Generasi Sumbu Kompor yang Overreacting

Sebenernya saya udah berniat nggak mau publish statement apalagi blog post soal hal-hal terkait aksi 411 maupun aksi 212. Kenapa? Karena banyak netizen yang termasuk dalam generasi sumbu kompor. Ada istilah baru di teori generasi? Oh nggak kok, itu istilah spontan saya aja. Abisnya yang saya maksud generasi sumbu kompor ini nggak kenal umur. Bisa dari generasi baby boomers sampe generasi Z. Lalu apa sih yang dimaksud dengan generasi sumbu kompor? Adalah orang-orang yang sumbunya pendek macam sumbu kompor. Gampang disulut api, jadinya overreacting dalam menanggapi sesuatu atau bahkan banyak hal. Jujur, saya lelah ngelus dada, jadi saya beranikan diri aja publish di sini.

Yang Saya Lihat dari Aksi 212

Saya nggak mau bahas tentang aksi 411. Karena saat itu saya nggak liat langsung. Kalau yang aksi 212 saya liat langsung karena kebetulan kantor saya berlokasi deket Monas. Saya sengaja tetep berangkat ke kantor biar bisa liat aksi 212. Tapi karena beberapa alasan, saya memilih untuk nggak ikut serta dalam aksi 212. Apa berarti saya nggak mau bela Islam? tentu saja saya mau, tapi dengan cara yang berbeda. Saya nggak bilang cara mana yang lebih baik. Soal bela agama, saya suka tulisan Mas Iqbal Aji Daryono yang berjudul “Siapa Bilang Agama Tak Perlu Dibela?”

Saya masih dan akan terus belajar untuk jadi representasi yang baik untuk apa yang saya yakini (Islam).

Balik lagi ke aksi 212, saya juga suka tulisan Mba Windi di “Catatan Aksi Belas Islam 212”. Berimbang, nggak berat sebelah. Juga nggak berapi-api. Jadi adem bacanya. Seadem dan setakjub hati saya ketika melihat barisan shaf jamaah yang berjajar rapi memadati Jalan MH Thamrin, Jalan Kebon Sirih, Jalan Agus Salim, Jalan Medan Merdeka, dan jalanan lain sekitar Monas tanggal 2 Desember 2016.

foto aksi 212 dari jendela kantor saya
foto aksi 212 dari jendela kantor saya

Setelah Aksi 212

Terlepas dari ulah beberapa oknum yang saya liat sendiri kurang sejalan dengan niat mulia banyak oknum peserta aksi 212, saya salut dan bangga dengan aksi 212. Overall berjalan baik, nggak ada kekerasan, super damai dari awal sampai akhir. Jadi beneran aksi super damai 212. Thumbs up.

Hari ini saya sempet scrolling timeline twitter dan facebook. Lalu menemukan FB post yang menanggapi press release Sari Roti di bawah ini:

pers-sari-rotiSalah satu akun FB yang share dan menanggapi pertama kali membuat statement yang intinya “pemilik Sari Roti merasa keberatan brand usahanya menjadi bagian dari aksi 212″. Disusul dengan banyak comment reaktif dan provokatif yang berapi-api menghujat brand roti tersebut. Bahkan ada yang mau boikot dan usul untuk brand roti itu diharamkan. Oh come on…. Memang bahasa yang dipakai dalam release itu agak berbelit dan beleber ke mana-mana. Tapi saya nangkep sih maksudnya si public relation (PR) hanya untuk menyampaikan corporate statement, kalau mereka nggak terlibat dalam kegiatan politik, termasuk dengan aksi 212. IMHO, saya nggak nangkep kesan kalau brand itu nggak setuju atau kontra dengan aksi 212. Sama halnya dengan yang mereka coba bilang kalau mereka bukannya pro dan terlibat dalam aksi 212. Niatnya netral.

Tapi ini soal persepsi. Soal sudut pandang. Sah-sah aja kalau beda pendapat. Wajar, beda kepala pasti beda isinya. Tapi biar lebih adem, jangan lah terlalu reaktif dan berlebihan dalam menanggapi apapun. Biar nggak kayak sumbu kompor yang gampang disulut api. Jangan bersangka buruk dulu, tapi pelajari dan amati dulu. Cari kebenarannya, baru ambil sikap mau ada di sisi mana dengan tetep saling menghargai.

