Pengagum Rahasia

cerpen pengagum rahasia silvafauziah blog

Part #2

Biasanya aku enggan membawa banyak barang ketika bepergian karena menunggu bagasi di belt conveyor bandara itu lumayan lama dan kadang chaotic. Kali ini aku ingin mengulur waktu, tapi nggak ada alasan untuk menunggu bagasi. Waktu pun bergulir begitu cepat sejak aku menginjakkan kaki di Bandara Juanda.

Pikiranku kembali melayang-layang saat melihat banyak pasang mata yang gembira, optimis, penuh mimpi… Bagaimana ya bangganya orang tua mereka? Apa hal paling sulit yang mereka alami ketika memperjuangkan beasiswa? Akan jadi seperti apa mereka sepuluh tahun lagi?

Tak seberapa jauh dari tempatku duduk, aku melihat wajah yang kukenal, bersinar.

“Hei, Galih! Sini, duduk sebelah sini aja.” Ujarku pelan sambil melambaikan tangan.

Pria berambut lurus belah samping agak klimis itu membalas dengan anggukan. Senyumnya manis dihiasi lesung pipi. Ini yang bikin aku semangat kalau dapat tugas ke Surabaya, karena pasti keliling ke manapun ada yang nemenin. Guide kuliner lokal gratisan.

“Udah mulai dari tadi?” tanya Galih sambil nyodorin air mineral botol.

“Lumayan… On time tadi, sambutan Rektornya juga udah duluan di awal. Ini tinggal simbolisasi penyerahan beasiswanya aja. Kok tau sih aku lagi haus?”

“Tadi katanya nyampe langsung meeting dadakan? Sampe nggak sempet makan menu sarapan wajib ya? Belum makan dong?” tanyanya beruntun.

“Udah sempet makan roti tadi. Tapi tetep laper… temenin makan siang ya abis ini!”

“Makan siang, makan malam, ikutan sampe Jakarta juga ayo!” ledek Galih.

Nah, tiap kali jawaban begini ini yang bikin aku pusing kepala. Hati sedikit berbunga-bunga tapi nggak mau pembicaraan berlanjut. Nggak mau nyamannya jadi canggung.

“Haha… Gampangan banget sih, nggak asik.” Aku sedikit tertawa dan menyudahi pembicaraan ini agar nggak berlanjut serius.

Setelah makan siang, aku cuma sempat mampir kantor cabang yang ada di Surabaya dan langsung menuju ke Bandara Juanda lagi untuk kembali ke Jakarta. Flight aku masih jam 7 malam, tapi aku sengaja lebih awal datang ke bandara supaya bisa santai dulu. Kali ini aku nggak bertemu wajah yang familiar.

Sesampainya di Jakarta lagi, aku sudah nggak berdaya. Rasanya capek banget, jadi aku langsung bersiap untuk tidur. Tidur setelah badan capek itu bisa langsung pules, nggak inget mimpi apa nggak, tau-tau pas kebangun udah pagi aja. Untung ini libur Hari Buruh, jadi aku nggak harus buru-buru bersiap ngantor lagi. Aku buka notifikasi handphone yang langsung kutinggal tidur semalam, ramai. Dari sekian banyak pesan masuk, terselip satu dari nomor nggak dikenal.

Jingga, masih di Surabaya? – Rama

Rama? Kak Rama idolaku sejak jaman SMA? Dari mana bisa tau nomorku?

Jingga: Hai, Kak Rama… Nggak, semalam langsung balik Jakarta lagi. Kak Rama masih di Surabaya?

Rama: Oh, langsung pergi pulang… Iya, masih di Surabaya. Weekend ketemu di Jakarta, yuk?

Jingga: Sabtu atau Minggu?

Rama: Mana yang kamu bisa? Aku ikut aja, belum ada agenda weekend ini.

Jingga: Sabtu aja gimana?

Rama: Okay, sampai jumpa besok ya!

Kebayang nggak sih rasanya gimana? Excited banget tapi deg-degan! Mendadak jadi mengenang kelucuan masa-masa menjadi pengagum rahasia. Paling tak terlupakan adalah kekonyolan aku saat nyoba telepon ke rumahnya, lalu yang angkat pas dia sendiri. Langsung kaget dan matiin telepon setelah dengar kata “Halo”. Abis itu nggak ada nyali lagi buat telepon. Tapi nggak ada sedih-sedihnya walaupun hati bertepuk sebelah tangan. Lebih tepatnya nggak tau juga sih… Soalnya nggak pernah berani ngomong atau deketin beneran. Pengagum rahasia sejati.

