh warnanya. Kemanapun saya pergi, saya pasti akan tetap kangen dan kembali ke Jogja. 🙂

Telling The Unspoken

Malem-malem sepulang dari kantor, seperti halnya 18 hari terakhir saya pulang larut kantor, ganti baju dan langsung terduduk di tempat tidur sebelum sempet melakukan hal lain sebelum tidur.
Tiba-tiba handphone berdering dan ada BBM masuk dari salah seorang teman terdekat di Jogja :
“#Virgo’s have no desire to tell the world who or what they love because they simply think it’s no-one’s business. Aku tau kok kalo adek sayang aku. Makasih yaaa.. Gak perlu bilang. :))”
Aaaakkk.. “I do.. I do love you since no need words to make you know what I really feel when telling you a story” :))
Ya, wanita berjilbab itu sungguh menyebalkan. Saya susah sekali menyembunyikan sesuatu darinya. Bahkan terkadang saya merasa dia terlalu cepat menyimpulkan sebelum saya selesai bercerita. 😀

Pernah nggak ngerasa nyaman banget cerita semuanya yang kamu pikirkan dan rasakan sampe nggak bisa nggak cerita hal sekecil apapun yang menyelinap pikiran kamu? Atau mungkin seseorang, yang tanpa kita harus cerita panjang lebar tapi sudah bisa mengetahui atau menebak dengan benar apa yg berubah dari kita, apa yang kita pikirankan atau rasakan? Ya mungkin kalau saya, paling nggak bisa mengelak sama yang namanya Kinanti. Malam ini, setelah lama tak bertemu dan bertelepon, saya sengaja menelepon dia. Laamaaa… Biarin aja dia yang biasa pelor (nempel molor) saya gangguin jam tidurnya. :p

Nah, seperti yang disebutkan di atas soal Virgo, saya orangnya kurang ekspresif. Jadi kalau diminta menjelaskan sesuatu tentang apa yang dirasakan suka bingung. Enaknya kalau ngomong sama Kinanti, ya dalam wujud kebingungan itupun dia bisa menterjemahkan. Hehe… Bukan cenayang, saya juga ragu apakah itu semataimata karena dia mahasiswa psikologi. Tapi yang jelas, karena dia mengenal saya. 🙂