#WHENMOMMIESTALK : #TBT Ketemu Jodoh

baju pengantin adat jawaDi segmen #WHENMOMMIESTALK kali ini, saya dan Ayu mau ikutan #TBT (Throw Back Thursday) ke waktu pertama kali kami ketemu jodoh alias suami. Bahasan ini selalu menarik buat saya karena cerita awal mula saya ketemu sama suami bener-bener nggak pernah saya bayangkan sebelumnya. Mirip cerita FTV tapi yang kali ini real dan saya alami sendiri. Memang jodoh itu misteri Tuhan ya… Kita nggak akan pernah tau jodoh kita kapan dan dari mana datangnya.

2012 – Sebuah Awal

Berawal dari tahun 2012, masa di mana saya sedang menikmati (sekali) masa jomblo saya. Tahun 2012 ini bisa dibilang salah satu momenΒ  gemilang dalam track record saya bekerja di institusi sekarang. Saya melakukan dan mencapai banyak hal. Di luar pekerjaan pun saya puas melakukan banyak hal lain seperti komunitas fotografi, mengenal banyak orang baru, terlibat dalam social movement yang sangat positif, dan sebagainya.

Bulan Desember, randomly ada pesan masuk di Whatsapp dari nomor nggak dikenal yang tiba-tiba menyapa dan memperkenalkan diri. Saya nggak pernah antusias sama sapaan orang asing apalagi ajakan berkenalan lewat social media atau instant messaging. Waktu itu saya masih berbaik hati merespon walaupun sekedarnya dan ada delay time yang menguji kesabaran. Belakangan saya tahun bahwa dia adalah seorang pria yang sedang bekerja di pulau yang berbeda tapi berasal dari Jakarta coret (Bekasi lebih tepatnya) dan tau nomor HP saya dari Linkedin. Ternyata kami udah berteman di Linkedin tapi saya nggak ngeh.

2013 – Tahun Berkarya dan Berproses

Percakapan berlanjut sampai di bulan pertama tahun 2013. Masih tetap berbeda pulau, belum pernah bertatap muka. Dan yang paling mengejutkan buat saya, dia udah to the point bilang mau menjajaki saya untuk dijadikan calon istri. What?? Nggak salah denger? Calon istri?? Hello… Belum juga kenal lama dan ketemu langsung. Tapi ternyata saya memang nggak salah denger. Waktu itu sih saya belum bisa menjanjikan apa-apa. Saya mau mengenal lebih jauh dan bertemu langsung dulu. Pernikahan itu bukan keputusan sepele. Sekali seumur hidup.

Awal Februari dia ada jadwal off duty, jadi bisa pulang ke Jakarta dan kami pun bertemu untuk pertama kalinya. Saya masih inget kami janjian makan siang di resto Beautika (restoran Manado) di kawasan SCBD, dekat kantor saya waktu itu. Literally cuma makan siang, ngobrol-ngobrol dan kembali ke aktivitas masing-masing. Nggak tau suami saya masih inget apa nggak nama restonya. Kayaknya si nggak. Haha… Dan saya kok baru kepikiran sekarang buat ngajakin suami makan di sana lagi buat mengenang pertemuan pertama ya? :))

Setelah itu komunikasi berlanjut. Makin intens. Sesekali Skype. Dan setiap ada jadwal off duty pasti itulah jadwal kami bisa ketemu. Dia menunjukkan i’tikad makin serius dan ingin menemui orang tua saya di Jawa Tengah. Awalnya saya masih defensif. Yakin nggak sih saya sudah mau berproses ke hubungan yang lebih serius lagi secepat ini? Yakin nggak sih udah siap nikah? Dan banyak pertimbangan lainnya. Sampai akhirnya beneran kesampean juga dia ikut saya pulang kampung buat menghadap ke orang tua saya. Kemudian sebaliknya, saya dibawa ke orang tuanya.

