Uji Ketahanan Emosi

Belakangan saya disibukkan dengan project di kantor yang cukup menguras tenaga, pikiran, dan yang paling penting adalah emosi. Kenapa? Ya namanya juga bekerja di industri jasa yang sifatnya melayani kebutuhan transaksional khalayak ramai, harus berhadapan juga dengan beragam kebutuhan dan karakteristik banyak orang. Kebetulan untuk project ini saya ter-expose langsung. Semacam jadi contact person-nya contact center. Nah lho… #kusut

Sebagai contact person-nya contact center, tidak cuma berhubungan langsung dengan orang per orang (user) yang terlibat langsung dengan project ini, namun juga call center atau contact center lainnya pun mengeskalasikan hal-hal yang sudah tidak bisa ditangani oleh mereka. Bayangkan saja saya hampir tidak pernah berhenti menerima telepon, membalas pesan, email, bahkan hanya untuk 5 menit pun. Kecuali waktu saya sengajakan untuk ditinggal makan. Istirahat dulu lah.. Saya juga manusia biasa. :p

Menghadapi pertanyaan yang bertubi-tubi saja sudah melatih kesabaran, apalagi jika harus melayani keluhan ataupun user yang kita jelaskan susah paham apa yang kita jelaskan. Sayangnya mental saya tidak dipersiapkan untuk menjadi call center agent, karena sebenarnya bukan itu job description saya. Alhasil, kadang emosi saya juga muncul dan kesan galaknya pun muncul. Ya, memang basic-nya saya bukan orang yang kalau istilah Jawa-nya “dowo ususe” alias penyabar.

Sadar seberapapun tidak sabarnya saya tapi tetap harus ramah dan mencoba menyelesaikan setiap permasalahan, saya pun harus pandai-pandai menyiasati diri untuk mengendalikan emosi. Mungkin kadar dan cara mengendalikan emosi seseorang berbeda dengan yang lainnya, namun saya akan sedikit share bagaimana saya mengendalikan emosi saya sehingga saya tidak berubah menjadi Hulk. :p
1. Pastikan mood kita tetap terjaga. Kalau udah ngomongin soal mood, ya emang personal banget. Mood yang kita bawa dari rumah dan suasana di kantor sangat berpengaruh. Jadi pastikan mood kita baik dulu. Caranya? Ya setiap orang pasti memiliki cara masing-masing. Yang umum adalah berpikir positif atau memikirkan hal-hal yang menyenangkan.
2. Sediakan sesajen, terutama air putih. Jika mood kita sedang kacau, daripada pikiran terkonsentrasi pada email terakhir yang tidak enak dibaca apalagi dibalas, alihkan konsentrasi kita sebagian pada makanan dan minuman. Setidaknya kita akan sedikit disibukkan dengan hal lain. Hehe.. Tapi tetap produktif dan solutif dong ya pastinya.. Yang perlu diwaspadai adalah makan sesajen yang tidak disadari ini akan berpotensi mengurangi pesona kita, kalau terus kita jadi makin gendut. :p
3. Sesekali tarik napas panjang dan merilekskan badan. Boleh lah kalau sudah sangat penat jangan angkat telepon atau balas email dulu. Kasihan gagang teleponnya kalau sampe kemakan atau mungkin HPnya jadi ketelen gara-gara saking tidak bisanya menahan emosi. Bersandar di kursi, peluk bantal (kebetulan memang saya punya 2 bantal duduk), tarik napas panjang, dan buang.. Buang napas ya bukan bantalnya yang dibuang. Kalau perlu sambil memejamkan mata tapi jangan sampai ketiduran.
4. Selingi dengan hal-hal yang menyenangkan. Misal sesekali buka 9gag, bbm, twitter, atau hal lain yang bisa merefresh mood kita. Kalau mengerjai teman sebelah itu menyenangkan buat kita, lakukanlah. #loh
5. Buat yang muslim, bisa sih break dulu di waktu sholat. Ambil wudlu dan sholat biar emosi mereda. Agak dilamain sholatnya juga boleh, itung-itung biar menjauh dulu sama alat komunikasi yang tega membombardir kita seharian.
6. Rasa optimisme bahwa project akan segera berakhir lumayan membantu juga agar kita tidak cepat drop semangatnya. Ya setidaknya ada harapan lah kalau habis gelap terbitlah terang. 😀

Ya begitulah kira-kira beberapa yang telah saya lakukan demi menjaga kestabilan emosi dalam rangka menghadapi hajat hidup orang banyak. Kalau call center agent beneran sih biasanya punya nama ‘siar’ nya ya.. Bukan menggunakan nama asli. Sedangkan saya bertindak atas nama saya sendiri, jadi harus jaga reputasi pribadi juga selain reputasi instansi. Jadi ya…make it fun. Kalau perlu yang nelpon dibecandain aja sekali-sekali. Apalagi kalau lawan bicara ramah dan suaranya enak didengar. Hehe… Tapi jangan tertipu suara ya.. Walapun terdengar suaranya berat/nge-bass nan seksi, bisa jadi ternyata dia perempuan. Soalnya saya pernah diprotes juga manggil “pak” ke seorang ibu-ibu. Waspadalah! 😀

Author: Silva

A long distance wife, working mom, and breastfeeding mother who's eager to learn more about raising a kid. Live today with passion and plan tomorrow with mission. Contact: silva.fauziah@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s