Prostitusi di Sekitar Kita

judul-prostitusiKalau mengutip istilah prostitusi dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), artinya:

prostitusi/pros·ti·tu·si/n pertukaran hubungan seksual dengan uang atau hadiah sebagai suatu transaksi perdagangan; pelacuran

Kalau mengacu ke arti prostitusi tersebut, nggak cuma tempat pelacuran atau lokalisasi yang bisa jadi arena prostitusi. Bisa di mana aja sepanjang ada hubungan seksual dan transaksi uang/hadiah. Dan di era canggih seperti sekarang ini, bahkan prostitusi bukan cuma di dunia nyata, tapi juga di dunia maya. Ngeri kan? Itulah kenapa saya bilang kalau prostitusi ada di sekitar kita.

Prostitusi Pinggir Rel Kereta

Berawal dari perjalanan saya pulang dari kantor menuju rumah lewat sepanjang rel kereta rute ke Bekasi. Namanya Jalan Bekasi Timur Raya lalu berlanjut ke Jalan I Gusti Ngurah Rai. Soal cerita Gang Doly di Surabaya dan Pasar Kembang di Yogyakarta, saya udah sering denger. Tapi cerita yang di Jakarta, saya masih awam dan memang nggak berniat nyari tau juga. Sampai saat saya melintas jalan di sekitar stasiun Cipinang, saya heran kok ada beberapa cewe berdandan sexy yang mangkal di pinggir jalan. Ada yang terlihat masih remaja, banyak juga yang keliatan ibu-ibu. Setelah saya tanyakan ke tukang ojek, ternyata mereka memang PSK (Pekerja Seks Komersial).

“Oh, terang-terangan banget ya di pinggir jalan yang bisa diliat siapapun yang lewat jalan ini”, batin saya.

Lama berlalu, kondisinya masih sama. Setiap hari di atas jam 18.00 WIB kalau saya lewat, pasti udah ada aja yang mangkal di pinggir jalan itu. Biasanya mereka menyebar. Mungkin selang sekitar beberapa meter ada lagi yang mangkal. Jadi nggak menggerombol. Kadang saya juga liat ada pengemudi motor yang nyamperin dan ntah mereka ngobrolin apa. Lama-lama saya jadi udah nggak heran lagi sama pemandangan ini.

Di suatu Jumat, saya pulang lebih malam dari biasanya. Selain karena baru keluar kantor sekitar jam 19.00, kebetulan jaringan kereta (KRL) juga lagi gangguan. Terpaksa agak lama tertahan di stasiun, nunggu kereta ke Bekasi. Kalau pulang kantor biasanya kereta yang saya naiki penuh banget. Boro-boro liat pemandangan di luar kereta, kadang ngeliat ke luar jendela aja nggak bisa. Kalaupun ngeliat, biasanya saya ngeliat ke arah Jalan Raya Bekasi Timur. Tapi kali ini saya ngeliat ke arah sebaliknya.

Setelah melintas stasiun Jatinegara, kereta melaju agak pelan, jadi saya bisa sambil ngeliat pemandangan di luar kereta dengan jelas. Waktu itu sekitar jam 21.00 WIB. Saya shock sama apa yang saya liat. Ternyata di pinggiran rel setelah stasiun Jatinegara banyak bilik remang-remang bahkan sebagian dihiasi lampu disko kelap-kelip warna-warni yang dijaga cewe-cewe berdandan sexy. Ada beberapa cowo juga sih saya liat di depan bilik-bilik itu. Ternyata bilik itu dijadikan arena prostitusi. Saya baru tau.

Penasaran, saya coba browsing soal prostitusi di daerah itu. Ternyata memang dari berita yang tayang online tahun 2013, itu udah bukan jadi rahasia ataupun hal baru. Di pemberitaan tahun 2013, disebutkan kalau daerah itu emang udah dikenal ada arena prostitusi sejak lama. Loh, berarti udah ada dari sebelum tahun 2013 dong? Iya emang, tapi saya sendiri juga nggak tau sejak kapan dan gimana penanganan yang berwenang atas itu.

Prostitusi Online

Itu baru yang cerita di dunia nyata. Terus yang di dunia maya atau prostitusi online? Mungkin udah pernah dengar ya makelar PSK yang menawarkan jasa secara online untuk pemesanannya lalu ketemuan secara offline di dunia nyata? Media online ternyata bukan cuma jadi pembuka jalan terjadinya prostitusi, tapi juga tempat terjadinya prostitusi itu sendiri.

Salah satu contoh yang mau saya ceritain di sini adalah aplikasi live streaming/chat seperti B***Live atau N***Live. Jadi itu mobile apps yang memungkinkan user-nya untuk live streaming kegiatan dia atau apapun yang mereka mau lah pokoknya… Terus nanti ada user lain yang nonton dan bisa interaksi langsung via chat selama live streaming berlangsung. User yang nonton juga bisa kasih gift ke user yang lagi live. Nah, somehow ntah kenapa profile picture yang live ini sengaja dipasang yang terlihat sexy. Lalu ketika live streaming juga ada muatan pornografi bahkan menjurus ke kegiatan seksual. Buat apa? Karena ternyata muatan yang kayak gitu yang banyak peminat. So, mereka yang live bisa dapet banyak gifts. Katanya sih gifts itu bisa diuangkan. Saya kurang tau juga sih…