2014 – The Day

Semua proses perkenalan dan rencana pernikahan terasa cepet banget buat saya. Tapi prosesnya tetap belanjut dan belanjut. Tiba saatnya temu antara kedua keluarga besar kami dan lamaran di kampung halaman saya. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar dan kedua keluarga kami menyambut baik rencana kami yang ceritanya udah siap untuk menikah. Untuk acara pernikahan kami ini, kami memutuskan untuk handle semuanya sendiri, tidak melibatkan keluarga besar terutama dalam hal material.

Tahun ini menjadi tahun yang tough buat kami. Kami harus kencangkan ikat pinggang demi persiapan pernikahan yang sesuai idealisme kami. Persiapan pernikahan yang calon mempelainya terbentang antara Riau dan Jakarta tapi ingin menikah di Yogyakarta (nah loh muter-muter) itu sungguh warbiasak jenderal! Tapi untungnya kami dibantu wedding organizer yang sengaja kami pilih berdomisili di Yogyakarta supaya memudahkan kami koordinasi dan menghubungkan dengan pihak-pihak di Yogyakarta.

Kenapa Yogyakarta, bukan Jawa Tengah atau Jakarta? Yogyakarta terlalu istimewa buat kami. Ternyata kami sama-sama pernah kuliah di Yogyakarta, di universitas yang SAMA tapi sampai lulus nggak saling kenal. Saya anak sosial dan dia anak teknik. Kampusnya jauhan. Beda dunia. Belum tentu juga kalau dulu ketemu terus langsung berjodoh. Hehe… Kuasa Tuhan ya… Selain itu juga untuk mempermudah akses kerabat dan tamu yang datang, maka kami pilih Yogyakarta.

Bulan Oktober 2014, kami menikah.

2015 – Welcoming Aqila

Alhamdulillah kami langsung diberi rejeki berupa anak yang terlahir sehat dan menggemaskan. Kehadiran Aqila bener-bener menambah warna baru buat kami berdua. Saya jadi ngerasa nggak kesepian kalau lagi ditinggal suami kerja. Dunia saya terasa lengkap. Mudah-mudahan kami bisa menjaga amanah dengan baik.

See? Saya nggak pernah menyangka sebelumnya bakal ketemu jodoh saya di dunia maya, lewat social media yang namanya Linkedin. Ternyata Linkedin nggak cuma bisa bantu kita dapetin kerjaan, tapi juga dapet jodoh. Haha… Jaman dulu belum kenal aplikasi semacam Tinder dan semacamnya.

Baca juga cerita Ayu di sini.

Terima kasih sudah mampir ke blog saya. Feel free to share cerita kalian soal momen pertama kali kalian ketemu dengan pasangan ya πŸ˜‰

signature-01

 

Author: Silva

A long distance wife, working mom, and breastfeeding mother who's eager to learn more about raising a kid. Live today with passion and plan tomorrow with mission. Contact: silva.fauziah@gmail.com

16 thoughts on “#WHENMOMMIESTALK : #TBT Ketemu Jodoh”

  1. Namanya jodoh ga disangka-sangka datangnya. Kalau memang sudah jalannya semua hal seperti dipermudah olehNya, walaupun melalui berbagai rintangan seperti jarak. Saya dulu juga LDR Jakarta-Surabaya. Alhamdulillah rejeki setelah menikah bisa 1 kota 😊. Semoga suatu hari nanti bisa seKota dengan suami yaa..

    Like

  2. Yess.. Ada yang senasib ma aku.. Sama2 kenal suami dari dunia maya.. Soalnya kadang ada rasa malu kalo ditanya orang giman bisa kenal suami?.
    Semoga langgeng ya mak.. Sakinah mawaddah warohmah.. Aamiin…

    Like

  3. Prosesnya cepet ya Mbak. Ala FTV banget. Hehe. Tapi emang kalo urusan jodoh mah hak prerogratif Tuhan. Yang baru kenal bisa jadi jodoh, yang udah kenal sekian tahun plus pacaran pula, bisa aja bubar di tengah jalan.

    Longlast ya Mbak. Bahagia selalu sama keluarga kecilnya. :*

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s