#WHENMOMMIESTALK : Ibu VS Support System dalam Pengasuhan Anak

pengasuhan anakDalam segmen #WHENMOMMIESTALK kali ini, saya dan Ayu mau ngomongin soal support system kami dalam pengasuhan anak. Berhubung kami berdua bekerja di luar rumah, kami memang sangat membutuhkan bantuan orang lain dalam menjaga dan mengasuh anak sehari-hari. Bedanya, support system Ayu adalah orang tua/mertua, sedangkan saya dibantu oleh pengasuh. Nggak sepenuhnya pengasuh sih, mertua saya juga monitor dan back up karena kami tinggal berdekatan. Cara ibu, kakek/nenek, atau pengasuh yang notabene bukan keluarga adalah wajar kalau ada perbedaan sudut pandang atau cara dalam mengasuh anak. Ini adalah challenge bagi orang tua bagaimana menjaga supaya nilai-nilai pengasuhan anak yang diinginkan bisa diterapkan walaupun ada perbedaan pandangan antara orang tua dengan support system-nya.

Saya kebantu banget dengan adanya pengasuh sebagai salah satu support system saya dalam pengasuhan anak. Walaupun nggak dipungkiri juga, nggak ada yang se-ideal yang saya mau. Ukuran ideal di sini pastinya beda-beda untuk setiap ibu. Dari dulu saya memang sudah punya idealisme kalau nanti punya anak maunya anak saya dirawat dengan cara ini, dididik dengan cara itu, diarahkan untuk menjadi seperti ini, dan ini itu lainnya. Tapi mengingat realita yang ada adalah saya harus bergantung dengan orang selain diri saya sendiri untuk mengasuh anak dan demi kewarasan jiwa raga, saya memilih untuk berkompromi dengan idealisme saya sendiri dan memilih mana yang benar-benar krusial untuk dipegang mana yang dibawa lebih santai.

Walaupun hampir setiap hari mertua saya juga “pegang” Aqila, tapi support system yang akan saya maksud di sini adalah pengasuh Aqila. Sebut saja Mba Endhul (bukan nama sebenarnya, tapi hanya nama panggilan *loh, sama aja buka jati diri dong ๐Ÿ˜€ *). Mba Endhul mulai mengasuh Aqila sejak Aqila berumur kurang lebih enam bulan. Berarti udah setahun lebih. Dia masih lajang dan belum pernah punya anak, tapi sebelumnya pernah bekerja mengasuh anak kecil juga. Pengalaman sudah punya anak atau ibu senior memang nggak mandatory buat saya. Yang paling penting jujur dan baik hati dulu aja. Justru saya prefer yang masih muda dan belum punya anak, biar lebih gampang di-brainwash sama prinsip-prinsip pengasuhan anak yang saya mau. Kadang kalau yang udah berpengalaman punya anak suka ngeyel dan menerapkan pola-pola pengasuhan yang udah pernah dia jalankan. Apalagi kalau udah ada kalimat pamungkas, “jaman saya punya anak kecil dulu begini” atau “dulu anak saya begini begitu nyatanya baik-baik aja”. Aduh, nggak deh… Bukannya saya nggak terima masukan dari yang lebih senior lho ya… Saya sangat terbuka. Tapi kalau udah ada pengetahuan yang ter-update dan lebih valid, ya berbesar hatilah untuk berubah.

Call me a bit perfectionist, tapi saya masih termasuk orang yang realistis kok. Dalam hal pengasuhan anak, saya memang cukup detail brief Mba Endhul dari A sampai Z. Seperti, rutinitas Aqila dalam sehari harus ngapain aja, bagaimana cara mandiin, cara ngasih makan, apa yang boleh dan nggak boleh, guideline kalau terjadi case tertentu tindakannya harus apa, kalau nggak sukses rencana A bagaimana plan B-nya dan sebagainya. Kebetulan Mba Endhul ini bukan tipe risk taker, jadi untuk hal apapun dia akan nunggu komando saya atau tanya ke saya. Tapi lama-lama udah mulai ngerti, kebiasa, dan bisa berinisiatif berdasarkan pengalaman juga sih… So far jarang banget kejadian konflik atau bertentangan. Tapi lebih ke nggak semua yang saya arahkan bisa dijalankan. Terutama dalam hal kedisiplinan. Kalau Mba Endhul lebih conditional dan cenderung nurutin apa mau Aqila. Takut juga kali kalau Aqila nangis-nangis. Ntar dikira tetangga dia ngapa-ngapain Aqila. Alasan ini bisa dimengerti sih, tapi kalau kata “ilmu parenting” yang pengen saya terapkan, nggak begitu harusnya. Nah kalau soal ini pelan-pelan masih saya coba luruskan ke Aqila dan Mba Endhul.

