Pelit Bikin Hidup Sulit

blog-pelit-bikin-sulitPernah nggak sih kalian sebel sama tukang ojeg yang pasang harga tinggi, yang menurut kita semena-mena? Atau sebel karena pas naik taksi dan ketika bayar si supir bilang nggak ada kembalian padahal dia belum cek sama sekali dompet atau kantong dia, apa iya benar-benar nggak ada kembalian? Saya sering banget ngalamin hal itu dan memang rasanya sebel banget. Ujung-ujungnya, berpengaruh ke mood saya setelahnya. Menguras energi dan emosi.

Saya merenung dan berpikir… Kalau saya terus-terusan sebel dan marah, untungnya buat saya apa ya? Toh, kalau terpaksa banget butuh jasa mereka, saya nggak ada pilihan lain selain merelakan uang lebih buat mereka (ini di luar dari case sudah adanya ojeg atau taksi online yang pembayarannya bisa cashless). Setelah itu apakah saya langsung jadi miskin? Nggak separah itu juga kan? Kemudian karena kita sebel, marah, justru bisa memicu respon negatif juga dari lawan bicara, dan situasi makin parah.

Lalu saya coba mengubah perilaku dan pemikiran saya. Daripada saya berdebat atau tawar-menawar sama tukang ojeg soal beda harga Rp 3.000,- yang sebenarnya nggak bikin saya seketika jatuh miskin, saya coba ikhlas dengan angka ekspektasi mereka. Hasilnya? Tukang ojeg senang, beberapa kadang berterima kasih dengan sangat, dan itu somehow memberikan dampak positif juga pada jiwa saya. Demikian juga soal case kembalian. Kalau nggak ikhlas ya lebih prepare dengan uang pas, kalau kepepet nggak ada uang pas dan nggak ada kembalian ya ikhlasin aja. Itung-itung sedekah.

Pernah juga seseorang dengan bangganya bercerita bisa menawar jasa/barang dari tukang ojeg atau tukang asongan, semurah-murahnya. Bahkan dia menyadari itu murah banget dan di bawah standart. Bisa jadi si tukang ojeg atau tukang asongan itu memilih terpaksa rugi daripada nggak dapet uang sama sekali hari itu kan? There’s nothing to be proud of, menurut saya. Udahlah…jujur sama diri sendiri soal kepantasan harga yang mestinya kita berikan. Ada kalanya kita ada di posisi si pemberi jasa atau barang.

“The more you give, the richer you feel.”

Saya setuju dengan wisdom quote itu. Sudah saya praktekkan. Nggak cuma urusan tarif ojeg atau kembalian, tapi untuk case lain yang kita temui sehari-hari. Misal, berbagi makanan dengan teman, memberikan suguhan yang terbaik, memberikan hadiah yang kita mampu, dsb. Serius deh, pelit itu bikin hidup kita makin sulit. Sebaliknya, ikhlas memberi sepanjang kita mampu itu bikin hati makin damai dan memberikan feedback positif untuk kita sendiri. Tapi bukan berarti royal dan tanpa perhitungan yaaa…

Kalian punya pandangan lain nggak soal itu? Feel free to comment below ya…. Terima kasih sudah mampir dan baca blog saya πŸ™‚

Author: Silva

A long distance wife, working mom, and breastfeeding mother who's eager to learn more about raising a kid. Live today with passion and plan tomorrow with mission. Contact: silva.fauziah@gmail.com

4 thoughts on “Pelit Bikin Hidup Sulit”

  1. Betul mbak, kenapa kita sering nawar ke pedagang kecil or pekerja seperti mereka, tapi kalo di resto kita mau bayar mahal πŸ™‚ saatnya merubah mindset .. berbagi itu indah .. salam kenal ya πŸ™‚

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s