Aksi super damainya berlanjut pliiisss sampe seterusnya, termasuk di social media ataupun laman online lain. 🙂

Disclaimer:

Buat teman, saudara, ataupun rekanan saya yang beda pandangan dengan saya, monggo aja. Saya nggak ngerasa paling benar dan nggak mau memaksakan pendapat saya untuk dibenarkan. Apa yang saya tulis nggak mempengaruhi silaturahmi saya. Sekian, terima kasih.

signature-01

 

 

Author: Silva

A long distance wife, working mom, and breastfeeding mother who's eager to learn more about raising a kid. Live today with passion and plan tomorrow with mission. Contact: silva.fauziah@gmail.com

33 thoughts on “Generasi Sumbu Kompor yang Overreacting”

  1. Timeline saya penuh dengan sindir menyindir sejak ada gerakan-gerakan itu, Mbak.
    Yang bikin kadang kesel, entah ingin dibilang toleran atau apa, justru sesama muslim malah menghujat secara berlebihan aksi 212. Tapi, agak kecewa juga dengan teman-teman aksi super damai yang menjelek-jelekkan aksi 412. Bukannya justru malah jadi tidak damai, bukan?
    Susah sekali untuk diam sejenak, mengendalikan jari-jari tangan untuk mengetik sesuatu dan merasa paling benar. Eh, jangan-jangan aku komen begini juga karena merasa paling benar. Hehehe #ups

    Like

  2. hi mb salam kenal yah, dari sekian artikel yang nulis beberapa aksi kemarin yg kemudian jadi viral aku suka artikelnya mb silva karena ga terlalu panjang lebar dan banyak mengkritik tapi soft aja gitu, jujur aku mendukung walaupun memang tidak ikut serta di aksi 212 kemarin karena pada dasarnya Al Quran memang panutan semua muslim dan ga akan ada pula sebenarnya agama lain yang mau panutannya dihina apalagi di depan umum apalgi dilakukan oleh seseorang yg sedang menjabat pimpinan, tapi aku juga ga mau menghujat atau mengolok2 aksi atau statement yg tidak sejalan dg aksi 212 karena intinya mah sya sukanya sih adem ayem aja tp kan tiap orang punya pola pikir yg berbeda ya baik itu yg mendukung maupun yg tidak walaupun sesama muslim sekalipun.Please ya mba tetap salam damai karena akupun tak ingin dianggap paling benar sendiri.

    Like

  3. Baru sadar knp sepintas timeline penuh sama tulisan nyinyir soal sari roti. ternyata karena ini toh…maklum suka males baca timeline. Td sempet mikir kirain sari roti pakai bahan gak halal atau kadaluwarsa. wkwkwkwk

    Like

  4. Terkait roti SR ini, seyogyanya kita hormati klarifikasi mereka. Toh, dari poin pertama, mereka mengapresiasi aksi super damai 212 kan. Hanya sayangnya, banyak yang overreacting. Ya, beda orang beda sikap. Kalau terlalu baper memang reaksinya akan kemana-mana. 🙂

    Like

  5. Point besarnya adalah, please jangan gampang kena hasut, jangan murahan dengan persepsi, benar sekali – beda kepala beda isi. Tapi ya mbok yo pada menilik lagi, mana yang bisa dilogika dan jangan bawa perasaan terlalu jauh dari etika.
    Tidak ikut dalam aksi 212 dan sejenisnya bukan kita nggak beragama ISLAM, kita punya cara masing-masing dalam membela agama. Bagi yang ikut, ya memang cara itulah yang bisa mereka lakukan untuk membela ISLAM. Semoga semua selalu dalam kedamaian, bukankah ISLAM itu indah dan penuh kedamaian ?
    salam kenal mbak ^_^

