#WHENMOMMIESTALK : Realita Jadi Ibu

realita-jadi-ibu

Pada umumnya, setiap wanita akan mengalami fase menikah, jadi istri, lalu menjadi ibu. Ibu seperti apa sih yang ada di bayangan kalian? Apakah ibu yang di rumah dan mengurus rumah tangga sendiri? Atau ibu yang bekerja di luar rumah? Atau pokoknya pengen seperti seperti ibu kalian? Apapun itu, yang pasti jadi seorang ibu nggak cuma soal punya anak dan mengurus pekerjaan domestik rumah tangga. Lebih dari itu. Nggak percaya? Coba deh tanyakan ke diri sendiri, bagaimana kehidupan kita kalau nggak ada ibu?

Buat saya yang udah mulai tinggal jauh dari ibu sejak masuk kuliah (walaupun kalau libur kuliah tetep pulang sih), saya udah ngerasain banget begitu berartinya kehadiran ibu. Ya walaupun ibu saya agak cerewet, kalau nyuruh sesuatu nggak bisa cuma 3 atau 5 kali berucap, gampang panik, dan kekurangan lainnya, ternyata kalau nggak ada ibu, hidup kita terasa jauh lebih berat. Nggak ada yang bantu ingetin, nyiapin ini itu, tempat bersandar, dan orang yang ngertiin perasaan kita tanpa kita cerita panjang lebar. Apalagi awal-awal ngekos sendiri di perantauan. Huhu… Tiap weekend rasanya pengen pulang.

Itu awal-awal merantau. Lama-lama udah mulai kebiasa dan bisa survive jauh dari ibu, sampai akhirnya merasakan sendiri jadi ibu. Pandangan saya akan seorang ibu jadi berubah sejak saya merasakan sendiri jadi ibu. Dulu saya sering ngledekin ibu saya kalau dia lagi lebay terharu. Ibu saya cengeng. Anaknya ranking 1, dia nangis. Apalagi anaknya diejekin temennya atau dimarahin orang lain. Anaknya pamit merantau juga nangis. Lah ternyata sekarang menurun ke saya. Saya jadi lebih cengeng dan sentimentil sejak jadi ibu beneran. Mudah terharu, apalagi yang berkaitan soal anak-anak. Jadi ngerti gimana perasaan ibu saya.

Skill yang dibutuhkan untuk jadi ibu itu banyak. Mengatur keuangan, memasak, public relation, merawat orang sakit, dll. You name it lah… Agak udah kebayang di kepala saya sejak sebelum memutuskan untuk menikah. Saya ngerasa “okelah, saya siap”. Tapi ternyata bukan cuma itu. Ada hal-hal lain yang mesti saya kuasai, diantaranya:

  • Bagaimana berpendapat yang bijak dan nggak menyinggung perasaan orang yang lebih tua ketika “menceramahi” soal bagaimana mengurus anak versi jaman mereka dulu.
  • Bagaimana nggak ngerasa down ketika dokter ngomong “berat badan anak ibu kurang”.
  • Bagaimana nahan emosi buat nggak gaplok orang ketika ada yang ngomong “anak jaman sekarang pada nggak mau repot, maunya pada melahirkan cesar aja”.
  • Bagaimana nahan diri dan prasangka buruk untuk nggak membatin “kok anak saya gini ya, kok anak itu bisa gitu ya”. Ini saya ketampar juga sama tulisannya temen SMA saya, Shanti. Kita sebagai ibu nggak mau dibanding-bandingin, jadi janganlah banding-bandingin anak kita sama anak lain. Misal, maksain anak harus udah bisa jalan soalnya anak lain yang seumuran udah bisa jalan, padahal masih tergolong normal di tahapan tumbuh kembang anak. Nah lho… pernah mbatin juga nggak? Nggak kebayang gimana kalau dibalik posisinya, tiba-tiba anak kita bilang “kok ibu nggak kayak si ibu itu…” Aduh, patah hati berkeping-keping nggak sih….
  • dan banyak soft skill lainnya.

mom-and-daughter

Jadi ibu itu belajarnya seumur hidup. Tantangan tiap ibu juga beda-beda. Jadi nggak ada ibu mana yang lebih hebat. Semua ibu itu hebat, seenggaknya di mata anaknya. Jadi hargai semua ibu dan calon ibu, yaaa…

Selamat hari ibu! 🙂

Baca juga cerita Ayu soal kenyataan yang dihadapi saat menjadi ibu di sini.

signature-01

 

 

Author: Silva

A long distance wife, working mom, and breastfeeding mother who's eager to learn more about raising a kid. Live today with passion and plan tomorrow with mission. Contact: silva.fauziah@gmail.com

6 thoughts on “#WHENMOMMIESTALK : Realita Jadi Ibu”

  1. Ibu kamu kayak aku mbak. Saya juga cengeng banget..apa2 pasti air mata suka keluar..ini tadi habis ngobrol ama mama saya di telp..seperti biasa saya kangen dan menangis.. 🙂
    Salam buat ibunya ya mbak 🙂

    Like

    1. Tapi sekarang pas udah jadi ibu, saya juga makin cengeng Mba…
      Terima kasih, nanti disampaikan salamnya. Semoga ibu kita diberikan kesehatan yang baik yaa.. aamiin

      Like

  2. Terbayang bagaimana fase ibu adalah fase yang merepotkan dan butuh perjuangan. Tapi terbayang pula betapa hebatanya seorang ibu yang mengubah kerepotan tersebut menjadi sebuah kebahagiaan. Aku merantau dan membaca tulisan ini mendadak kangen ibu. 😥

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s