#WHENMOMMIESTALK : Resolusi 2017 & #WHENMOMMIESTALKGIVEAWAY

resolusi-2017Nggak kerasa ya kita udah sampe di penghujung tahun aja. Makin ke sini rasanya setahun terasa makin singkat. Udah bikin resolusi tahun 2017? Sebenernya saya bukan tipe orang yang setiap tahun membuat resolusi. Target dalam hidup ada, tapi untuk membuat sebuah resolusi tahun baru, saya nggak mau cuma ikut-ikutan euforianya aja tapi kemudian lupa sejak bulan Januari beneran datang. Dua tahun belakangan, saya beneran nggak bikin resolusi apapun. Memilih mengalir aja menjalani peran baru sebagai istri dan ibu sambil tetap bekerja dengan baik. Tapi penghujung tahun kali ini saya sungguh-sungguh membuat resolusi 2017, karena saya rasa udah waktunya untuk take off dan kembali menata impian saya yang lain.

Ketika Ayu ngusulin topik soal resolusi buat segmen #WHENMOMMIESTALK kali ini, saya langsung bilang setuju. Karena memang saya lagi semangat banget buat merencanakan hidup saya di 2017. Dulu saya pernah punya target hidup yang saya tulis di profil (bio) blog saya, yaitu lulus S1 sebelum usia 21 tahun dan menikah 5 tahun setelahnya. Keduanya tercapai. Dan waktu itu tercapai, saya masih belum ngeh. Pas saya buka-buka profil blog lama, OMG those exactly came true as I wished! Saya jadi semangat untuk membuat target hidup lainnya lagi, write/tell it and work fot it.

Saya udah pernah menceritakan resolusi 2017 saya ke beberapa teman, dan tentunya ke suami. Tapi saya belum berani publish di blog maupun social media dulu. Hehe…. Yang pasti clue-nya adalah tentang self improvement (ntah itu formal education atau bukan) dan karir. Atau hidup di tempat yang baru? Hhmmm… Let’s see… Satu hal yang pasti saya harapkan dan bisa katakan di sini adalah saya ingin keluarga kecil saya berkumpul dalam satu rumah. Saya ingin Aqila bisa ketemu papanya setiap hari. Tumbuh makin besar, saya rasa Aqila butuh figur seorang ayah yang bisa dia lihat dan rasakan dari dekat. *nggak mau nerusin jadi makin panjang, takut mewek*

Well, membuat resolusi tahun baru itu sebenernya hal yang positif. Asal nggak sekedar ikutan euforia tapi terus lupa. Tulis secara spesifik resolusi tahun depan apa beserta timeline-nya dan bagaimana mewujudkannya (list step by step-nya). Target pengukuran tercapai atau nggaknya juga harus jelas biar nggak ngawang-ngawang, kalau perlu ada angkanya biar gampang ngukurnya. Setelah itu ceritakan resolusimu. Katanya semakin kita share mimpi kita ke orang lain, secara psikologis kita akan semakin berusaha mewujudkannya jadi nyata. Tapi yang paling penting, kita sungguh-sungguh make it happens. Semangat! 🙂

vintage-weekly-planner

Baca juga tulisan Ayu di sini.

Btw, segmen #WHENMOMMIESTALK udah masuk ke postingan ke-14 ini lho… Saya dan Ayu bikin #WHENMOMMIESTALKGIVEAWAY untuk pertama kalinya. Ini pertama kalinya kami bikin giveaway juga sih… Jadi ikutan deg-degan. Haha

whenmommiestalk-giveawayBegini cara ikutan #WHENMOMMIESTALKGIVEAWAY :