Dari pengalaman saya sejauh ini, saya mau share beberapa tips bagaimana membangun support system yang kondusif dalam pengasuhan anak:

  1. Jelaskan di awal, apa prinsip-prinsip pengasuhan yang ingin ibu terapkan pada anaknya. Sampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti tentunya.
  2. Brief sedetail mungkin untuk setiap arahan yang ibu berikan. Misal pada saat Aqila MPASI 6-12 bulan, saya brief di awal bahwa saya pengen MPASI ini homemade, bagaimana medium pemberian makanan/minuman, apa yang boleh dan nggak boleh di setiap tahapan usia Aqila. Waktu itu saya set jadwal makan dan menu Aqila setiap harinya, dan saya tempel di kulkas. Makanan maupun minuman (ASIP) yang diberikan ke Aqila pun sudah saya siapkan sesuai rincian yang ada di jadwal. Jadi Mba Endhul tinggal liat catatan itu aja. Terus tiap malam saya tanya feedback Aqila merespon makanan/minuman sama kondisi BAB, sebagai bahan review saya untuk penyusunan menu berikutnya. Untuk sekarang ini, berhubung Aqila sudah 19 bulan, jadi udah nggak terlalu ketat lagi soal makanan/minuman. Sebenernya saya pengennya nyusun jadwal “permainan Aqila hari ini” untuk panduan Mba Endhul supaya bisa bantu saya kasih stimulus yang baik bagi tumbuh kembang Aqila. Tapi mamanya Aqila ini lagi sok ngerasa sibuk jadi belum kesampean. Paling lisan aja ngomongin suruh mainan ini itu, tapi jadinya belum terarah. Apalagi Mba Endhul kalau liat mainan berserakan bawaannya gatel pengen cepet-cepet ngeberesin, terus disimpen di box dan kadang nggak kejangkau Aqila.
  3. Ibu harus tegas dan konsisten. Ini penting. Karena kalau support system ngeliat ibu nggak konsisten, mereka akan bingung dan jadi kurang mematuhi apa yang sudah disampaikan di poin nomor 1 dan 2.
  4. Sesekali ajak juga support system ibu untuk baca referensi pengasuhan anak yang ibu pakai atau ajak ke acara/seminar/parenting sharing yang diikuti ibu, biar bisa denger langsung dan membuka wawasan soal pengasuhan anak.
  5. Last but not least perhatikan juga kebutuhan dan aspirasi support system ibu. Kalau katanya happy moms raise great kids, demikian juga orang lain yang mengasuh anak kita.

Selain sebagai pengasuh Aqila, saya juga seneng kalau Mba Endhul memposisikan dirinya sebagai temen main Aqila. Karena dengan begitu, dia nggak akan ngerasa kepaksa waktu harus spend time sama Aqila, ngerawat Aqila, dan ngajak main Aqila. Somehow ngeliat Mba Endhul yang menjiwai banget pas main sama Aqila dan Aqila yang bisa deket, becanda-becanda sama Mba Endhul, saya jadi ngerasa tenang. Berhubung Mba Endhul ini nggak gaptek-gaptek amat, kadang saya dikirimin atau ngeliat foto dia yang lagi konyol-konyolan selfie sama Aqila, bahkan sampai bikin video dubsmash. Haha… Ada plus minusnya, tapi sekali lagi, nggak akan ada yang seideal yang kita mau. Alhamdulillah sudah bersyukur dengan kondisi sekarang. Semoga makin kondusif dan baik-baik saja seterusnya.

fun selfie with baby
Ini salah satu foto kelakuan Mba Endhul dan Aqila waktu saya tinggal kerja.

Baca juga cerita Ayu di sini.

Terima kasih sudah membaca blog saya. ๐Ÿ™‚

silvafauziah

Author: Silva

A long distance wife, working mom, and breastfeeding mother who's eager to learn more about raising a kid. Live today with passion and plan tomorrow with mission. Contact: silva.fauziah@gmail.com

6 thoughts on “#WHENMOMMIESTALK : Ibu VS Support System dalam Pengasuhan Anak”

  1. Dapat pengasuh yang telaten, jujur, sehat, dan bisa bekerja sama dengan baik itu memang anugerah banget ya Mbak… Nyari yang sempurna memang susah, tapi berharap yang terbaik boleh kan ya, walaupun kadang khawatir juga kalau udah beda pendapat gitu huhuhu, bikin gak betah gak ya….

    Like

  2. mbak, untuk point nomor 4 sudah pernah dilakukan belum? Misalnya ngajak mbak endhul seminar parenting gitu2. Pengen denger experience-nya kalo emang udah.
    Soalnya kalo di aku nampaknya gak bakalan bisa point no.4 ini. Nulis sms aja, mbakku itu masih acak adul nyusun huruf per kata (padahal sms dalam bahasa indonesia loh ya. Jadi misalnya buat nulis kata “ongkos” aja dia selalu nulis “ogkos. Awalnya kupikir dia salah ketik, eh ndilalah berkali2 ya diulang begitu lagi), gak kebayang kalo diajakin seminar parenting yang bahasanya modern dan sesekali ada istilah inggrisnya, hehe ๐Ÿ™‚

    Like

    1. Udah pernah Mba… Kebetulan Mba Endhul ini lumayan gampang diajari. Ikutan nyanyi lagu-lagu Barney yang bahasa Inggris juga dikit2 bisa. Disiasatinnya, abis acara Mba Imelda ajak ngobrol, rangkumin hasil seminar dan disampaikan pake bahasa yang bisa dia mengerti coba Mba… Setidaknya satu atau dua poin yang nyantol, lumayan lah ya…

      Liked by 1 person

  3. saya merasa susah untuk memberikan kepercayaan kepada oranglain terkait merawat buah hati, namun kondisi yang tidak memungkinkan memang menjadikan harus. terimakasih atas artikelnya ini bisa kami jadikan bahan pembelajaran

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s