See? Kalau balik lagi ke arti prostitusi menurut KBBI, itu bisa disebut prostitusi juga kan? Jawabannya, IYA. Dan sayangnya banyak diantara user akun live tersebut yang masih remaja. Mereka ntah sadar atau nggak sadar udah dimanfaatin sama penonton berotak kotor yang mancing-mancing supaya si user yang lagi live buat melakukan hal-hal nggak senonoh dengan imbalan gifts. Buat beberapa orang, mereka malah bangga ngelakuin itu semua. Asal banyak yang nonton, biar banyak yang kasih gifts. Seolah itu adalah sebuah pencapaian penting. *sigh*

Bukan berarti saya meremehkan kematangan berpikir beberapa orang lho ya… Saya yakin hal-hal yang saya  sebutkan di atas nggak cukup buat generalisasi golongan tertentu. Di luar itu semua, pasti banyak juga cerita positif yang bisa diambil. Tapi setidaknya, itu secuil yang saya temui dan cukup bikin saya prihatin. Apalagi saya punya anak cewe. Ini jadi challenge besar buat saya sebagai orang tuanya.

Buat pihak-pihak yang nggak berkenan dengan tulisan ini, saya mohon maaf ya… Saya nggak bermaksud membuka aib atau menyinggung siapapun. Ini hanya curahan hati saya yang gelisah sekaligus prihatin dan ingin berbagi cerita dengan pembaca blog saya.

Semoga berkenan 🙂

Disclaimer:

Tanpa bermaksud menodai arti kata sexy, terminologi sexy yang saya pakai di tulisan ini maksudnya penampilan yang buka-bukaan, memamerkan beberapa bagian tubuh supaya mengundang minat dari lawan jenis. Saya pakai kata sexy biar singkat aja. Saya setuju kalau sebenernya arti kata sexy bukan hanya itu.

signature-01

Author: Silva

A long distance wife, working mom, and breastfeeding mother who's eager to learn more about raising a kid. Live today with passion and plan tomorrow with mission. Contact: silva.fauziah@gmail.com

10 thoughts on “Prostitusi di Sekitar Kita”

  1. itu udah lama mba sil di daerah situ, mirisnya ada loh yang mau dibayar sama nasi bungkus atau sekedar minuman. Semoga generasi Arsyad dan Aqila bisa membawa perubahan yaaak *berat banget bahasannya 😀

    Like

  2. Di cipinang udah gak heran mbak, semenjak tinggal di daerah cipinang 7 thn yg lalu, aku jg kaget aig kok banyak cewek2 di pinggir jalan. Ternyaya itu… Padahal mangkalnya deoan LP ya, kenapa merek ga dirazia aja sih? Heran deh…. 😪
    Btw, salam kenal ya mbak 😊

    Like

  3. saya juga tinggal di bekasi dan baru tau adanya prostitusi pinggir rel itu mba, memang benar mba tantangan menjadi orang tua jaman sekarang lebih besar dengan kemudahan akses informasi yang terbuka lebar.

    Like

  4. Kalau aku ke Jakarta, aku suka makan di fast food daerah Pecenongan. Berangkat dari Kemayoran. Deket pecenongan juga ada tuh cewe-cewe yg sekentara itu ‘jualan’ nya. Tapi aku lupa nama jalan nya. Rasanya miris. Tapi juga prihatin dan iba *maaf kalau diksinya kurang pas* – Seberat apa hidupnya sampai decide untuk cari uang dengan cara itu. Akhirnya jadi semacam pelajaran buat ku bahwa aku harus bisa punya penghasilan/kemampuan cari uang juga, nggak cuman ngandelin Adit (suamiku). We never know kan. Siapa tahu besok Adit dipanggil Gusti mendahului aku saat Ubii dan Aiden masih piyik dan banyak kebutuhan tanpa meningggalkan apa-apa (secara finansial) untuk kami bertahan (karena jujur sih tabungan kami masih dikit hehehe). Jadi aku mau menghasilkan uang juga, walau ngga banyak, latihan nggak terlalu bergantung 100% sama Adit. Maaf jadi panjang. Aku selalu tergelitik sama bahasan ini. Sebenernya banyak yg bisa diceritakan. Dulu Adit saat kuliah pernah jadi volunteer di sebuah LSM Amerika yang membina anak-anak jalanan di Jogja. Banyak banget anak jalanan itu, masih kecil-kecil, tapi sudah ‘dipakai’. Saling mendoakan ya, Mba. Salam kenal. Makasih sudah mampir ke blog aku :*

    Like

    1. Iyaa Mba Gesi, daerah Pecenongan juga ada area ‘red district’ yang lumayan terkenal juga. Kasian ya… Pas saya kuliah di JOgja juga sempet ikutan project dari NGO terkait isu HIV/AIDS, tapi lebih ke komunitas PSK waria. Trenyuuh…
      Soal kita sebagai istri mesti berpenghasilan, setuju banget MBa… Kita harus siap dengan kondisi apapun nati ya… Tapi semoga keluarga kita selalu dilindungi dan diberkati Yang Maha Kuasa ya…

      Like

  5. beberapa kali kalo lewat malam2 di daerah kyk setiabudi belakang, aku jg srg nemuin cewe2 begini, dan beberpa banci.. miris ya mbak… apa segitunya mereka ga punya keahlian lain sampe hrs menjajakan diri…dengan murah pula… ga mungkin kan org2 begini dibayar mahal… maaf bukan menghina, tp penampilannya menrutku juga ga mengundang, ga seperti PSK yg high class dan dibayar mahal.. jd demi uang yg ga seberapa, kok rela ya :(.. tp ntahlah mbak.. aku ga bisa menjudge sembarangan juga,, mungkin mereka2 ini memang butuh uang dlm waktu cepet kali ya.. moga2 ga ada keluarga kita yg tersangkut hal2 begini juga

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s