Hari ini aku mau mengistirahatkan jiwa raga. Bersantai dan nggak pergi ke mana-mana. Menata hati, pikiran… nabung energi. Ketemu beberapa detik aja jantung ini berdebar macam abis sprint, apalagi seharian?

silvafauziah

 

Baca Part #1

Menulis Jurnal Harian Bukan Untuk Semua Orang

jurnal harian silvafauziah blog

Sudah #dirumahaja hari ke-61.

Sudah skip 8 hari dari #31HariMenulis.

Beberapa hari belakangan sudah merasa bosan, mood nggak karuan, bingung mau ngapain karena males juga mau ngapa-ngapain. Ada yang merasakan begitu juga?

Sempat ada harapan untuk bertahan karena Juni akan segera datang. Juni akan kembali normal. Perlahan pandemi ini akan hilang. Juni aku bisa pulang. Namun sekarang aku bimbang… Harapan sepertinya akan terbang meleset dari bayangan.

Harus mulai menata emosi lagi. Dulu kalau aku mau isi ulang baterai emosi, aku cenderung melakukan hal yang berkebalikan dengan hal keseharian yang aku suka dan lakukan. Misal, aku bisa impulsif pergi ke suatu tempat atau membeli sesuatu yang akan aku sesali setelahnya. Yang lebih minim risiko, aku akan makan makanan yang sudah ada di wishlist tapi belum kesampaian, makan dessert manis, minum kopi, atau mengalihkan perhatian ke menonton film.

Aku sering baca kalau menulis jurnal juga bisa dipakai terapi emosi. Terdengar keren dan produktif dibanding yang biasa aku lakukan. Maka akupun mencoba. Sebagai newbie, biar ada sedikit panduannya dalam menulis jurnal harian, aku memilih buku “The Mind-Body Peace Journal” karya Sandra E. Johnson. Jadi di dalam buku itu ada 366 quotes dan intro untuk mengantarkan kita mengenal emosi dan mengingat suatu memory terkait dengan quote tersebut, yang berbeda setiap harinya selama satu tahun.

the mind body peace journal

Apakah manjur? Oh, sayangnya nggak berhasil di aku. Apa memang menulis jurnal bukan untuk semua orang? Bukannya menjadi terapi, aku malah merasa terbebani harus membaca dan menulis sesuatu setiap harinya. Semacam tugas tambahan. Si Virgo yang nggak suka pending items tapi di sisi lain mood suka berubah dengan cepat ini jadi ngerasa gelisah kalau ada tugas yang belum diselesaikan. Ujung-ujungnya, aku malah frustrasi dan makin depresi. Membaca good quotes atau tulisan singkat yang mengena perasaan saat itu kadang membantu. Tapi tidak dengan menulis jurnal HARIAN. Aku menyerah.

Akhirnya, kamar tidur yang biasanya aku sakralkan dan tidak boleh ada makanan bahkan cemilan sekalipun masuk… Semalam aku ngemil kue kesukaan di dalam kamar sambil cekikikan sama anakku yang juga senang bukan kepalang karena boleh ikut makan di dalam kamar.

Salam manis dari kue ketapang.

silvafauziah

Nasi Goreng Yang Chow

nasi goreng yang chow silvafauziah blog

Siapa yang nggak pernah makan nasi goreng? Salah satu World’s Best Foods dari Indonesia, barengan sama rendang dan sate. Selain mie instant dan telur dadar/ceplok, nasi goreng ini juga nampaknya makanan yang paling sering dimakan dengan alasan kepraktisan. Di Indonesia sendiri, ragam olahan nasi goreng bisa jadi ada puluhan… Atau seratus lebih?

Perihal nasi goreng, aku pribadi lebih suka yang diolah tanpa kecap manis. Kalau kata Sol***a dan beberapa resto menyebutnya Nasi Goreng Singapura. Tapi setelah ditelaah dan dirasa-rasa, yang jadi favorit lidahku itu Nasi Goreng Yang Chow. Kalau Nasi Goreng Singapura itu versi agak pedesnya atau kadang ada sedikit bumbu karinya. CMIIW. Nasi Goreng Yang Chow ini gurih, bukan pedas manis seperti Nasi Goreng Kampung/Jawa favorit suamiku. Nah, berhubung kemarin masakin nasi goreng buat anakku, aku bisa explore resep masakan sekaligus doktrin nasi goreng tanpa kecap manis. 😀

Ini resep Nasi Goreng Yang Chow ala Silva:

Bahan-bahan:

