Mitos Mangga dan Jerawat

Jerawat mungkin sudah menjadi masalah kulit bagi banyak orang, terutama bagi yang memiliki wajah cenderung berminyak dan tidak rajin membersihkan muka (baca : seperti saya). :p

Hal-hal terkait penyebab jerawat bisa jadi sudah seperti pengetahuan umum yang diketahui banyak orang. Banyak orang sudah tau bahwa sekresi minyak yang belebih, kotoran yang tersumbat di pori-pori, paparan sinar matahari dan infeksi kondisi lingkungan sekitar, serta faktor hormonal dapat memicu timbulnya jerawat. Bagi wanita, kosmetik yang dipakai juga bisa menjadi salah satu pemicu jerawat paling krusial. Cara pencegahannya pun sudah banyak orang tau. Rajin membersihkan wajah, kurangi makanan berminyak dan berlemak, kurangi stress, serta tentunya memakai obat jerawat yang sesuai dengan kondisi kulit masing-masing.

Dari sekian cerita-cerita mengenai jerawat, pernah denger nggak kalau buah mangga bisa memicu atau memperburuk kondisi jerawat? Kalau saya, sudah pernah. Pada saat saya duduk di bangku kuliah, saya sempat berobat ke dokter kecantikan (bukan dokter spesialis kulit namun dokter umum yang mengambil kelas kecantikan) dikarenakan wajah saya yang berjerawat. Satu hal yang paling saya ingat waktu itu adalah ucapan dokter tersebut “kurangi makan mangga ya… soalnya mangga bisa memicu jerawat” Nah lho…. padahal saya suka mangga. Apalagi mangga yang manis. Senyuman manis dari orang yang manis juga suka. #eh #lospokus

Gara-gara pernyataan dokter itulah, saya sempat selama setahun lebih sama sekali tidak makan mangga. Baik itu buah mangga atau olahan apapun yang rasa mangga, bahkan permen rasa mangga pun tidak. Setengah mati nahan biar nggak makan mangga saking pengennya muka bersih dari jerawat. Suatu ketika saya juga sempat minta pendapat dari salah satu teman dekat saya, bahwa katanya memang pernyataan dokter itu ada benarnya… Bahkan teman saya itu menambahkan bahwa mangga membuat bekas jerawat susah hilang. Resmi sudahlah waktu itu saya pantang makan mangga.

Sampai pada suatu saat saya merasa “bodo’ ah nggak makan mangga juga tetep jerawatan” hahahaha TARAAAA… Saya mulai makan mangga lagi. Buah mangga, juice mangga, puding mangga, semuanya. Nggak ada lagi pantang-pantang makan mangga. Soal jerawat saya sudah berserah diri pada Yang Kuasa saja. #drama Apakah setelah itu jerawat saya makin parah? ternyata tidak makin parah, tapi justru….. sama aja sih nggak ada beda. #antiklimaks Jadi yaudah lah ya makan mangga aja kalau begitu. :p

Waktu demi waktu saya lewati, akhirnya sampai juga pada masa-masa saya memiliki muka bersih dari jerawat berkat dukungan dokter spesialis kulit terpercaya meski tanpa mengubah pola makan saya yang amburadul. Hanya lebih rajin bersihin muka aja.

saya yang tengah; saat di Jeeva Klui hotel Senggigi, Lombok

Nampak lumayan bersih kan muka saya di foto itu? Kan kan kan?? *ngancem* Nah saat ini mulai lagi deh karena nggak konsisten ngerawat mukanya dan penyakit males bersihin mukanya akut, jadilah sekarang saya berjerawat lagi. Jerawat-jerawat ini mengingatkan saya soal mitos mangga yang sempat saya percaya waktu kuliah dulu. Namun ternyata dari hasil browsing sana-sini soal mangga dan jerawat, justru saya menemukan dua penyataan yang kontradiktif. Memang ada sumber yang menyatakan bahwa mangga menjadi salah satu buah yang memicu timbulnya jerawat. Tapi justru banyak di sumber lainnya yang menyatakan sebaliknya, bahwa mangga dapat mencegah jerawat karena mengandung beta-karoten danΒ anthocyanidin yang dapat membantu memperlancar peredaran darah serta mengurangi darah kotor penyebab timbulnya jerawat. Zat apa itu saya juga nggak paham juga sih sebenernya. Makin bingung deh jadinya… Mungkin di pertemuan berikutnya dengan dokter spesialis kulit, saya akan bertanya mengenai pernyataan mana yang benar.