    Like

  6. maunya saya nulis juga tentang ini mbak, tapi hati tidak sekuat baja hahaha .. takut malah nanti dibaca lain, eh jadi kena ITE lagi, but anyway setuju dengan sebutan “generasi sumbu kompor” .. awalnya yang mereka perjuangkan jadi gagal fokus gara-gara masalah “salah baca” .. Saya juga tidak ingin menyinggung tentang “tanggal keramat” itu .. tapi dibalik yang turun ke jalan, juga banyak orang-orang yang masih cinta Islam dan Indonesia, dan mereka punya cara sendiri untuk membelanya.. ahh semoga semuanya bisa terselesaikan dengan cepat dan tepat ya

    Like

  7. aku cuma bisa menatap lempeng sambil mbatin “opo meneh iki” tiap kali timeline penuh dgn aksi hujat menghujat from a to z, trus abis itu cuci mata di instagram

    btw aku share blogmu ini, penting

    Like

  8. aduhh aku beneran gak paham lagi seh sama orang2 reaktif dan baperan, wong cuma corporate statement kok ya baper sampa boikot2…kan kasian abang2 tukang roti yg tiap pagi ngayuh sepeda 😦

    mudah2an kita semua terhindar dari merasa benar sendiri dan mudah menjudge org lain

    btw kantor deket monas juga? bisa donk maksi-maksi bareng 😁😁😁

    Like

  9. Waduh Mbak, saya salah satu yang kesindir nih, karena kejadian-kejadian belakangan ini bikin sumbu saya memendek, tiap hari FB-comment war. Gimana donk? Hahaha. Saya setuju sekali sama Mbak, sebagai muslim saya juga berusaha menghargai mereka yang ingin membela agama saya. Sayangnya saya melihat kegiatan mereka yang kalau menurut pendapat pribadi saya dimulai dari unsur politis sebuah video editan, jadi seperti membuka jalan untuk kegiatan radikal lainnya. Kesannya kritikan, kita banyak maka kita menang. Bukan hanya di dunia nyata seperti yang baru saja terjadi di sabuga bandung, tapi juga di Social media dengan cara kasih komen dengan mention geng-nya lalu nanti semua anggota geng-nya ikutan bikin rusuh di status kita. Dan para radikal ini kok sepertinya punya sikap “kalau lu ga setuju sama gw, lu musuh gw”. Parahnya lagi kedua pihak baik yg mendukung atau anti sikapnya sama. Saya lihat banyak teman saya yang sejak awal berusaha netral malah belakangan ikutan panas karena mungkin merasa terjepit. Mudah-mudahan kondisi di Indonesia segera kembali damai ya Mbak. Saya percaya keributan antar etnis dan kepercayaan memang pasti akan selalu ada, tapi saya selalu berdoa biar sepertinya keadaan sekarang sangat menyesakkan buat semua orang, Indonesia tetap bersatu dengan dasar negara Bhinneka tunggal Ika.

    Like

    1. Iya Mba, semoga Indonesia aman damai yaa… Biasanya saya kalau ada di posisi kejepit/terdesak, saya tinggalin aja daripada keseret jadi generasi sumbu kompor. hehe

      Like

  10. akupun akhir2 ini lelah buka timeline, jadi aku seringnya buka buzzfeed parents. Aku membela agamaku dengan caraku, biarlah suami yang turun ke jalan kemarin dan aku membela agamaku dgn mendidik anakku scr benar aja, mengajarkan dia apa itu empati, toleransi di masyarakat Indonesia yang plural ini. Seyogyanya kita memang perlu tabayun dl atas segala informasi yg didapat. Kalau masalah si roti ini memang yaa beda kepala beda persepsi. Kemarin yang ada dipikiranku why PR-nya buat statement kayak gini? harusnya ya go with the flow aja, biarlah meredam dengan sendirinya toh jg brand awareness kpd si roti jd bagus kan. Tapi balik lagi mungkin ada beberapa investor yang menuntut pihak roti untuk membuat release kalau mereka ada dipihak netral hanya saja penyampaian bahasanya yang ngejelimet dan jd salah tafsir buat beberapa orang

    Like

      1. soalnya lagi sensitif banget mba dan memang ada beberapa oknum yg memanfaatkan situasi ini. Devide et impera kalo jaman londo dulu

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s