  1. Follow akun twitter, instagram, dan blog kami. Icon follow blog dan social media kami ada di blog kami masing-masing ya…
  2. Comment di bawah postingan ini, dari #WHENMOMMIESTALK 1 sampai dengan 13 (bisa dilihat di link ini) mana yang paling kalian suka dan beri alasannya.
  3. Nanti akan dipilih 6 comment yang paling menarik (3 dari comment di blog saya dan 3 lagi dari comment di blog Ayu). Kalau mau comment di keduanya juga boleh, justru kesempatan untuk menang bisa lebih besar kan? hehe…

Adapun hadiahnya sebagai berikut:

  • Pemenang favorit 1   : e-money dengan saldo sebesar Rp 300.000,-
  • Pemenang favorit 2  : produk dari The Body Shop Italian Summer Fig EDT 50 ml seharga Rp 339.000,-
  • Pemenang ke-3      : produk The Body Shop Argan Oil Body Lotion seharga Rp 159.000,- dan Voucher MAP Rp 100.000,-
  • Pemenang ke-4  : produk Bio-Oil 60 ml seharga Rp 120.000,- dan voucher MAP Rp 100.000,-
  • Pemenang ke-5   : produk Lipfinity Max factor seharga Rp 115.000,- , mascara Maxfactor seharga Rp 75.000,-  , dan buku Parents Stories karya Adhitya Mulya
  • Pemenang ke-6      : produk Lipfinity Max factor seharga Rp 115.000,- dan buku Parenthink karya Mona Ratuliu.

Oiya, pastikan udah follow kami ya…

#WHENMOMMIESTALKGIVEAWAY ini ditutup tanggal 17 Januari 2017 dan pemenang akan diumumkan pada tanggal 19 Januari 2017. Yuk ajak temen-temen yang lain untuk ikutan juga. 🙂

signature-01

Author: Silva

A long distance wife, working mom, and breastfeeding mother who's eager to learn more about raising a kid. Live today with passion and plan tomorrow with mission. Contact: silva.fauziah@gmail.com

28 thoughts on “#WHENMOMMIESTALK : Resolusi 2017 & #WHENMOMMIESTALKGIVEAWAY”

  1. mbak ikutan ya

    Nama: Imelda
    Twitter: @imeldasb
    IG: @imeldasutarno

    Dari semua #WhenMommiesTalk saya paling suka “Berteman dengan Mantan Pasca Menikah?”. Alasannya: sebagai ibu dua anak, postingan mengenai hal-hal seputar parenting, mengurus anak, mendidik anak dll dll sudah sering saya temukan, baca dan pelajari di banyak blog orang lain. Tapi ketika ibu-ibu berani posting soal berteman dengan mantan…? Wow! Ini nih yang jaraaang banget ada yang mau nulis. Bahkan mungkin bagi sebagian ibu2 blogger, nulis topik ini termasuk terlarang demi menjaga perasaan pasangan kita, dan juga keluarga. Nah makanya saya langsung tertarik banget bacanya. Pengen banget dapat tips-tipsnya gimana bisa tetap hidup bahagia dengan keluarga kita walau masih ada silaturahmi dengan mantan. Terima kasih sudah membuat postingan tersebut ya mbak, bermanfaat banget buat ibu-ibu macam aku ini yg terkadang galau kalo udah bersinggungan sama hal-hal yg berbau mantan hihi…..

    Oiya semua sosmednya sudah aku follow ya 🙂

    Like

  2. Hello sayyyy aku ikutan boleh ya!!
    Nama : Shanti Sudarmadi
    twitter : @nok_shanti
    IG : @shantisudarmadi

    Dari semua segmen #WHENMOMMIESTALK, aku paling suka #WHENMOMMIESTALK : LONG DISTANCE MARRIAGE? BRING IT ON! Kenapa? Karena setelah baca entah kenapa mendadak inget pengalaman penempatan kerja jauh dr keluarga selama 2 tahun, LDR sama suami selama 2 tahun, dan berakhir dengan rasa syukur yang begitu besar karena sekarang bisa kumpul bareng satu rumah dengan suami dan anak, tinggal dan bekerja dekat dengan keluarga dan bisa tiap saat ngumpul, hal-hal yang sudah sejak dulu aku kangenin banget!! Well, sehubungan dengan postingan resolusi tahun barumu, semoga bisa dimudahkan dan Aqila ‘n mama bisa bareng sm papanya tiap hari yaaaaaaaaaa….Gbu sayang2ku!

