Etika dan Tiga Kata Sakti

maaf tolong terima kasih
gambar diambil dari Google

Pastinya udah banyak yang share mengenai tiga kata sakti “maaf, tolong, terima kasih”. Buat saya sendiri, ini bukan cuma teori atau latah ikut-ikutan setuju dan share. Saya punya pengalaman pribadi soal ini.

Waktu tahun kedua saya kuliah (sekitar tahun 2006), saya (awalnya) iseng ikutan part time job sebagai garda depan (gardep) di Dagadu Djokdja. Siapa sih yang nggak tau Dagadu? Tapi udah pada tahu belum kalau seluruh frontliners-nya (gardep) adalah mahasiswa aktif di Yogyakarta? Iya, karena itu salah satu persyaratan melamar jadi gardep. Seleksinya pun puanjaaang… Keren kan kalau bisa masuk? ;P Not to mention walapun pada akhirnya saya sukses mangkir di hari pertama kerja karena salah lihat jadwal. *tepot jidat *eh semuka aja sekalian karena saking malu dan paniknya

Anyway, dari gardep itulah saya untuk pertama kalinya diajari dan belajar mengaplikasikan tiga kata sakti “maaf, tolong, terima kasih”. Setiap hari, setiap waktu, kepada siapapun. Dan ternyata itu jadi kebiasaaan yang nggak lepas dari saya sampai sekarang. Baik itu berinteraksi dengan keluarga, atasan, rekan kerja, teman, orang asing, tukang ojek, asisten di rumah, semuanya deh…

Tahun 2016. Pendidikan makin maju, mestinya peradaban juga makin maju. Peradaban sejalan dengan etika nggak sih? Karena ternyata sampai sekarang saya masih merasa patah hati sama etika (sebagian kecil) orang-orang di sekitar saya. Seperti contohnya ketika saya memberikan uang ke tukang ojek sembari bilang “terima kasih” namun si tukang ojek tak membalas ucapan terima aksih bahkan menerima uang dengan tangan kiri tanpa bilang maaf. Ini kisah nyata yang sering terjadi. Bisa juga sih karena bayaran saya kurang kali ya ke tukang ojeknya? Apa perlu saya bayar 100ribu untuk ongkos dari Stasiun Gondangdia ke Kebon Sirih yang berjarak tidak lebih dari 2 KM?

Oke, nggak usah berlarut-larut deh patah hati sama tukang ojegnya. Jangankan tukang ojek, orang yang saya kenal dan (saya nilai) berpendidikan aja masih suka bikin patah hati. Apa jadi buat saya kapok? NGGAK. Saya tetap pegang tiga kata sakti itu. Bukan soal respon mereka, tapi rasa bersalah saya. 🙂

 

Author: Silva

A long distance wife, working mom, and breastfeeding mother who's eager to learn more about raising a kid. Live today with passion and plan tomorrow with mission. Contact: silva.fauziah@gmail.com

2 thoughts on “Etika dan Tiga Kata Sakti”

  1. setujuuuu! emang 3 kata sakti wajib banget hukumnya kita pakai terus sampe anak cucu kita, semoga generasi aqila dan asryad tetap mempertahankannya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s