“Oleh-oleh” Gala Premiere Film Critical Eleven

gala premiere critical eleven

Hai, I’m back! ;p

Fiuh… Setelah marathon dengan banyak tugas dan peran yang “serius”, saya cenderung jadi orang yang serius walaupun tetep punya selera humor. Saya lupa kapan terakhir nonton film drama romantis ataupun baca novel picisan. Kayaknya udah lama banget. Terus minggu lalu, tepatnya hari Jumat (5/5), saya berkesempatan datang di acara gala premiere pemutaran film Critical Eleven plus ngeliat langsung hampir semua aktor dan aktrisnya di Plaza Indonesia, Jakarta. Iya, film ini diadopsi dari novel dengan judul yang sama, karya Ika Natassa yang laris manis pake banget. Udah gitu aktornya Reza Rahadian. Makanya saya semakin excited buat nonton. He never fails to impress me as an actor. Oh, tenang… I will not spoil you more than the synopsis did. 😉

Film Critical Eleven ini mulai tayang di bioskop tanggal 10 Mei 2017, which is besok. Lucky me bisa nonton duluan minggu lalu, karena kebetulan Bank Mandiri chip in (kerjasama) di film itu. So, kalian bakal ngeliat LINEPay e-cash dan e-money ‘mejeng’ di film itu. Hehe… Ngomong-ngomong soal novelnya Ika Natassa, saya hampir selalu baper tiap baca novelnya. Mungkin karena dia sering ngangkat karakter cewe yang kuat dengan background sebagai banker dan kebetulan dia kerja di Bank Mandiri juga. I feel so close with the situation that she develops. Terutama yang Antologi Rasa. Karakter cewe (tokoh utama) di Critical Eleven bukan banker sih, tapi di financial industry juga. Dan karakter cowo (tokoh utama) kerja di mining industry. Hmmm, bakal lebih baper nih kalau background cowonya samaan kayak suami saya. *maaf ya kebanyakan baper

Critical Eleven adalah 11 menit masa kritis dalam dunia penerbangan, yaitu 3 menit setelah take off dan 8 menit sebelum landing. Mostly kecelakaan pesawat terjadi di masa-masa kritis itu. Film ini nggak nyeritain soal kecelakaan pesawat kok. Tapi moment kritis di 3 menit pertemuan pertama antara Ale (Reza Rahadian) dan Anya (Adinia Wirasti), serta 8 menit moment terakhir di sebuah penerbangan dari Jakarta ke Sidney yang mentukan apakah akan ada lagi moment Ale-Anya berikutnya. Berhubung saya belum baca novelnya, saya sempet mikir dan berharap filmnya akan banyak berlatar interaksi mereka selama di pesawat, macam film Before Sunrise. Tapi ternyata nggak…

Kalau soal jalan cerita film, kalian bisa liat di sinopsis yang udah ada di website Cinema, blog Ika Natassa, dan situs lainnya. Yang mau saya share di sini adalah “oleh-oleh” yang saya dapat dari menonton film itu. Saya jadi punya point of view yang baru dalam menghadapi konflik dengan pasangan. Walaupun saya udah pernah tamat baca buku “Men are from Mars, Women are from Venus” bukan berarti saya tamat juga buat paham dan menerapkannya di kehidupan nyata. Iya kurang lebih tau kalau cewe pemikirannya gini, cowo pemikirannya gitu, so ya udahlah jalan keluarnya ya saling mengerti perbedaan masing-masing aja. Tapi aplikasi di kehidupan nyata sulit banget bok! Apalagi buat cewe keras kepala dan punya ego tinggi macam saya.

Adalah wajar kalau masing-masing pihak punya perasaan dan pemikiran yang beda. Ada kalanya cewe pemikirannya lebih complicated. Sekali perasaannya tersakiti karena treatment yang salah dari pasangan, kayaknya udah terlukaaa banget. Sampe-sampe permintaan maaf yang tulus aja nggak cukup mengobati rasa sakit itu. Perlu pengorbanan yang lebih sakral buat menebus kesalahan itu. Sedangkan dari pihak cowo mikir ya terlepas dari siapa yang lebih salah, dia udah lebih berbesar hati minta maaf dan do something yang ternyata buat si cewe masih belum cukup. Saya pernah ada di situasi seperti itu. Persis sama perasaannya sama Anya walaupun case-nya beda. Tapi ketika saya nonton itu di film, saya malah gemes sendiri sama Anya sambil ngebatin, yaudah siii maafin aja. Itu bukan sepenuhnya salah Ale. Ale punya situasi yang sulit juga. Ale udah minta maaf dan coba lakuin ini itu. Terus langsung terdiam… Eh berarti pandangan pihak ketiga di luar pelaku konflik itu begitu ya… Langsung buat bahan instropeksi diri saya sendiri deh.

Well, is it worth to watch? Menurut saya nggak ada ruginya buat nonton. Aktingnya Reza Rahadian bagus, ceritanya lumayan mengaduk-aduk emosi dari yang kesengsem, ikutan kasmaran, sedih, kecewa, semua ada. Walaupun menurut yang udah baca novelnya, as always, masih lebih bagus yang ada di bayangan mereka. Ekspektasi masing-masing sih…

Yang berencana mau nonton, pastikan bawa cemilan atau makan dulu ya… Soalnya lumayan lama, 2 jam. Siapin tissue juga just in case ada moment mewek kayak saya. :p

Selamat menonton! 🙂

silvafauziah

Author: Silva

A long distance wife, working mom, and breastfeeding mother who's eager to learn more about raising a kid. Live today with passion and plan tomorrow with mission. Contact: silva.fauziah@gmail.com

4 thoughts on ““Oleh-oleh” Gala Premiere Film Critical Eleven”

  1. Waaah enaknya mba Silva udah nonton duluan. Saya udah baca novelnya dan suka (dalam arti baper juga sih hehehe), tetep mau nonton walaupun kayak apa jadinya filmnya…tapi penginnya nonton berdua, padahal nyari waktunya susaaah :D.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s