    Like

  3. Ikutan juga ya..
    Nama : Reni Kristina Sari
    Twitter : reyu4321
    IG : @sarireni

    Kalau versi #WhenMommiesTalk terfavorit adalah Mengajari anak tentang Toleransi , jujur saya juga sedang dalam masa mencapai misi untuk mengajarkan segala jenis santun semenjak dini, kalau Aqila 17 bulan, anak saya Hadzwa usianya 20 bulan, saya lupa mulai dari umur berapa saya mengenalkan tentang kesantunan dan toleransi, diumurnya yang sekarang dia sudah bisa mengerti tentang membuang sampah pada tempatnya , sudah bisa membedakan mana barangnya dan barang orang lain, sehingga dia tidak mudah merebut milik orang lain, seandainya itu terjadi, dia sangat mudah untuk diarahkan. Ya saya tertarik membaca tentang mengajari Toleransi menurut bunda Silva sebagai sumber referensi lain dan pengen tahu pengalaman orang lain cara mengajari toleransi, Semoga anak-anak kita tumbuh dengan sikap Toleransi yang baik ya bun.

    Like

  4. Mba silva ikutan yaaa,

    Nama: Novita Rosyida Hilmi
    Twitter: @cowvy
    IG: @novita_rosyida

    yang menarik bagi saya dalam #WhenMommiesTalk adalah Long Distance Marriage, kenapa? karena saya juga mengalaminya. Sebelum menikahpun sudah tahu konsekuensinya karena suami memang kerja di luar jawa (tepatnya Kalimantan Timur) dan saya masih harus kerja di Jakarta (bahkan bisa juga diluar Jakarta, teragntung project). Alhamdulillahnya, kadang suami ada dinas di Jakarta selama 2-3 hari selama sebulan.
    Saya sadar kalau memang banyak-banyak wanita tangguh yang bisa LDM-an sama suaminya, ternyata saya tidak “menderita” sendirian hehehe. Sayapun punya pengalaman menarik nih mbak tentang LDM, pernah ada yang nyeletuk karena saya posting dengan teman2 saya “Jalan-jalan terus gak ke suami, ga kangen suaminya po” pengen nangis dehhh. Mana istri yang enggak kangen suaminya? mana…
    Semoga para pejuang LDM bisa sesegera mungkin berkumpul ya Mbak, dan bersyukur sekali kalau yang memang sudah sama-sama suaminya sejak awal menikah.

    Cheerss for us, 🙂

    Like

  5. Mak Silva ikutan ya 😀
    Nama : Wuri Wulandari
    twitter : @wuriw_
    IG : @wuriw_

    Dari semua tajuk #WhenMommiesTalk yang paling bikin gemes, langsung nengok pengen klik yaitu ‘Bertemen Dengan Mantan Pasca Menikah’. Aku ini tipe orang yang baperan dan jelous. Sama banget sama yang di tulis Mak Silva. Aku berusaha untuk dewasa menyikapi semua hal-hal yang berbau mantan. Dan sama lagi kami berdua mempunya profesi yang sangat jauh, dan kemungkinan besar aku gak kenal dengan mantan-mantannya dan teman-temannya kecuali aku nya yang kepo parah hahahaha. Kalau pak suami, dia gak pernah nanya-nanya atau kepo, tapi sepertinya dia kepo nya diam-diam, tapi ya memang gak penah dia bahas mantan – mantan ku.

    Untuk saat ini aku cuma berteman dengan beberapa mantan di facebook, tapi ya gak penah kepoin juga. Lha wong udah gak ada perasaan apa-apa. Yang bikin jelous paling ya mantannya suami yang cantik -_- hikshikhiks.

