#WHENMOMMIESTALK : Soal Tetangga

soal tetanggaNamanya hidup di daerah padat penduduk seperti di Pulau Jawa ini, pastilah kita punya tetangga. Katanya, tetangga itu saudara kita yang terdekat. Kalau ada apa-apa sama kita di rumah, tetangga lah yang lebih dulu tau dibanding saudara kita yang tinggalnya jauh. Itulah kenapa kita harus kenal dan menjaga hubungan baik dengan para tetangga. Tapi bersilaturahmi dengan banyak orang dan banyak karakteristik yang berbeda, nggak segampang yang diucapkan. Nyatanya ada aja cerita aneh. lucu, nyebelin, asik, nyenengin, dll soal tetangga. Ya kan?

Basically saya memang bukan tipe orang yang pandai bercengkerama dengan tetangga. Dulu waktu masih tinggal serumah sama orang tua, bisa dibilang saya nggak pandai bersosialisasi dengan tetangga. Kalau orang Jawa bilang, kurang srawung. Nggak seperti adek saya yang lebih kenal banyak tetangga dibanding saya. Kalau pulang sekolah biasanya saya lebih memilih tidur sore dan kalau weekend di rumah aja atau beracara sama teman sekolah yang kebanyakan justru tinggalnya jauh dari rumah. Makanya waktu saya kuliah dan kost di Jogja, ibu wanti-wanti banget ke saya untuk kenal dan share nomor HP tetangga kamar ke ibu. Begitupun pas saya kerja dan kost di Jakarta.

Kalau dulu saya masih bisa “mengelak” soal tetangga ini, sekarang berhubung sudah punya rumah tangga sendiri, jadi ibu rumah tangga, mau nggak mau harus bisa bersosialisasi dengan baik sama para tetangga. Untungnya saya masih tinggal nggak jauh dari mertua saya. Jadi setidaknya saya sebagai pendatang baru sudah ada “jembatan” yang menghubungkan saya dengan para tetangga yang tinggal lebih dulu. Kebetulan mayoritas warga di tempat saya tinggal seumuran dengan mertua saya, jadi saya kebantu banget sama mertua yang mengenalkan dan selalu menginfokan kalau ada berita atau acara di komplek yang harus saya tau dan ikuti.

Dalam bertetangga, saya termasuk tipe yang cari aman dan cinta damai. Seminimal mungkin terlibat dalam konflik. Jadi ketika ada hal yang nggak sepaham sama saya, asal nggak merugikan, saya memilih mundur dari perdebatan dan mengikuti kesepakatan bersama. Kecuali kalau dimintain pendapat atau bantuan, baru saya ikutan sesuai cara dan kemampuan saya.

Tapi namanya tipe orang beda-beda, udah memposisikan diri “cari aman” seperti itu, ternyata tetep aja ada kejadian yang kurang mengenakkan menimpa saya dan keluarga. Beberapa kali saya speechless sama kelakuan tetangga (cuma satu keluarga sih) saya. Kenapa speechless? Karena saya bingung. Perasaan nggak pernah bikin masalah, mendebat opini, apalagi hal-hal yang merugikan mereka. Bahkan nggak terlalu banyak interaksi karena sehari-hari saya bekerja. Sering terjadi obrolan yang ujung-ujungnya nggak enak, ngebanding-bandingin. Apalagi kalau udah ngebandingin soal anak masing-masing, saya milih nyengir aja deh. Walaupun saya nggak direndahkan, justru sebaliknya, tapi saya tetep ngerasa nggak nyaman. Belum lagi soal kepo dan sindiran. *duh, mundur teratur* Tapi yang paling bikin saya kesel adalah Aqila pernah kena cubit sampe bekas cubitannya biru dan di lain waktu pernah juga ada luka baret bekas kuku. Grrrrr… Mulai nggak lucu dan *maaf* kampungan. Saya udah nggak bisa kompromi lagi kalau udah menyangkut anak saya. Tapi untungnya mertua dan sahabat saya bisa menenangkan saya untuk nggak berhadapan langsung dengan si pelaku. Akhirnya mertua saya yang mewakili ngomong baik-baik dan kami memilih jaga jarak. Fiuh…

Well, saya sangat menyayangkan sih ada aja oknum yang berperilaku “aneh” menurut saya. Sampai sekarang saya masih no clue kenapa hal itu bisa terjadi. Rasanya pengen ngomong langsung, masalahnya apa? Apa saya punya salah yang nggak saya sadari? Tapi saya juga takut kalau ujung-ujungnya jadi ribut dan malah semua tetangga tau. Takut malu. Sekarang aja kalau mau negur, yang mau saya tegur itu udah menghindar duluan. Jadi menurut kalian apa yang harus saya lakukan? Atau ada yang memiliki pengalaman yang sama kah?

Baca juga cerita Ayu soal 3 tipe tetangganya di sini.

Terima kasih sudah mampir ke blog saya. 🙂

signature-01

Author: Silva

A long distance wife, working mom, and breastfeeding mother who's eager to learn more about raising a kid. Live today with passion and plan tomorrow with mission. Contact: silva.fauziah@gmail.com

6 thoughts on “#WHENMOMMIESTALK : Soal Tetangga”

  1. Those cute lips!! Gemesss siapa namanya??

    Kita hampir samaan yang namanya menghadapi konflik ..mau ke tetangga atau ke siapa saja..Aku paling males yang namanya ribut. Mending mundur trus nangis di kamar 😀 korbannya suami..tempat curhat yang setia.. 😀

    Like

  2. Udh pernah tapi Alhamdulillah gak nyampe nyentuh anak, klo ak sii gak negur y, d tegurpun gak jwb atau dia dlu mau d tegur ngindarin duluan. Y udh klo ktmu posisi kepepet ak pura2 sibuk nglibatin anak hahaha buat alasan ya anak, exp. Kenapa gatel nak, liat sini nak sambil ngusap2 n liatin tangannya.
    Itu siihh 1 alasan tetangga SYIRIK sama kita, mudah2an apa yg buat dia iri sama kita klo hal baik jdi rejeki kita gitu aja, klo ak cuek sekalian ahh gak dibikin worry.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s