  • 1 porsi nasi putih (ukuran sepiring orang dewasa)
  • 3 siung bawang putih, cincang halus
  • 1/2 bawang bombay (ragu nih, ukurannya siung apa buah/butir?)
  • wortel potong dadu kecil
  • jagung pipil
  • sosis potong kecil-kecil
  • telur, masak orak arik terlebih dahulu (kalau aku dipisah, bukan dimasukkin pas bareng nasi)
  • sedikit garam, kaldu jamur (Totole is the best)
  • bumbu cair yang dicampur: saus tiram, kecap Inggris, kecap asin, masing-masing 1/2 sdt

Cara memasak:

  • Tumis bawang bombay dengan margarin/minyak, disusul bawang putih. Lalu masukkan sosis, tumis sampai sosis matang.
  • Tambahkan sedikit garam, kaldu jamur, dan bumbu cair yang sudah dicampur.
  • Masukkan sayuran yang sebelumnya sudah direbus terpisah, nasi, dan telur yang sudah diorak arik.
  • Aduk-aduk sampai agak kering, siap disajikan.
tenor
diambil dari tenor.com

silvafauziah

 

 

 

Bahagia Tanpa Syarat

bahagia tanpa syarat silvafauziah blog

Akhirnya aku bisa melakukan salah satu bucket list aku dalam motherhood stuffs, nganter dan nungguin anak sekolah/les. Jam menjelang sore itu agak krusial. Pilihannya antara anak tidur siang dulu biar nggak ngantuk pas les, tapi resikonya bakal buru-buru kalau jam bangun meleset. Atau anak nggak pake tidur siang biar lebih gampang mengkondisikan berangkat les, tapi resikonya kalau anak ngantuk di kelas. Aku hampir selalu pilih opsi yang pertama.

Suatu hari aku menemukan kafe mungil yang sederhana namun menarik dan terasa hangat di gedung tempat les anakku. Sejak saat itu, kafe mungil yang berwarna dominan putih itu jadi tempat singgah aku sementara menunggu sesi les anakku selesai. Nggak banyak yang bisa aku lakukan selama kurang lebih satu jam. Matcha latte dan (kadang) carrot cake jadi teman favoritku di sana. Oh, barista dan server-nya juga cekatan dan murah senyum.

Setiap selesai kelas, Aqila selalu minta extra time untuk main-main dulu di mini playroom sebelum pulang. Di sana dia kadang bermain dengan teman sekelasnya atau teman kelas lain yang sedang menunggu masuk kelas. Jadi anak baru di lingkungan yang bahasanya bukan bahasa ibu itu nggak mudah. Tapi dengan kemampuan bahasa yang dia punya, Aqila termasuk percaya diri untuk menyapa, ngajak ngobrol, ngajak main teman lainnya. Kadang gayung bersambut tapi pernah juga cuma dilirik lalu diacuhkan. Nggak kapok, tetep dia senyam senyum mencoba ngajak ngobrol.

“Kalau kamu lagi ngajak ngobrol atau ngajak main teman, tapi terus dicuekin… perasaan kamu gimana?” tanya simbok yang patah hati, sedikit kecewa, dan hampir mimbik-mimbik (susah ini dijelaskan ke bahasa Indonesia yang baku).

“Ya nggak apa-apa.” Jawab anak umur 4 tahun dengan ceria.

Simbok membatin. “Kalau aku kok udah baik-baikin orang tapi dicuekin, jadi pengen diem aja besok-besok lagi.”

“Kamu nggak sedih?” memastikan perasaan si anak.

“Nggak.”

“Yaudah kalau gitu… Gapapa ya, kalau kakaknya cuekin kamu dan sibuk sendiri, mungkin dia lagi pengen main sendiri atau lagi nggak mood ngomong. Memang nggak perlu sedih… kan yang penting kamu happy karena nyapa teman-teman, bukan karena minta respon teman.” Simbok mencoba menata hati dan ngasih wejangan yang sebenarnya untuk dirinya sendiri.

Di lain kesempatan, saat sedang main dandan-dandanan di depan cermin.

“Aqila, kalau ada yang bisa kamu jelek, kamu gimana?” tanyaku penasaran sama responnya.

“Ya Aqila tanya gitu, jeleknya di mana. Apa Aqila sisir rambut lagi biar rapi, biar cantik…” jawabnya penuh senyum.

“Kalau tetep dibilang jelek?” simbok insecure kurang kerjaan.

“Ya nggak apa-apa, Aqila sisiran lagi aja terus…”

Duh… Dadaku menciut. Ternyata simbok masih perlu belajar, kalau:

  • kita berbuat baik karena kita ingin berbuat baik (untuk diri kita sendiri), nggak terpengaruh respon orang lain
  • kita dikritik, respon pertama bukan defensive atau denial, tapi koreksi/evaluasi diri.

Tetap tumbuh jadi anak yang bahagia dan membahagiakan ya, Nduk…

silvafauziah

29 Detik

cerpen blog silvafauziah

Part #1

Hari masih gelap tapi sorotan lampu dari mobil-mobil yang melintas sudah meramaikan jalanan aspal.