Jadi mengenai mitos bahwa mangga bisa memicu jerawat, saya sudah nggak parno lagi. Yang penting disiplin dan teratur membersihkan muka aja deh… Sama saya juga (bercita-cita) menggalakkan banyak minum air putih untuk detoksifikasi dan olahraga rutin biar lebih bugar plus mengurangi stress. Lesson learned : jangan sampai kecantikan mengganggu makanan favoritmu. Yay! Tetap makan dan tetap bersinar! πŸ˜€

 

Toserba dan Minimarket

Sore ini, di sebuah warung toserba (toko serba ada) di Kalimantan Selatan… “Bu, beli tissue..”
“Tissue apa? Tissue makan kah?”
“Bukan… Emm.. Tissue yang ukuran kecil-kecil..” *gagap*
“Oo…tissue wajah.. Coba ambilkan di situ na..” perintahnya kepada pekerja tokonya.
Walaupun sebenernya berharap mendapatkan tissue yang ukuran travel pack, tapi berhubung nampaknya adanya yang kemasan kecil-kecil di toserba itu, ya saya gampangnya menyebut tissue wajah yang ukuran kecil saja. πŸ˜€

Pernah juga nggak gagap begitu waktu mau membeli sesuatu di toserba atau warung? Saya sendiri sudah sangat jarang beli-beli barang di toserba. Sejak tinggal jauh dari orang tua, jadi terbiasa beli kebutuhan pribadi di supermarket atau minimarket. Kalau beli dalam jumlah banyak, misal belanja bulanan, pasti ke supermarket. Gampang aksesnya, nyaman belanjanya, pilih-pilih barangnya santai sambil lihat-lihat barang yang tertata di deretan rak-rak, dan yang pasti kita tau betul harga tiap barangnya. Pas, tidak perlu tawar-menawar. Kalau untuk keperluan yang mendesak, tinggal cari minimarket terdekat. Hampir di setiap ruas jalan mudah ditemui minimarket. Fenomena inilah yang sekarang sering saya temui. Dan mungkin banyak orang lainnya juga.

Dulu sebelum menjamurnya minimarket bebagai macam rupa, kalau ada keperluan mendadak yang sifatnya eceran, toserba atau warung masih populer. Tapi seiring bergesernya preferensi orang dalam berbelanja, dan mungkin kebutuhan akan experience yang beda dalam berbelanja, minimarket semakin menjamur menjawab peluang tersebut. Bahkan di satu ruas jalan bisa kita temukan dua minimarket sekaligus. Tidak berjarak, namun berhadapan atau sebelahan. Luar biasa!

Tidak hanya sebagai peritel yang menggeser peran toserba, minimarket sekarang juga bisa jadi tempat tongkrongan. Sebut saja Circle K, 7 Eleven, Lawson, yang menyediakan meja dan kursi bagi pengunjungnya yang akan menyantap makanan siap sajinya atau hanya sekedar cemilan saja. Experience mengunjungi minimarket menjadi berbeda. Layanan dan pilihan makanan siap sajinya bisa dijadikan opsi tempat makan. Bukan sekedar toko tempat kita membeli kebutuhan pribadi. Mungkin malah bisa jadi barometer pergaulan anak-anak jaman sekarang… πŸ˜€ #tsaaah

Lalu apa kabar toserba dan warung-warung terdekat rumah? Ya masih ada, tapi ya gitu-gitu aja. Tetap ada juga yang masih membutuhkan keberadaan mereka. Buat orang yang enggan beranjak lebih jauh lagi untuk ke minimarket atau mau yang lebih simple ke warung pake baju tidur nggak perlu sisiran tapi nggak pake malu, ya masih ada juga. Itu kalau toserba atau warungnya deket rumah.. Tapi kalau jauh kok ya nampaknya jarang ya yang bela-belain ke warung. Berarti daya jangkau atau potensi marketsharenya sempit dong?

