Balik Kampung

Balik kampung ini bukan di balik sebuah kampung tapi kembali lagi jadi orang kampung ya.. Not to mention orang kampung baik atau buruk, tapi topik pulang kampung masih anget-angetnya gara-gara long weekend. Balik kampung tentunya adalah versi pulang kampungnya bahasa Jawa, terutama kampung saya berasal. Tanpa harus dirunut dari tempat saya dilahirkan sampai dibesarkan, mari kita sepakati bersama bahwa saya orang Jawa dan kampung saya di Kebumen. #loh #NgapakUnite

Suatu hari, eh lumayan sering sih, teman saya (baca : banyak teman saya) berkomentar “Kamu kok medhok (istilah untuk aksen Jawa yang kental-red) banget sih? :)) ”
Perasaan saya sudah tinggal di Jakarta lebih dari 2 tahun. Tapi ternyata nature-nya medhok/ngapak ya tetep aja keliatan. Ditambah lagi teman-teman kantor di group saya banyak yang dari Jawa juga ntah Jawa Tengah ataupun Jawa Timur. Jadilah ngantor di Jakarta ini serasa kerja di kantor kabupaten Kebumen. Ya gimana medhok-ku bakal ilang cobaaaa… Щ(ºДºщ)

Hari ini, untuk meluapkan kepenatan kerjaan yang bikin meja kantor acak-acakan, saya dan mba Ressa si teman satu kubikel yang asli Jogja mengalihkan pilihan bahasa ke bahasa Jawa “ngapak”.

Ibarat diskusi mengenai kontroversi konser Lady Gaga di televisi sore ini, mungkin akan jadi seperti ini… Presenter : “Menurutmu kepriwe nek Lady Gaga ora sida konser nang Jakarta?”
Kontra Lady Gaga : “Ya Lady Gaga pancene ora patut ditonton lah.. Lha wong ndeleng video klip-pe be wis kaya’ kuwe.. Getih-getihan, klambine ora nggenah mbarang pating pecotot nganah ngeneh. Nek cah saiki pada nontone penyanyi luar kabeh ya melas penyanyi lokal. Mengko lha sinden pada ora bisa mentas nyanyi maning”
Pro Lady Gaga : “Ya nangapa wingi konser Katy Perry ulih deneng saiki Lady Gaga ora ulih? Nek masalah ngregani karya lokal ya mesti ngregani lah.. Tapi kan ora terus ora ulih nonton konser penyanyi luar. Nek klambine pating pecotot sih penyanyi lokal be akeh.. Janjane mesti ana alasan liyane lah kenapa ora ulih. Paling ya ana politik-politike mesti.”

*nahan supaya masih sanggup nerusin*

Ya begitulah kira-kira yang dimaksud Jawa “ngapak”. Lebih mutakhir kalau mendengar sih daripada menulis :))
Buat yang bukan orang Jawa, mungkin mengenal bahasa “ngapak” ini dari film jaman dulu, salah satu tokoh di film Tuyul & Mba Yul..”Gagal maning gagal maning Son..”
Kalimat yang selelu muncul di penghujung episode, tiap kali duo tuyul gagal menangkap si Unyil. :))

Karena mungkin terdengar lucu bagi yang awam, bahasa Jawa “ngapak” ini sering dijadikan lelucon pada acara komedi. Bahkan seringkali sengaja disisipkan salah satu tokoh dengan aksen “ngapak” yang kuat pada tayangan/sketsa komedi. Iparto Gombong salah satu komedian yang populer dengan identitas ngapaknya itu. Ya Gombong itu bagian dari Kebumen juga. 😀
Kalau buat saya dan beberapa teman saya, bicara dengan bahasa Jawa “ngapak” cukup efektif untuk melampiaskan emosi. Lebih maksimal gitu.. Dan habis itu ketawa-ketawa bareng, geli dengernya sendiri. Haha… Cobalah! 😀

Author: Silva

A long distance wife, working mom, and breastfeeding mother who's eager to learn more about raising a kid. Live today with passion and plan tomorrow with mission. Contact: silva.fauziah@gmail.com

3 thoughts on “Balik Kampung”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s