#WHENMOMMIESTALK : Saya dan Ibu Mertua

judul-saya-dna-mertua

Ngomongin soal mertua, terutama ibu mertua, pasti udah bukan topik baru lagi di kalangan ibu-ibu muda, mungkin juga ibu senior. Hubungan antara menantu dan mertua ini krusial banget lho… Soalnya mertua kan orang tua kedua. Bukan cuma untuk jangka waktu satu atau dua tahun, tapi seterusnya. Saya banyak denger cerita warna-warna hubungan antara menantu perempuan dan ibu mertua. Ada yang lempeng-lempeng aja, ada yang nggak cocok, ada yang perang dingin, ada yang memilih menghindar, ada yang justru jadi BFF (Best Friend Forever), dan macem-macem lainnya. Lalu bagaimana hubungan saya dan mertua?

Dulu saya termasuk orang yang parno banget soal isu mertua ini. Saat punya pacar, saya observasi juga orang tuanya. Bukan observasi soal background keluarga sih, tapi lebih ke sikap orang tuanya. Welcome atau nggak, asik atau nggak, dan bagaimana interaksinya sama anaknya. Misal (ini cuma misal ya, bukan kejadian beneran) kalau dihadapkan pada situasi udah sayang sama pacar tapi orang tuanya “nggak asik”, rela deh nggak berlanjut ke pelaminan. Ekstrim yak :p Kenapa sih? Ya karena seperti yang saya bilang di awal, hubungan menantu dan mertua itu krusial banget. Bukan hanya berdampak ke hubungan dua orang atau dua keluarga aja. Panjaaaaang… Kita akan melahirkan cucunya dan seterusnya.

Alhamdulillah Tuhan menjawab doa saya. Saya diberikan mertua yang baik dan asik. Mereka sangat menghargai apa-apa saja yang sudah menjadi ranah atau otoritas saya dan suami. Tetap memberi pendapat, tapi nggak pernah maksa. Sifatnya hanya masukan aja. Keputusan apapun terkait urusan keluarga kami, ya kami yang menentukan. Mertua saya juga nggak suka bawel mengkritik saya yang masih banyak kurangnya ini. Teguran dan saran disampaikan dengan cara yang baik. Itulah yang membuat saya nyaman. Jadi ketika saya diharuskan oleh suami tinggal bersama mertua selama hamil namun saat itu suami bekerja di luar kota, saya nggak keberatan sama sekali. Malah keenakan berangkat kerja udah disiapin sarapan, pulang kerja tinggal makan, hehe… Haduh, mantu macam apa ya saya. Harap maklum, sebelum melahirkan saya memang belum punya asisten rumah tangga. Kan kasian yak kalau ibu hamil di rumah sendirian, ngapa-ngapain sendirian. Khawatir ada apa-apa, ngungsilah saya ke tempat mertua.

Setelah melahirkan dan kemudian punya asisten rumah tangga, saya kembali lagi ke rumah. Udah nggak sendiri lagi. Paling nggak punya dua temen. Tiga kalau lagi ada suami. Tapi ternyata saya tetep masih harus “ngerepotin” mertua saya, terutama ibu mertua. Iya, saya sangat membutuhkan ibu mertua saya untuk membantu saya menjaga Aqila selagi saya bekerja. Karena saya dan suami merasa lebih aman dan nyaman kalau ada orang tua kami yang menjaga Aqila walaupun udah ada Mba. Untungnya rumah kami berdekatan jadi ibu mertua saya bisa dengan mudah ikut mengawasi dan mengarahkan si Mba sekaligus back up buat jaga dan ngajak main Aqila. Ibu mertua saya sampai harus vakum dari mengajar di PAUD untuk jadi guru privatnya Aqila. Makasih ya Maa…

Nah, soal pengasuhan anak yang melibatkan ibu mertua juga sering dibumbui drama. Apalagi kalau masih tinggal serumah dengan mertua. Contohnya salah satu teman kantor saya yang anaknya diasuh oleh ibu mertuanya. Kebetulan mereka masih tinggal serumah. Dia kadang galau karena pola pengasuhan ibu mertuanya beda paham dengan apa yang dia inginkan berdasarkan belajar literatur kekinian dan sharing dengan ibu-ibu muda lainnya. Baik dalam hal newborn treatment, pemberian susu, makanan, dll. Kalimat sakti “jaman mama dulu begini… buktinya anak mama baik-baik aja sekarang” nampaknya udah sulit ditangkis walaupun kita udah punya jawaban ilmiah yang terkini. Mesti pinter-pinter juga kan nyampein ke ibu mertua supaya nggak tersinggung atau merasa diguruin sama ibu muda bau kencur. Tapi untungnya so far saya nggak pernah ngadepin masalah berarti soal penanganan anak. Ibu mertua saya cukup open minded dan mau menerima penjelasan dan preferensi saya. Dia menyadari kalau Aqila adalah hak saya, jadi untuk keputusan penting terkait Aqila, ibu mertua saya akan nanya dulu ke saya. Bahkan sebagai guru PAUD dan jamaah Elly Risman, kadang justru dia yang ngasih tau saya soal seminar parenting. Asik kan?

Lalu bagaimana cerita Ayu dan ibu mertuanya? Simak ceritanya di sini.

Terima kasih sudah menyimak cerita saya. 🙂

signature-01

Author: Silva

A long distance wife, working mom, and breastfeeding mother who's eager to learn more about raising a kid. Live today with passion and plan tomorrow with mission. Contact: silva.fauziah@gmail.com

7 thoughts on “#WHENMOMMIESTALK : Saya dan Ibu Mertua”

  1. Mb Silva, terkadang memang ada perbedaan pendapat tapi memang hal yang wajar kan kepalanya berbeda hehe jadi pasti ada pemikiran “ala mertua” sendiri tapi saya selalu yakin dibalik pendapat yang berbeda itu selalu ada niat baik dan sayang kepada anak, menantu dan juga cucunya 🙂

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s