    Like

  6. Bismillah
    Nama : Dwi Aprilytanti Handayani
    Twitter : @dwiaprily
    IG : @dwi.aprily
    Saya paling suka #WhenMommiesTalk mengenai Mengajari Anak tentang Toleransi. Sudah bukan rahasia lagi tentang kondisi negara kita yang seringkali ricuh karena saling serang opini, pendapat dan keyakinan. Banyak yang bilang masyarakat kita sudah kehilangan toleransi. Inilah yang perlu kita ajarkan kepada anak sejak dini. Tentang makna toleransi itu sendiri, tentang prakteknya toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Toleransi terhadap umat agama lain misalnya dengan cara menghormati perbedaan yang ada, memberikan kesempatan kepada mereka menjalankan syariat agamanya tanpa kita harus ikut-ikutan merayakan. Toleransi juga perlu diajarkan untuk mengasah empati dan simpati, misalnya toleransi saat memberikan mainan untuk dipinjamkan, sopan santun terhadap yang lebih tua dan welas asih terhadap hewan serta tumbuhan. Nah contoh paling mudah untuk anak-anak balita adalah mengajarkan toleransi ketika bermain bersama. Misalnya saling meminjamkan mainan, tak hanya saat meminjamkan tetapi kita juga harus mengajarkan anak untuk menjaga dengan baik barang yang dipinjamkan. Mengajarkan toleransi pada anak sejak dini akan membantu membentuk pribadi yang welas asih tetapi tetap disiplin dan tegas terhadap perilaku di luar batas kewajaran.

    Like

      1. huaaaao….

        saya paling memfavoritkan “saya dan ibu mertua”

        cukup menyentil dan ngena banget sih. cukup bikin sensitif dengan kata “mertua”, hahaha…. (padahal belum punya mertua, hehe. Adanya sih camer alias calon mertua).

        hmm, camer saya… orangnya baik… tapi mungkin sayanya yang kurang baik. Kurang baik di sini maksudnya kurang ramah, kurang pandai bertegur sapa. Sebenarnya saya tipe orang yang ramah sih, bisa mengajak ngobrol. Tapi hmm ini masalahnya… hmm… saya nggak bisa bahasa madura. Iya, mereka berbahasa madura. Jadi, kalau ngobrol pun, ya agak kaku, nggak seasyik sesama jawa maupun sesama madura.

        Mereka sempat tidak suka dengan saya, karena nggak ramah. Padahal ya karena saya nggak bisa berkomunikasi pake bahasa madura. Mereka bisa bahasa Indonesia, tapi ngomongnya kaku, jadinya terkesan berjarak. Tapi yaaa bagaimana…

        Untuk sejauh ini, saya masih berusaha mempelajari bahasa madura, sedikit-sedikit lah yaaa…

        Wuah, jadi curcol begini, hahaha…

        Perihal pengasuhan anak kepada mertua, hmmm… camer saya malah justru menawarkan diri, “biar kamu yang bekerja, saya yang ngurusin anaknya”.. Huuuu senang, tapi sedih juga siiih. Senang, bahwa camer saya sudah mulai bisa menerima saya. Sedih, karena saya ingin mengasuhnya… Wuaaaah, kalo yang ini begini mah, apa kata nanti. Saya selesaikan skripsi dulu sajalaaah… hahahaha…

        twitter: @rhoshandha
        ig: @rhoshandha
        blog: http://www.kakroos.com