Apakah hanya sebatas tentang pergeseran selera atau gaya hidup? Nggak juga sih.. Kadang memang barang yang dijajakan juga cukup berbeda. Jangankan antara toserba dan minimarket, antara minimarket satu dan linnya juga bisa berbeda. Tergantung segmentasi dan positioning peritel itu kali ya…

Apakah nantinya peritel lokal a.k.a. Toserba itu akan menggeliat ikut meramaikan persaingan minimarket dengan label minimarket lokal? Hmmm.. Menarik. πŸ™‚ Jadi mau ke toserba atau minimarket?
Ya tergantung kebutuhan aja sih kalau saya… Asal barang yang dicari ada, makin dekat makin bagus. #mager

Regards,

Silva Gustani Fauziah

Balik Kampung

Balik kampung ini bukan di balik sebuah kampung tapi kembali lagi jadi orang kampung ya.. Not to mention orang kampung baik atau buruk, tapi topik pulang kampung masih anget-angetnya gara-gara long weekend. Balik kampung tentunya adalah versi pulang kampungnya bahasa Jawa, terutama kampung saya berasal. Tanpa harus dirunut dari tempat saya dilahirkan sampai dibesarkan, mari kita sepakati bersama bahwa saya orang Jawa dan kampung saya di Kebumen. #loh #NgapakUnite

Suatu hari, eh lumayan sering sih, teman saya (baca : banyak teman saya) berkomentar “Kamu kok medhok (istilah untuk aksen Jawa yang kental-red) banget sih? :)) ”
Perasaan saya sudah tinggal di Jakarta lebih dari 2 tahun. Tapi ternyata nature-nya medhok/ngapak ya tetep aja keliatan. Ditambah lagi teman-teman kantor di group saya banyak yang dari Jawa juga ntah Jawa Tengah ataupun Jawa Timur. Jadilah ngantor di Jakarta ini serasa kerja di kantor kabupaten Kebumen. Ya gimana medhok-ku bakal ilang cobaaaa… Π©(ΒΊΠ”ΒΊΡ‰)

Hari ini, untuk meluapkan kepenatan kerjaan yang bikin meja kantor acak-acakan, saya dan mba Ressa si teman satu kubikel yang asli Jogja mengalihkan pilihan bahasa ke bahasa Jawa “ngapak”.

Ibarat diskusi mengenai kontroversi konser Lady Gaga di televisi sore ini, mungkin akan jadi seperti ini… Presenter : “Menurutmu kepriwe nek Lady Gaga ora sida konser nang Jakarta?”
Kontra Lady Gaga : “Ya Lady Gaga pancene ora patut ditonton lah.. Lha wong ndeleng video klip-pe be wis kaya’ kuwe.. Getih-getihan, klambine ora nggenah mbarang pating pecotot nganah ngeneh. Nek cah saiki pada nontone penyanyi luar kabeh ya melas penyanyi lokal. Mengko lha sinden pada ora bisa mentas nyanyi maning”
Pro Lady Gaga : “Ya nangapa wingi konser Katy Perry ulih deneng saiki Lady Gaga ora ulih? Nek masalah ngregani karya lokal ya mesti ngregani lah.. Tapi kan ora terus ora ulih nonton konser penyanyi luar. Nek klambine pating pecotot sih penyanyi lokal be akeh.. Janjane mesti ana alasan liyane lah kenapa ora ulih. Paling ya ana politik-politike mesti.”

*nahan supaya masih sanggup nerusin*

Ya begitulah kira-kira yang dimaksud Jawa “ngapak”. Lebih mutakhir kalau mendengar sih daripada menulis :))
Buat yang bukan orang Jawa, mungkin mengenal bahasa “ngapak” ini dari film jaman dulu, salah satu tokoh di film Tuyul & Mba Yul..”Gagal maning gagal maning Son..”
Kalimat yang selelu muncul di penghujung episode, tiap kali duo tuyul gagal menangkap si Unyil. :))

Karena mungkin terdengar lucu bagi yang awam, bahasa Jawa “ngapak” ini sering dijadikan lelucon pada acara komedi. Bahkan seringkali sengaja disisipkan salah satu tokoh dengan aksen “ngapak” yang kuat pada tayangan/sketsa komedi. Iparto Gombong salah satu komedian yang populer dengan identitas ngapaknya itu. Ya Gombong itu bagian dari Kebumen juga. πŸ˜€
Kalau buat saya dan beberapa teman saya, bicara dengan bahasa Jawa “ngapak” cukup efektif untuk melampiaskan emosi. Lebih maksimal gitu.. Dan habis itu ketawa-ketawa bareng, geli dengernya sendiri. Haha… Cobalah! πŸ˜€

