Menulis Jurnal Harian Bukan Untuk Semua Orang

jurnal harian silvafauziah blog

Sudah #dirumahaja hari ke-61.

Sudah skip 8 hari dari #31HariMenulis.

Beberapa hari belakangan sudah merasa bosan, mood nggak karuan, bingung mau ngapain karena males juga mau ngapa-ngapain. Ada yang merasakan begitu juga?

Sempat ada harapan untuk bertahan karena Juni akan segera datang. Juni akan kembali normal. Perlahan pandemi ini akan hilang. Juni aku bisa pulang. Namun sekarang aku bimbang… Harapan sepertinya akan terbang meleset dari bayangan.

Harus mulai menata emosi lagi. Dulu kalau aku mau isi ulang baterai emosi, aku cenderung melakukan hal yang berkebalikan dengan hal keseharian yang aku suka dan lakukan. Misal, aku bisa impulsif pergi ke suatu tempat atau membeli sesuatu yang akan aku sesali setelahnya. Yang lebih minim risiko, aku akan makan makanan yang sudah ada di wishlist tapi belum kesampaian, makan dessert manis, minum kopi, atau mengalihkan perhatian ke menonton film.

Aku sering baca kalau menulis jurnal juga bisa dipakai terapi emosi. Terdengar keren dan produktif dibanding yang biasa aku lakukan. Maka akupun mencoba. Sebagai newbie, biar ada sedikit panduannya dalam menulis jurnal harian, aku memilih buku “The Mind-Body Peace Journal” karya Sandra E. Johnson. Jadi di dalam buku itu ada 366 quotes dan intro untuk mengantarkan kita mengenal emosi dan mengingat suatu memory terkait dengan quote tersebut, yang berbeda setiap harinya selama satu tahun.

the mind body peace journal

Apakah manjur? Oh, sayangnya nggak berhasil di aku. Apa memang menulis jurnal bukan untuk semua orang? Bukannya menjadi terapi, aku malah merasa terbebani harus membaca dan menulis sesuatu setiap harinya. Semacam tugas tambahan. Si Virgo yang nggak suka pending items tapi di sisi lain mood suka berubah dengan cepat ini jadi ngerasa gelisah kalau ada tugas yang belum diselesaikan. Ujung-ujungnya, aku malah frustrasi dan makin depresi. Membaca good quotes atau tulisan singkat yang mengena perasaan saat itu kadang membantu. Tapi tidak dengan menulis jurnal HARIAN. Aku menyerah.

Akhirnya, kamar tidur yang biasanya aku sakralkan dan tidak boleh ada makanan bahkan cemilan sekalipun masuk… Semalam aku ngemil kue kesukaan di dalam kamar sambil cekikikan sama anakku yang juga senang bukan kepalang karena boleh ikut makan di dalam kamar.

Salam manis dari kue ketapang.

silvafauziah

Author: Silva

A hardheaded woman, a wife, a mom of one, who is still figuring out about life. Contact: silva.fauziah@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s