#WHENMOMMIESTALK : Mengajari Anak tentang Toleransi

whenmommiestalk-toleransiMumpung lagi anget-angetnya topik toleransi, Ayu ngajakin nulis soal toleransi di segmen #WHENMOMMIESTALK kali ini. Toleransi apa sih yang dimaksud? Kalau mengutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), toleransi adalah suatu sikap toleran yang artinya bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri.

Tepat hari ini Aqila usianya 17 bulan. Hmm, mungkin terdengar terlalu dini ya ngajarin tentang toleransi ke anak 17 bulan? Tapi nggak ada salahnya juga. Walaupun anak belum paham apa itu sebenernya toleransi, paling nggak kita bisa ngajarin mereka lewat cara-cara sederhana yang bisa mereka mengerti dan ikuti. Anak kecil itu pinter kok. Kita sadari atau nggak, mereka menyerap semua informasi yang ada di sekeliling mereka, disimpan, dan diproyeksikan dalam perilakunya ntah sekarang atau nanti.

kids-playingLalu gimana cara ngajarin tentang toleransi ke anak di bawah umur 2 tahun? Ini sebagian cara-cara sederhana yang saya lakukan:

  1. Mengenalkan banyak ragam perbedaan. Perbedaan apapun, baik itu benda mati maupun sesama makhluk hidup. Misal, ada boneka yang besar dan kecil, bola warna merah dan hijau, kucing warna coklat dan anjing warna putih, rambut Aqila yang pendek dan rambut Mba Siti yang panjang, dll. Gunanya buat apa? Ini sebagai pengertian dasar kalau perbedaan itu ada. Nggak semua hal itu sama. Dan nggak ada yang salah dengan semua perbedaan itu. *widih, berat amat buk :))
  2. Ajarin anak untuk menghargai perbedaan. Jadi kalau anak udah kenal ada banyak perbedaan, kita ajarin mereka untuk menghargai perbedaan yang ada dengan membiarkan perbedaan itu tetep ada. Nah lho gimana coba bahasanya… Haha… Misal nih, anak lagi mainan, terus ada anak lain lagi mainan yang sama dengan cara yang beda. Kita kasih pengertian aja ke anak kalau anak lain itu sukanya mainnya seperti itu, kamu seperti ini, nggak apa yang penting happy yaa…
  3. Ajarin anak untuk sabar dan menahan diri. Misal anak marah-marah karena dia minta sesuatu tapi kita lama akomodirnya. Beri pengertian secara halus seperti “sabar ya sayang, iya ini lagi dibukain tapi agak susah jadi tunggu dulu”. Walaupun si anak tetep emosional, biar aja… Memang lagi masanya begitu. Kita berusaha nggak kepancing sama emosinya anak. *bagian ini ngomongnya si gampang tapi prakteknya sulit bok, mesti punya stock sabar yang banyak
  4. Last but not least, kasih contoh wujud toleransi yang nyata. Jadi kita juga harus menghargai pilihan anak. Nggak memaksakan kehendak kita. Saya sendiri berusaha meposisikan Aqila adalah manusia yang punya hak dan kemauan sendiri juga. Sepanjang kemauan dan pilihannya nggak membahayakan dan nggak melanggar norma hukum, yaudahlah ya… Misal, kita pengen pergi berdua anak dengan baju yang matching. Tapi ternyata anak nggak mau dan memilih baju lain. Ya kita nggak boleh maksain kehendak kita. Mesti konsisten. Kalau kita aja nggak bisa ngasih contoh, teori nomor 1-3 tadi bakal mental sia-sia deh…

Gimana? Sebelum anak-anak kita dapet pelajaran PMP (Pelajaran Moral Pancasila) yang ntah nanti di jamannya bakal ada apa nggak di kurikulum, yuk kita mulai ‘nyicil’ ngajarin toleransi ke anak. Biar bumi ini makin damai dan layak huni.

Baca juga cerita Ayu tentang empati dan toleransi di sini.

Terima kasih sudah mampir ke blog saya. 🙂

signature-01

 

Author: Silva

A long distance wife, working mom, and breastfeeding mother who's eager to learn more about raising a kid. Live today with passion and plan tomorrow with mission. Contact: silva.fauziah@gmail.com

6 thoughts on “#WHENMOMMIESTALK : Mengajari Anak tentang Toleransi”

  1. udah bukan PMP lagi mba sil tapi PKN (pendidikan kewarganegaraan) sayang banyak murid yang menyepelekan pelajaran ini padahal penting banget

    Like

  2. Nive to read..Sil…

    Just share my experiences…

    Mgk tidak tepat juga pertimbangannya, tapi krn lokasi dekat rumah, KK sekolah di TK yg tidak harus satu keyakinan dan menerima siswa ABK (Anak Berkebutuhan Khusus). Smoga banyak hal positif yg bisa Nindy pelajari ya….

    Berbeda fisik dan non fisik dengan bbrp temannya…
    Berbeda cara berdoa dan beribadah dg bbrp temannya…
    Dan juga berbeda latar belakang keluarga (ada yg rumah temannya lumayan jauh, krn ada acata berkunjung ke rumah teman)

    Kadang malah Eci banyak belajar dari Nindy… ketika bercerita ini dan itu ttg pengalamannya di sekolah…ehehehehe…ketika banyak pertanyaa ttg perbedaan, kadang lebih mudah menjelaskan kpd Nindy.

    Kebetulan, secara garis keturunan, kerabat kami juga banyak yg berbeda. Mgk plus atau minus ya, tgt bgmn menyikapinya..

    Bismillah lah ya….berusaha yg terbaik utk anak anak kita… aamiin..

    Like

  3. nah ini tema kekinian mba, toleransi tak hanya melulu mengenalkan perbedaan tetapi juga harus menghargai persamaan. Bagaiman sebuah kesamaan (hobi misalnya) itu membawa kita untuk bertoleransi misalnya dengan saling meminjam barang dan mengikuti aturan sesuai kesepakatan. Sepakat untuk mengajarkannya sejak dini

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s