Ayam Lengkuas si Penyelamat

Judul post ini bukan sengaja didramatisasi, namun memang merupakan makna denotasi untuk si ayam lengkuas, menurut saya. Buat saya yang hampir setiap hari pulang hari kantor malam alias #LemburUnite dan malas bertualang jauh-jauh untuk makan sesampainya di kost, tempat makan dengan radius kurang dari 500 meter masuk jadi kategori tempat makan malam favorit. Dan yang paling saya suka adalah ayam lengkuas. πŸ™‚

Sesuai dengan namanya, ayam lengkuas ini ya mengandung lengkuas. #yaiyalah Ada dua pilihan olahan, ayam bakar dan ayam goreng. Dua-duanya enak kalau menurut saya. Tapi kalau menurut tips di foursquare, banyak yang lebih suka ayam bakarnya. Memang ayam bakarnya selalu habis lebih dulu sih… Ngomong-ngomong soal foursquare, karena saking seringnya saya makan di ayam lengkuas dan check in di venue Ayam Lengkuas Setiabudi, saya berhasil menyabet mayorship menyingkirkan mayor sebelumnya. Yay! #dinner2.0

Selain ayam bakar dan ayam goreng, menunya juga dilengkapi dengan gorengan semacam tahu, tempe, bakwan jagung, serta sambelnya yang lumayan pedes. Pastinya juga ada nasi ya kalau menu lauknya begitu. Saya selalu suka nasi di sini. Kenapa? Karena nasinya relatif agak lembek, sesuai dengan selera saya. πŸ˜€ Untuk menyantap nasi+ayam+gorengan+air mineral gelas cukup merogoh kocek Rp 16.000,- saja. Sudah kenyang maksimal dan bisa tidur nyenyak habis itu. Those really can save your hunger before your bedtime. πŸ˜‰

Ayam lengkuas ini berjualan di depan halaman kios kecil, di dekat pertigaan SMA 3 Jakarta. Mungkin agak susah mencari di mana letak ayam lengkuas ini. Karena memang tidak ada spanduk atau papan nama, melainkan hanya coretan saja di lemari kaca kecil di depan kios. Dan tempatnya pun sempit, ditambah lagi selalu ramai pengunjung setiap harinya rata-rata #LemburUnite yang kost di daerah Setiabudi. Nah kan, bisa sekalian cari jodoh tuh… Tapi tapi tapi sejauh ini banyakan ketemu cewe’ sih daripada cowo’. #eh #lospokus

Yak, makannya sudah selesai. Sudah hampir tengah malam, dan ayam lengkuas siap ditimbun menjadi lemak-lemak yang merajalela dalam tubuh. Selamat malam :p *elus-elus perut | perutnya Rio Dewanto* #yakali

Mengejar Lumba-Lumba ke Teluk Kiluan

Well, sebenarnya saya tidak terlalu suka binatang dan agak takut hampir ke semua binatang yang ada kemungkinan menyerang saya. Maklum, saya suka berimajinasi berlebihan. Kalau dideketin kucing aja berasa mau dicakar, ya minimal dijilat deh.. Jadinya baru ngeliat aja udah parno. Demikian juga binatang lainnya, termasuk yang habitatnya di air. Mungkin karena itu saya tidak suka memelihara binatang. Mending juga melihara tuyul. Lebih menghasilkan. #eh #lospokus

Namun hobi jalan-jalan dan main ke pantai atau laut membukakan mata saya. Banyak binatang yang menarik, untuk lihat tentunya, bukan dipelihara. #tetep :p Selain beragam jenis ikan dengan beragam warna yang ada di laut sana, ternyata lumba-lumba juga memiliki pesona yang menawan. Bukan hanya dari bentuknya, gerakannya, tapi juga keberadaannya yang langka. Maksudnya, tidak di setiap daerah kita bisa dengan mudah menemukan lumba-lumba. Dan tidak setiap saat juga kita bisa melihat lumba-lumba, kecuali di Ancol ya…