“Pagi… Terminal 3 ya Pak.”

*menghela nafas* Aku menatap jendela kaca, namun pikiranku jauh melayang ke kuah soto bening yang gurih, dengan suwiran ayam, tempe garit yang garing banget, sate telur puyuh… Panas, pedas, mantap. Sluuuurrrppp!

“Belum jam 5 tapi udah lumayan rame ya jalanan,” celetukku setelah khayalan soto di balik kaca buyar.

“Iya Mbak, soalnya hari Senin.” Sahut pengemudi taksi singkat sambil diselingi senyum ramah yang tersirat di raut mukanya, sisi kiri.

Aku meraih make up pouch yang ada di dalam tas, dan mulai berdandan. By the way, skill berdandan di jalan (maksudku di dalam kendaraan) nggak dimiliki semua wanita loh… Aku termasuk wanita terpilih yang bisa dandan lumayan rapi di dalam mobil bergerak dengan sedikit penerangan dari senter ponsel. Oh, tentunya tanpa pakai eyeliner. Jangankan di dalam mobil remang-remang, di depan meja rias pun aku nggak bisa pakai eyeliner rapi.

Sampai di Terminal 3 Ultimate Soekarno Hatta.

“Terima kasih ya Pak,” seraya menyodorkan uang ke pengemudi taksi.

Walaupun sudah dipulas make up supaya nampak segar, mataku masih terasa berat meski sudah tidur 5 jam. Pandanganku berkelana. Ada wanita paruh baya yang melintas, wangi dan rambutnya sudah tegak disasak. Bangun jam berapa ya kira-kira? Seorang bapak muda dengan sigap menggendong anaknya yang masih tidur, sementara istrinya melapor kepada petugas check in. Koper berwarna silver melintas, didorong seorang pemuda berbadan kurus, tinggi, pakai beanie hat…kuning? Banyak tempelan barcode penerbangan yang belum dilepas. Sampai bertumpuk-tumpuk, hampir memenuhi sisi koper. Pasti suka traveling!

Aku pandangi papan menu di sebuah coffee shop yang sebenarnya aku sudah berulang kali baca. Pun aku sudah tau pesananku tidak tertulis di papan menu itu.

“Silahkan pesanannya Kak,” sapa Mbak barista mungil yang sungguh cheerful.

Americano on the rock, pakai liquid cream 1 shot, simple syrup 2 pump ya.”

Aku mencari tempat duduk terdekat dan meletakkan 1 tote bag yang aku bawa ke salah satu kursi. Oh, dari tadi aku belum ngecek Whatsapp. Aku raih ponsel dalam handbag.

“Kak Jingga, americano on the rock!”

Sembari membaca sekilas rentetan chats di Whatsapp Group, aku berjalan menghampiri kopi pesananku. Langkahku terhenti, sepatuku bertemu kembarannya. Kenapa kalau ketemu orang pakai baju yang sama jadi keki tapi kalau ketemu orang pakai sneakers yang sama malah happy ya?

Kali ini bukan cuma langkahku yang terhenti. Jantungku juga terasa terhenti sesaat, disusul debaran yang begitu kencang. Lebih kencang dibanding saat melihat kakak kelas idola dribbling bola ke arahku (dan penonton lain di salah satu sisi lapangan), ataupun saat nggak sengaja ketemu mata pas lagi jalan ke ruang OSIS, 7 tahun lalu.

“Jingga?” sapa pria beralis tebal di hadapanku dengan tatapan mata yang familiar.

“Eh, Kak Rama… Mau ke mana?” Perlahan nafasku sudah mulai teratur walaupun pikiranku nggak.

“Mau ke Surabaya. Kamu?”

“Kayaknya kita bakalan satu pesawat.” Mencoba senyum biasa. “Aku ambil pesenanku dulu ya…”

“Okay, kalau gitu aku ke boarding room duluan ya.”

Berlalu gitu aja. Jingga, seriously? Jinggaaaaa!!! Suara hati ini menjerit, meratapi kesempatan emas yang sia-sia.

Masuk ke boarding room, aku tak menemukan sepatu itu lagi. Apa mungkin kebetulan akan berlanjut dengan ternyata kita bisa duduk bersebelahan? Ah, too good to be true… Kenyataannya aku tetap duduk di sisi jendela (as always), di sebelahku ada wanita berkemeja putih dengan outer rajut berwarna navy. Don’t even care about the world, dia langsung memejamkan mata setelah memakai sabuk pengamannya.

29 detik pertemuan singkat dua pasang sneakers putih.

silvafauziah