        Like

  7. Salam kenal Mba Silva,

    Dari ke 14 blogpost #WhenMommiesTalk yang menjadi favorit saya yang “Berteman Dengan Mantan Pacar? Yay or Nay”.
    Rata-rata pasangan yang sudah menikah sudah benar-benar menutup komunikasi serta memutuskan tali sillaturahmi dengan Mantan pacarnya dulu termasuk pertemanan di media sosial, chat, dsb.
    Tapi disini diuraikan dengan sudut pandang yang berbeda. Beda karena memposisikan Mantan sebagai layaknya teman biasa cuma memang harus ada batasannya dan sewajarnya saja.
    Mba berhasil membuka fikiran kita sebagai Istri agar kita legowo menyikapi masa lalu bahwa yang sudah berlalu ya sudahlah, toh kita punya kehidupan yang lebih real sekarang bersama suami. Dan yang terpenting terbuka dengan suami, seperti yang Mba sarankan” Jangan sampai suami jadi salah paham karena tau belakangan. Justru minta pendapat suami duluan baiknya menurut dia gimana. Apapun yang disembunyiin dari suami, pasti ada apa-apanya sih kalau menurut saya”.
    Beruntung pemikiran suami mba dan mba sama-sama dewasa menyikapi Mantan pacar ini.
    Makasih uda sharing 😊

    IG : @Syarifani89
    Twitter : @Syarifanifunny
    Blog : http://www.keluargamulyana.wordpress.com

    Like

  8. Nama & GFC : Intan Novriza Kamala Sari
    Twitter & instagram : @inokari_

    Halo Mba Silva salam kenal. Ikutan giveawaynya ya 😀

    Dari semua seri #WhenMommiesTalk di blog Mba Silva, aku paling suka sama seri ‘Aqila 20 Tahun Lagi’. Suka deh bacanya, aku ngebayangin kalo sejak awal aku dapet pengertian yang begini juga dari orangtua, pasti indah banget. Aku gak perlu menjalani 4 tahun yang menyiksa di bangku kuliah karena jurusannya nggak aku banget.

    Padahal selama usia sekolah, orangtuaku juga bisa melihat kalo aku seringnya jadi utusan sekolah buat ikut lomba debat, pidato, ngeMC, story telling, dan sejenisnya. Harusnya udah bisa ditebak lah ya potensinya di mana. Tapi yang kemudian terjadi saat aku tamat SMA, aku disuruh (dipaksa tepatnya) masuk jurusan Pendidikan Fisika dong. Alasannya gak lain gak bukan karena Fisika ini peminatnya dikit, jadi kelak pas tes PNS, peluang lolos lebih gede. Haha.

    Yang ada kemudian aku stress sendiri, lalu sering bolos kuliah karena beneran ga paham lah itu sama yang dijelasin dosen. Untungnya aku mengalihkan rasa penat sama pelajaran ke hal-hal yang berguna juga, ikutan lomba debat kritis mahasiswa, ikutan banyak kegiatan mahasiswa, sampe akhirnya belajar siaran. Which is karena passion dan skill di bidang siaran ini, aku akhirnya ditawari sama radio milik pemerintah buat kerja dan berlanjut sampe sekarang. Sedangkan kuliahku? Tamat sih, dengan IPK 3 koma sediikiiiit. Hehe. Aku ga menyesali apa yang udah terjadi, tapi alangkah efisiennya kalo kemarin itu aku disupport buat kuliah di jurusan Komunikasi misalnya. Lebih sinkron sama kerjaan aku sekarang.

    Someday, kalo aku menikah dan punya anak, aku gak akan memaksa anakku buat jadi apa yang aku mau. Dia bebas mengeksplorasi minat dan bakatnya sendiri. Aku hanya akan mengenalkan, menganjurkan lalu membebaskan. Seperti yang Mba bilang, kalo udah memilih jangan setengah-setengah, harus maksimal, biar hasilnya juga maksimal. Hidup bersama passion yang kita miliki, adalah jenis kehidupan yang membawa kebahagiaan.