Beberapa waktu lalu saya dan teman-teman pergi ke Teluk Kiluan yang terletak di Lampung. Desa Kiluan sendiri sekitar 3 jam dari Bandar Lampung. Akses jalan ke desa Kiluan pun kurang bagus. Ditambah lagi belum terjangkau layanan listrik dari PLN dan susah sinyal handphone. Di beberapa tempat bahkan sama sekali tak bersinyal. Lalu penenrangan di sana pakai apa? Pakai genset. Hampir setiap rumah punya genset sebagai sumber listrik, yang dihidupkan dari sore sampai malam.
Oh, apakah deskripsi tentang desa Kiluan menjadi nggak menarik? Nope. Justru tidak berlistrik dan tidak bersinyal itulah yang bikin tambah seru. Feels like a real escape. πŸ™‚

Komoditi utama dari wisata Teluk Kiluan adalah “dolphin hunting”, selain pantainya juga cukup bagus karena masih alami, belum banyak terjamah tangan iseng manusia. Beberapa waktu yang lalu saya dan teman-teman mengunjungi Teluk Kiluan. Kami sampai membuat tagar khusus di twitter, #KiluanTrip. Buat saya, ini adalah kali kedua saya ke Teluk Kiluan. Akhir tahun lalu saya sudah mengunjungi Teluk Kiluan bersama Backpackseru, dan April tahun ini saya kembali lagi ke sana. Karena menurut saya memang cukup menarik, dan pada kunjungan pertama saya belum puas moto-motin lumba-lumbanya. Gara-gara kendala teknis kamera juga, jadi banyak ketinggalan moment-nya.

Dan alasan yang membawa saya kembali lagi ke Teluk Kiluan pun terjawab. Walaupun sempat khawatir karena cuaca April kemarin agak kurang bagus serta sering hujan, tapi agenda “dolphin hunting” kala itu justru lebih seru dibanding “dolphin hunting” pada kunjungan pertama saya. Lumba-lumbanya udah mulai PD menampakkan diri. Bahkan pamer lompatan indahnya di depan, di samping, dan mengikuti perahu kami. Amazing! Saya dan teman-teman langsung jatuh hati, terbius pesonanya si lumba-lumba di Teluk Kiluan. WOW deh pokoknya. πŸ˜€
Waktu itu kami berangkat dari homestay sekitar jam 6.45 pagi. Awalnya gelisah, takut tidak kebagian lumba-lumba. Karena kan lumba-lumba keluarnya pagi, untuk mencari sinar matahari. Tapi karena waktu itu semalaman hujan, dan paginya juga masih gerimis, jadi keberangkatan kami tertunda. Ketika gerimis mulai agak reda, kami langsung memaksakan untuk berangkat. Untungnya kekhawatiran kami, terutama saya yang sebelumnya pernah “dolphin hunting” berangkat jam 6 kurang, tidak terjadi. Sekali melihat penampakan lumba-lumba, selanjutnya menemukan lumbailumba jadi terasa mudah. Yay!

Sayangnya kami juga tidak bisa berlama-lama bercengkerama bersama lumba-lumba. Hari sudah semakin siang dan kami harus segera bersiap kembali ke Jakarta. Satu hal yang saya sesalkan, kenapa saya tidak merekamnya dalam sebuah video. Padahal lumba-lumbanya lagi gesit-gesitnya. Tiba-tiba muncul dari bawah perahu, muncul di depan atau samping perahu, berkelompok. Saya sudah terlalu sibuk dengan kamera dan terkadang enggan menonton lumba-lumba dari balik lensa. Pengennya bola mata ini ada menu capture, save, share, sama print-nya :p Mungkin itu bisa jadi alasan saya kembali lagi ke Teluk Kiluan. Hehe..

Wisata Teluk Kiluan tidak hanya “dolphin hunting”. Kunjungan ke beberapa pantai seperti Pantai Klara dan Pantai Pasir Putih juga cukup menarik. Lalu menyinggahi pulau-pulau kecil di sekitar Teluk Kiluan, snorkeling, dan tinggal di homestay di pulau tak berpenghuni juga sangat menarik. Waktu itu kami memginap di homestay baru berbentuk rumah panggung dari kayu, belakang rumah bikit dan hutan, depan rumah langsung pantai, bersama dengan 2 homestay lainnya, tanpa rumah penduduk. Go pack your bag and let’s escape! πŸ˜€