    Like

    1. Aku termasuk anak IPA yang justru ‘nyasar’ ke Komunikasi. hehe… Tapi ngerasa kesasarnya cuma tahun pertama aja.

      Tapi kamu hebat lho, nggak sesuai passion aja bisa lulus dengan hasil baik. Apalagi kalau sesuai passion yaa? Gapapa, nggak ada istilah terlambat buat ngejar cita-cita. Semangaaatttt 🙂

      Like

  9. Ikutan ya..
    Nama : Ade UFi
    Twitter : ummifikri
    IG : @ummifikri

    Saya suka #WhenMommiesTalk : Mengajari anak tentang Toleransi.
    Cara-cara yang mba silva ajarkan sama dengan yang saya ajarkan dengan Fikri. Saya selalu menanamkan bahwa tidak semua anak itu punya sifat dan kelakuan (bahasa benarnya karakter. Daripada Fikri tanya “karakter itu apa?” lebih baik pilih kata yang dia paham ^_^) yang sama. Tidak semua itu harus sesuai dengan keinginan kamu (Fikri). Perbedaan itu bukan untuk dijadikan musuh, melainkan untuk kamu (Fikri) pelajari apa yang harus kamu hadapi jika bertemu orang yang sama kelak. Saya suka dengan penerapan-penerapan yang diajarkan mba Silva ke Aqila. Sederhana, tapi mendalam maknanya. Sederhana, tapi bisa jadi bekal Aqila dan Fikri puluhan tahun mendatang.

    Hebaaat… Generasi PMP mengajarkan generasi PKn. xixixixi…

    Like

  10. Nama dan GFC : Aimatul Latifah
    Twitter: @Aim_La27
    IG: Aimatullatifah27

    Halo Mba Silva salam kenal. Ikutan giveawaynya ya 🙂

    Dari semua seri #WhenMommiesTalk di blog Mba Silva, aku paling suka postingan “Saya Belajar Dari Aqila”
    Membaca postingan ini, jadi ingat. Ah, terkadang manusia memang suka melupakan hal-hal yang kecil ya.. Suka gak peka, dan sering lupa kalau belajar itu bisa dari mana saja.
    Ada yang bilang “Belajar itu, ya di sekolah.”
    Ah, sebenarnya kita hanya kurang peka dengan sekitar. Kita? Tidak. Lebih tepatnya aku.
    Membaca postingan ini, jadi sadar juga. Bahwa anggapan belajar hanya di sekolah itu terpatahkan. Buktinya belajar bisa dari mana saja. Dari lingkungan, dari organisasi, bahkan dari anak-anak yang usianya jauh dibawah kita alias masih kecil, macam Aqila.
    Terkadang kita mah aneh. Yang tua selalu ingin dianggap benar, gak pernah salah, bahkan kalau diingatkan malah bilang “Apa sih, anak kecil?!”
    Apa itu aku? *Haha.. Iya, tapi gak sering kok. Suwer!
    So, dari postingan ini jadi tau. Sadar tidak sadar, aku sudah belajar juga. Bukan dari sekolah, tetapi dari postingan Mba Silva, juga dari Aqila.
    Aku kudu dan wajib instropeksi, dan belajar peka dengan ilmu yang tanpa sadar tersebar di lingkungan sekitar.
    Belajar ngeh. Ngeh dengan apapun. Termasuk ngeh dengan tingkah laku anak kecil walaupun terkadang memang mereka terlampau polos. 😀

    Like

  11. Nama: Leila Niwanda
    IG: @Leila_Niwanda, twitter: @LNiwanda
    Postingan favorit saya dari #whenmommiestalk versi mba Silva adalah tentang LDM. Pernah merasakan LDM dadakan di awal nikah ternyata tidak membuat saya betul-betul siap untuk episode berikutnya sekitar 9 tahun kemudian. Episode kedua setelah punya anak dua ini sekarang baru berjalan sekitar setengah tahun, dan baper-bapernya beda lagi dengan yang dulu hehehe. Sama seperti kata mba Silva, bring it on deh, jalani aja dulu sambil usaha biar bisa barengan, bismillah…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s